Kanker Paru Kini Serang Usia Produktif, Lakukan Deteksi Dini!
TIMES Jakarta/Dr. Tanujaa menjelaskan tentang penyakit, gejala dan deteksi dini kanker paru. (FOTO: Fahmi/TIMES Indonesia)

Kanker Paru Kini Serang Usia Produktif, Lakukan Deteksi Dini!

Kanker paru kini banyak menyerang usia produktif termasuk non-perokok. Pakar tekankan pentingnya deteksi dini dan kewaspadaan gejala awal.

TIMES Jakarta,Kamis 26 Februari 2026, 19:38 WIB
664
A
Ahmad Nuril Fahmi

JAKARTAPenyakit kanker paru sudah mulai menyerang usia 30-40 tahun termasuk yang bukan perokok. Pergeseran yang semula identik dengan kelompok lanjut usia, kini perubahan penyakit kanker paru menjadi lebih luas dalam lanskap penyakit kanker di Indonesia.

Dalam sebuah studi yang dilakukan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar sejak 2002 hingga 2019 lalu menunjukkan bahwa hampir 63 persen kasus kanker terjadi pada individu berusia 30–59 tahun. 

Melihat fenomena tersebut, Senior Consultant Medical Oncologist dari Parkway Cancer Centre (PCC) Dr. Tanujaa Rajasekaran menyoroti profil pasien kanker paru yang terus berubah serta mendesaknya kebutuhan deteksi dini. 

Dr. Tanujaa mengatakan meskipun merokok masih menjadi faktor risiko utama, pihaknya semakin sering menemukan pasien berusia lebih muda dan pasien yang tidak memiliki riwayat merokok. 

“Faktor risiko seperti perokok pasif, polusi udara, paparan di tempat kerja, serta faktor genetika adalah kontributor penting yang tidak boleh diabaikan,” ucapnya dalam media briefing bertajuk “Pergeseran Demografi Kanker di Indonesia: Kanker Paru pada Usia Produktif,” pada Kamis (26/2/2026). 

Ia menceritakan, salah satu kasus dialami oleh seorang profesional berusia 42 tahun, ayah dari dua anak, yang memeriksakan diri setelah mengalami batuk berkepanjangan yang tidak kunjung membaik. Sebagai seorang non-perokok dengan gaya hidup aktif, ia awalnya menganggap gejala tersebut sebagai gangguan pernapasan ringan. 

“Namun, pemeriksaan lanjutan kemudian mengungkap bahwa ia mengidap kanker paru non-sel kecil stadium IV, sebuah diagnosis yang sangat mengejutkan. Pengalamannya mencerminkan realitas bahwa kanker paru dapat menyerang siapa saja, termasuk mereka yang tidak masuk dalam profil risiko pada umumnya,” ceritanya. 

Pentingnya Deteksi Dini

Dr. Tanujaa menekankan pentingnya deteksi dini dan dukungan serta mengingatkan masyarakat bahwa kanker paru tidak memandang usia maupun latar belakang. Tantangan utama dalam penanganan kanker paru-paru adalah keterlambatan diagnosis. 

Menurutnya, gejala awal seperti batuk berkepanjangan, kelelahan, nyeri dada, atau sesak napas sering kali dianggap sebagai penyakit pernapasan biasa. Akibatnya, banyak pasien baru terdiagnosis pada stadium III atau IV, ketika pengobatan menjadi jauh lebih kompleks.

article
Infografis kanker di Indonesia. (FOTO: Fahmi/TIMES Indonesia)

“Deteksi dini secara signifikan meningkatkan hasil pengobatan. Ketika gejala berlangsung lebih dari beberapa minggu, hal tersebut tidak boleh diabaikan. Evaluasi tepat waktu dan skrining yang sesuai dapat memberikan perbedaan yang bermakna terhadap tingkat kelangsungan hidup dan kualitas hidup pasien,” ujarnya. 

Ia menjelaskan, selama dua dekade terakhir, pengobatan kanker paru telah bergeser dari pendekatan yang didominasi oleh kemoterapi menuju perawatan yang sangat terpersonalisasi. Saat ini, keputusan pengobatan didasarkan pada jenis, stadium, dan profil genetik kanker sehingga dokter dapat menyesuaikan terapi sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

Ia menerangkan, kemajuan seperti imunoterapi dan terapi radiasi proton telah meningkatkan hasil pengobatan secara signifikan. Imunoterapi memungkinkan sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang sel kanker, sementara terapi proton memberikan radiasi yang sangat presisi ke lokasi tumor sehingga meminimalkan kerusakan pada jaringan sehat di sekitarnya.

“Inovasi-inovasi ini tidak hanya meningkatkan kelangsungan hidup, tetapi juga mengurangi efek samping, sehingga banyak pasien, terutama mereka yang berada di usia produktif, dapat tetap menjalani aktivitas sehari-hari selama masa pengobatan,” katanya. 

“Pengobatan yang terpersonalisasi memungkinkan kami memilih terapi yang lebih efektif dan lebih dapat ditoleransi, khususnya bagi pasien di usia produktif yang harus menyeimbangkan pengobatan dengan tanggung jawab keluarga dan pekerjaan,” tandas Dr. Tanujaa. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Ahmad Nuril Fahmi
|
Editor:Ferry Agusta Satrio

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.