https://jakarta.times.co.id/
Opini

Sejarah Indonesia dalam 60 Detik

Kamis, 08 Januari 2026 - 12:10
Sejarah Indonesia dalam 60 Detik Dhahana Adi Pungkas, Akademisi, Pemerhati Sejarah dan Budaya Populer.

TIMES JAKARTA, JAKARTA – TikTok telah menjadi salah satu ruang utama konsumsi informasi bagi generasi muda, termasuk informasi sejarah. Peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Indonesia kini sering hadir dalam bentuk video berdurasi singkat (sekitar 60 detik), dikemas dengan visual menarik, musik dramatis, dan narasi yang lugas. 

Di satu sisi, fenomena ini membuat sejarah terasa lebih dekat dan mudah diakses. Di sisi lain, ia memunculkan persoalan serius terkait cara sejarah dibingkai dan dipahami.

Dalam konteks Indonesia, selama puluhan tahun, negara menjadi aktor utama dalam membingkai ingatan kolektif. Narasi sejarah resmi disalurkan melalui kurikulum pendidikan, buku pelajaran, film negara, dan peringatan nasional. Media sosial mengubah lanskap ini. Kini, siapa pun dapat menjadi “pencerita sejarah”. 

Akun-akun anonim maupun kreator populer membagikan versi alternatif, cerita lokal, atau sudut pandang yang sebelumnya terpinggirkan. Dengan kata lain, media sosial menyediakan “kerangka sosial” baru bagi ingatan sejarah Indonesia lebih cair, plural, dan sering kali saling bertabrakan.

Dalam studi media, framing merujuk pada cara suatu peristiwa disajikan sehingga membentuk cara audiens menafsirkan realitas. Di TikTok, framing sejarah hampir selalu menuntut penyederhanaan. 

Kompleksitas peristiwa latar sosial, perbedaan tafsir, hingga perdebatan akademik sering dipangkas agar sesuai dengan logika durasi dan algoritma. Akibatnya, sejarah lebih sering tampil sebagai cerita linear dengan pesan moral yang jelas, bukan sebagai proses panjang yang penuh ketegangan dan ambiguitas.

Algoritma TikTok bekerja dengan mengutamakan keterlibatan emosional. Konten yang memicu rasa bangga, marah, atau nostalgia cenderung lebih mudah viral. Kondisi ini mendorong kreator sejarah, sadar atau tidak, untuk menekankan aspek-aspek tertentu dan mengabaikan yang lain. 

Narasi kejayaan masa lalu, penindasan kolonial, atau pengkhianatan tokoh tertentu sering disajikan secara hitam-putih karena lebih efektif menarik perhatian dibandingkan penjelasan yang bernuansa.

Masalahnya bukan semata-mata pada ketidakakuratan fakta, melainkan pada terbentuknya kesan bahwa sejarah adalah sesuatu yang sudah selesai dan tidak perlu diperdebatkan. Video singkat dengan narasi meyakinkan dan visual kuat dapat menciptakan ilusi kebenaran tunggal. Penonton jarang diajak untuk mempertanyakan sumber, membandingkan versi, atau memahami konteks yang lebih luas.

Namun, melihat TikTok hanya sebagai sumber distorsi juga tidak sepenuhnya adil. Banyak kreator menggunakan platform ini sebagai pintu masuk edukasi. Mereka memperkenalkan istilah sejarah, tokoh, dan peristiwa yang sebelumnya terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, TikTok berfungsi sebagai pemantik minat, bukan pengganti buku atau kajian akademik.

Tantangannya terletak pada batas antara penyederhanaan dan penyimpangan. Ketika konteks dihilangkan sepenuhnya, sejarah berisiko direduksi menjadi mitos baru disesuaikan dengan kebutuhan identitas dan emosi masa kini. Sejarah lalu tidak lagi dipahami sebagai upaya memahami masa lalu, melainkan sebagai alat untuk membenarkan pandangan tertentu di masa sekarang.

Fenomena framing sejarah di TikTok menunjukkan bahwa literasi sejarah tidak cukup hanya dengan mengetahui “apa yang terjadi”. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk bertanya: siapa yang menyampaikan cerita ini, dari sudut pandang apa, dan untuk tujuan apa. Tanpa kesadaran tersebut, audiens mudah terjebak dalam narasi yang persuasif tetapi rapuh secara historis.

TikTok bukan ancaman atau solusi tunggal bagi pemahaman sejarah Indonesia. Ia adalah ruang baru dengan logika sendiri. Jika digunakan secara kritis baik oleh kreator maupun penonton platform ini dapat menjadi awal percakapan sejarah yang lebih luas. 

Namun tanpa sikap kritis, sejarah berisiko berhenti sebagai konten viral, bukan pengetahuan yang dipahami secara mendalam. TikTok bisa menjadi pintu masuk, bukan titik akhir. Ia dapat memantik rasa ingin tahu, tetapi pendalaman tetap perlu dilakukan di luar layar.

Sejarah Indonesia terlalu kaya untuk direduksi menjadi satu menit video. Di tengah banjir konten, tugas kita bukan hanya menonton, tetapi juga bertanya: cerita siapa yang sedang kita dengar, dan cerita siapa yang belum diberi ruang? (*)

***

*) Oleh : Dhahana Adi Pungkas, Akademisi, Pemerhati Sejarah dan Budaya Populer.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jakarta just now

Welcome to TIMES Jakarta

TIMES Jakarta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.