https://jakarta.times.co.id/
Berita

Tidur Lebih Lama di Akhir Pekan Dinilai Lindungi Kesehatan Mental Remaja

Sabtu, 10 Januari 2026 - 08:27
Tidur Lebih Lama di Akhir Pekan Dinilai Lindungi Kesehatan Mental Remaja ilustrasi Tidur (Foto: Freepik/pressfoto)

TIMES JAKARTA, JAKARTATidur lebih lama pada akhir pekan dinilai dapat membantu melindungi kesehatan mental remaja dan dewasa muda berusia 16 hingga 24 tahun. Temuan tersebut terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh University of Oregon bersama State University of New York Upstate Medical University.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu yang mengganti kekurangan waktu tidur pada hari sekolah dengan tidur lebih lama di akhir pekan memiliki risiko mengalami gejala depresi yang lebih rendah. Secara statistik, risiko tersebut tercatat turun hingga 41 persen dibandingkan mereka yang tidak mengejar waktu tidur di akhir pekan.

Temuan penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Journal of Affective Disorders. Studi tersebut menegaskan bahwa kebiasaan tidur tambahan di akhir pekan berkorelasi dengan kondisi kesehatan mental yang lebih baik pada kelompok usia 16 hingga 24 tahun.

Dikutip dari Science Daily, para peneliti mencatat bahwa banyak remaja mengalami kekurangan tidur pada hari sekolah. Kondisi ini dipicu oleh berbagai faktor, seperti tuntutan akademik, aktivitas sosial, kegiatan ekstrakurikuler, hingga pekerjaan paruh waktu.

“Remaja dianjurkan tidur delapan hingga sepuluh jam setiap malam, tetapi target itu sering kali sulit dicapai,” ujar psikolog Melynda Casement dari University of Oregon.

Menurut Casement, tidur lebih lama di akhir pekan dapat menjadi mekanisme kompensasi ketika kebutuhan tidur tidak terpenuhi pada hari sekolah, sehingga berpotensi mengurangi risiko munculnya gejala depresi.

Penelitian ini menggunakan data survei kesehatan nasional di Amerika Serikat periode 2021 hingga 2023, dengan responden berusia 16 hingga 24 tahun. Para responden diminta melaporkan durasi tidur mereka pada hari sekolah dan akhir pekan, serta kondisi emosional yang dialami.

Peneliti kemudian membandingkan perbedaan durasi tidur tersebut untuk mengidentifikasi kebiasaan mengganti waktu tidur. Responden dikategorikan memiliki gejala depresi apabila mengaku merasa sedih atau tertekan setiap hari.

Studi ini juga menyoroti perubahan ritme biologis pada masa remaja yang membuat mereka cenderung tidur lebih larut. Pola ini sering tidak selaras dengan jam masuk sekolah, sehingga meningkatkan risiko kurang tidur kronis.

Casement menambahkan bahwa depresi merupakan salah satu penyebab utama gangguan fungsi sehari-hari pada kelompok usia 16 hingga 24 tahun. Dampaknya dapat terlihat pada menurunnya kehadiran di sekolah atau tempat kerja, serta berkurangnya kemampuan menjalankan tanggung jawab harian.

Hasil penelitian ini memperkuat pentingnya perhatian terhadap pola tidur remaja sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan generasi muda.(*)

Pewarta : Imadudin Muhammad
Editor : Imadudin Muhammad
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jakarta just now

Welcome to TIMES Jakarta

TIMES Jakarta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.