BRIN Soroti Invasi AS ke Venezuela: Ancam Transisi Energi dan Perpanjang Ketergantungan Fosil Global South
Foto Dokumen: Turbin kincir angin pembangkit listrik digambarkan di taman angin di provinsi Bac Lieu, Vietnam, 8 Juli 2017. (FOTO: ANTARA/REUTERS/Kham/Foto Dokumen)

BRIN Soroti Invasi AS ke Venezuela: Ancam Transisi Energi dan Perpanjang Ketergantungan Fosil Global South

Peneliti BRIN ungkap invasi AS ke Venezuela & penguasaan cadangan minyaknya bisa tunda investasi energi terbarukan global. Analisis ini soroti dilema keadilan iklim dan risiko geopolitik bagi negara berkembang.

TIMES Jakarta,Senin 19 Januari 2026, 20:37 WIB
6.4K
A
Antara

JAKARTAPeneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti bahwa invasi Amerika Serikat ke Venezuela yang bertujuan menguasai cadangan minyak mentah terbesar dunia berpotensi menunda transisi energi global. Langkah ini dinilai dapat memperpanjang ketergantungan negara-negara berkembang pada bahan bakar fosil.

Peneliti Tata Kelola Iklim Pusat Riset Politik BRIN, Yogi Setya Permana, dalam pernyataan pers di Jakarta, Senin (19/1/2026), memaparkan analisisnya. Ia menjelaskan bahwa minyak murah dari Venezuela kerap menjadi jebakan kebijakan, tampak menguntungkan secara fiskal jangka pendek, namun justru meningkatkan kerentanan terhadap fluktuasi harga dan risiko geopolitik.

“Di satu sisi, negara maju menekan negara berkembang untuk segera meninggalkan energi fosil demi target iklim. Di sisi lain, energi fosil tetap diperlakukan sebagai aset strategis yang diamankan melalui manuver geopolitik,” ujar Yogi.

Lebih lanjut, ia mengaitkan langkah AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan rencana menguasai Greenland sebagai pemicu kekhawatiran serius terhadap komitmen keadilan iklim global, khususnya bagi negara-negara di Global South. Penguasaan cadangan minyak Venezuela yang mencapai lebih dari 300 miliar barel berpotensi menekan harga minyak dunia, yang pada gilirannya akan memperlambat investasi di sektor energi terbarukan.

Yogi menegaskan bahwa negara-negara berkembang yang kontribusi historis emisinya kecil justru akan menanggung konsekuensi paling berat. “Konsep loss and damage menegaskan dampak perubahan iklim kerap melampaui kapasitas adaptasi suatu negara,” jelasnya.

Situasi ini semakin mempertegas bahwa transisi energi tidak berlangsung di ruang netral, melainkan dipengaruhi oleh dinamika geopolitik yang kompleks. Yogi juga menyoroti kebijakan Presiden AS Donald Trump yang memerintahkan keluarnya AS dari 66 organisasi internasional, termasuk badan-bahan kunci seperti UNFCCC dan IPCC.

Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan pengurangan keterlibatan AS dalam negosiasi dan aksi iklim global. “Ini adalah situasi problematis ketika aktor besar menjauh dari institusi multilateral kunci seperti UNFCCC dan IPCC, tepat ketika perundingan iklim internasional, seperti COP ke-30 yang dideklarasikan sebagai COP of Truth,” pungkas Yogi. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Antara
|
Editor:Faizal R Arief

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.