https://jakarta.times.co.id/
Berita

4.700 Relawan Nakes Bantu Tangani Pascabencana di Sumatra dan Aceh

Senin, 12 Januari 2026 - 18:43
Ribuan Relawan Nakes Bantu Penanganan Bencana Sumatra dan Aceh Ilustrasi. Tim Relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Kemenkes hendak menaiki perahu untuk memberikan pelayanan kesehatan di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang. (Foto: ANTARA/HO - Kementerian Kesehatan)

TIMES JAKARTA, JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat penanganan medis pascabencana di wilayah Sumatra dan Aceh dengan mengerahkan ribuan tenaga kesehatan (nakes). Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan sejauh ini sudah ada lebih dari 4.700 tenaga kesehatan (nakes) relawan yang dikirim untuk membantu penanganan pascabencana di Sumatra.

Menkes menjelaskan bahwa para relawan tersebut berasal dari berbagai instansi, tidak hanya dari internal kementeriannya. "Dan ini macam-macam, bukan hanya dari Kemenkes saja. Kemenkes sendiri mungkin sudah hampir 700 dari 4.700 ini. Tapi mulai dari perguruan tinggi, organisasi profesi, organisasi sosial, beberapa organisasi internasional, yaitu lembaga-lembaga pemerintahan, itu semuanya rumah sakit-rumah sakit, itu juga mengirimkan tenaga-tenaga relawan," kata Menkes di Jakarta, Senin (12/1/2026).

Prioritas di Desa Terisolasi dan Pos Pengungsian

Kementerian Kesehatan bertugas mengatur distribusi para relawan agar layanan kesehatan menjangkau daerah-daerah tersulit. Fokus utama penempatan nakes saat ini adalah desa-desa yang masih terisolasi serta titik-titik pengungsian.

"Pos-pos pengungsiannya seribuan, data terakhir saya lihat, kalau desa terisolasi terakhir saya lihat seratusan, mungkin sekarang sudah turun," ujar Menkes.

Khusus di Aceh, tantangan yang dihadapi cukup berat karena banyak nakes setempat yang turut menjadi korban. Rumah-rumah nakes yang rusak atau hilang membuat mereka sulit bertugas secara maksimal. Oleh karena itu, pengiriman relawan dari luar daerah dalam jumlah besar dilakukan secara berkelanjutan melalui sistem rotasi.

"Itu kan mereka rotasi sekitar dua minggu sekali, setiap minggu itu mungkin ada sekitar 700-800 sampai seribu lah mungkin yang ada di sana, ya. Dan itu kan mesti berputar terus," tambahnya.

Kendala Transportasi Saat Nataru

Menkes juga memberikan klarifikasi terkait jalur keberangkatan relawan menuju Aceh yang sempat melewati Malaysia atau Medan. Menurutnya, akses menuju Aceh Tengah, Bener Meriah, Langkat, dan Tamiang memang jauh lebih efisien jika ditempuh melalui Medan daripada lewat Banda Aceh.

"Khusus yang ke Medan karena masuknya itu kalau untuk yang misalnya Bener Meriah, Langkat, kemudian Tamiang. Itu yang Aceh Tengah, itu masuknya dari Medan itu lebih dekat, lebih mudah masuknya dibandingkan masuknya dari Banda Aceh," tutur Menkes Budi.

Terkait kesulitan tiket yang sempat dialami para relawan, Menkes menjelaskan hal itu terjadi karena lonjakan penumpang saat periode Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kebijakan diskon tiket membuat banyak warga berlibur ke Medan sehingga kursi penerbangan penuh.

"Ini untuk para relawan-relawannya ada hanya tiket-tiket bisnis kelas yang mahal-mahal. Itu yang menyebabkan, jadi karena adanya banyaknya orang yang datang ke Medan pada saat Nataru itu terjadi," jelasnya. Namun, ia memastikan bahwa saat ini situasi sudah kembali normal dan mobilitas relawan menuju Medan kini sudah tidak lagi terkendala. (*)

Pewarta : Antara
Editor : Deasy Mayasari
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jakarta just now

Welcome to TIMES Jakarta

TIMES Jakarta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.