Kemendukbangga Jabar: 191 Ribu Keluarga Belum Punya Air Layak
Kepala Perwakilan Kemendukbangga Jawa Barat Dadi memberikan keterangan persnya pada peserta UKW LKBN Antara. (FOTO: Fahmi/TIMES Indonesia)

Kemendukbangga Jabar: 191 Ribu Keluarga Belum Punya Air Layak

Kemendukbangga Jabar ungkap 191 ribu keluarga belum punya air layak. Dadi Ahmad dorong kolaborasi lintas sektor untuk tekan angka stunting di Jawa Barat.

TIMES Jakarta,Selasa 4 November 2025, 16:53 WIB
7.9K
A
Ahmad Nuril Fahmi

BANDUNGKepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) Provinsi Jawa Barat (Jabar), Dadi Ahmad Roswandi, menyoroti persoalan serius terkait sanitasi dan akses air layak yang masih menjadi hambatan utama dalam upaya menurunkan angka stunting di wilayahnya.

Dalam konferensi pers yang digelar di sela kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) LKBN Antara di Kota Bandung, Dadi menegaskan bahwa penyebab stunting bukan hanya karena kekurangan gizi kronis, tetapi juga erat kaitannya dengan kondisi lingkungan dan sanitasi yang tidak memadai.

“Di Jawa Barat ada sekitar 191 ribu keluarga yang tidak memiliki sumber air layak. Padahal, banyak perusahaan air dalam kemasan mengambil air dari wilayah ini,” ujar Dadi Ahmad, Selasa (4/11/2025).

Menurutnya, masih banyak warga Jawa Barat yang masih minum air tidak layak dan harus ambil dari sungai terlebih dahulu atau sumur yang masih terbuka.

”Ini luar biasa masalah sanitasi di Jawa Barat. Masih ada 903 ribu keluarga yang tidak punya jamban yang layak. Bayangkan Ibu hamil, tidak punya jamban, kalau dia mau buang air atau mau apa pada malam-malam harus keluar jalan dulu dan ini jadi ini perhatian besar bagi kita,” ujarnya.

Dadi menjelaskan dengan berkolaborasi baik dari Kemendukbangga dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian/Lembaga terkait, pengusaha, termasuk media dapat menurunkan angka stunting.

Ia mengungkapkan dalam mendorong penurunan stunting dilakukan sejumlah program yang masuk dalam quick win BKKBN diantaranya GENTING (Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting), program orang tua asuh untuk mencegah stunting.

“Ini terinspirasi dengan GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) jaman orde baru. Nah kita berpikir ya, semuanya harus berkolaborasi. Dengan pendekatan penthahelix, teman-teman media bisa gabung, akademisi bisa gabung menjadi orang tua asuh,” ungkapnya.

Dadi menerangkan menjadi orang tua asuh tidak melulu soal uang tetapi juga bisa membantu mengedukasi dan mempromosikan agar stunting dapat dicegah. “Jadi kita menggarap semuanya,” tandasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Ahmad Nuril Fahmi
|
Editor:Ferry Agusta Satrio

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.