https://jakarta.times.co.id/
Berita

Diklat PPIH Semi Militer, Wamenhaj: Bangun Kekompakan dan Budaya Layanan Prima

Sabtu, 17 Januari 2026 - 15:22
Diklat PPIH Semi Militer, Wamenhaj: Bangun Kekompakan dan Budaya Layanan Prima Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak saat apel pagi gabungan Diklat PPIH Arab Saudi di Asrama Haji Jakarta. (FOTO: Fahmi/TIMES Indonesia)

TIMES JAKARTA, JAKARTA – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak menilai pelaksanaan Diklat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026 dengan pendekatan semi militer justru menghadirkan kegembiraan, kekompakan, dan semangat kebersamaan di kalangan peserta. Hal tersebut dirasakan setelah para PPIH menjalani rangkaian diklat intensif selama sepekan.

Penilaian itu disampaikan Wamenhaj saat memberikan arahan dalam apel pagi usai kegiatan fun walk di Asrama Haji, Sabtu (17/1/2026).

Menurutnya, pendekatan semi militer tidak bertentangan dengan nilai humanisme, bahkan memperkuat solidaritas dan kepedulian antarpeserta dalam menjalankan tugas pelayanan.

“Humanisme para fasilitator dari unsur TNI dan Polri sangat luar biasa. Mereka mampu menakar kemampuan setiap peserta, memahami bahwa stamina dan kekuatan fisik tidak sama. Ini sekaligus mematahkan stigma bahwa pola semi militer itu kaku dan tidak humanis,” ujar Wamenhaj.

Dahnil-Anzar-Simanjuntak-b.jpg

Wamenhaj menegaskan bahwa kekompakan dan kedisiplinan yang dibangun selama diklat menjadi fondasi penting dalam mewujudkan layanan haji yang berkualitas. PPIH adalah garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan jemaah, sehingga harus memiliki empati, kesiapan fisik, serta kepekaan terhadap kebutuhan jemaah yang beragam.

Dalam konteks itu, Wamenhaj juga menekankan pentingnya penguatan layanan Haji Ramah Perempuan, mengingat mayoritas jemaah haji Indonesia adalah perempuan dengan kebutuhan layanan yang spesifik.

“Jumlah jemaah perempuan sangat besar, dan syariat ibadahnya memiliki perbedaan dengan laki-laki. Karena itu, PPIH harus memahami fiqh ibadah perempuan, menjaga kenyamanan, privasi, serta memberikan pendampingan yang lebih sensitif dan berperspektif layanan,” tegasnya.

Menurut Wamenhaj, pendekatan ramah perempuan merupakan bagian dari pelayanan humanis yang harus tertanam dalam karakter setiap petugas. Layanan yang baik bukan hanya soal kecepatan dan ketepatan, tetapi juga soal empati dan pemahaman terhadap kondisi jemaah.

Lebih lanjut, Wamenhaj berharap kebiasaan baik yang dibangun selama diklat dapat terus dijaga hingga para petugas menyelesaikan masa pembinaan di Asrama Haji, bahkan saat bertugas di lapangan nanti.

“Mulai minggu ini dan sampai keluar dari Asrama Haji, saya harap PPIH membina kebiasaan baru untuk mendisiplinkan diri. Perubahan besar dalam penyelenggaraan haji harus dimulai dari perubahan pribadi para petugas, menjadi pribadi yang baru dan lebih siap melayani,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kebugaran fisik sebagai bagian dari kesiapan layanan. Olahraga diharapkan menjadi rutinitas harian para petugas.

“Setiap hari minimal harus berjalan kaki atau berlari. Kita ingin memberikan yang terbaik dalam menunaikan amanah dari Allah SWT, dari jemaah, dan dari negara,” pungkas Wamenhaj.

Melalui pembinaan yang menyeluruh, Kementerian Haji dan Umrah berkomitmen menyiapkan PPIH yang tangguh secara fisik, matang secara mental, humanis dalam pendekatan, serta berorientasi pada layanan inklusif dan berkeadilan, termasuk melalui penguatan Haji Ramah Perempuan demi penyelenggaraan ibadah haji yang semakin berkualitas.

Peserta diklat ini berasal dari berbagai unsur, diantaranya ASN Kemenhaj, ASN Kemenag, Ormas Islam, Tenaga Kesehatan, TNI, Polri dan Umum.(*)

Pewarta : Ahmad Nuril Fahmi
Editor : Imadudin Muhammad
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jakarta just now

Welcome to TIMES Jakarta

TIMES Jakarta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.