Di Balik Perang Iran, Gema Sorot Tekanan IHSG dan Peluang Emas
TIMES Jakarta/Gema Goeyardi, CEO dan Founder Astronacci International, menunjukkan pergerakan perdagangan saham. (FOTO: Astronacci for TIMES Indonesia)

Di Balik Perang Iran, Gema Sorot Tekanan IHSG dan Peluang Emas

Gema Goeyardi menilai eskalasi AS–Iran bagian dari strategi menekan China lewat energi. Minyak dan emas melonjak, IHSG tertekan, saham energi jadi benteng defensif.

TIMES Jakarta,Kamis 5 Maret 2026, 21:26 WIB
541
H
Hendarmono Al Sidarto

JAKARTAPada 1 Maret 2026, dunia dikejutkan oleh eskalasi militer antara Amerika Serikat–Israel dan Iran. Namun bagi Gema Goeyardi, CEO dan Founder Astronacci International, peristiwa ini tak bisa dibaca semata sebagai konflik regional Timur Tengah.Di balik dentuman rudal dan ketegangan diplomatik, tersimpan agenda geopolitik yang jauh lebih besar: pertarungan Amerika Serikat untuk membatasi pengaruh China dalam peta energi global. Iran, dalam perspektif ini, hanyalah simpul strategis. Energi adalah instrumennya, dan dominasi global adalah taruhannya, serta bagaimana pengaruhnya pada IHSG.

Gema mengatakan, kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan tersebut menjadi sorotan utama media internasional. Serangan balasan Iran ke wilayah strategis Israel dan pangkalan militer Amerika, serta keputusan menutup Selat Hormuz, langsung memicu lonjakan harga minyak dan mengguncang pasar global.

Namun, menurut Gema, fokus sejatinya bukan pada siapa menyerang siapa, melainkan pada dampak strategis yang ditimbulkan.

“Selat Hormuz adalah jalur distribusi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Gangguan sekecil apa pun langsung mengguncang harga dan stabilitas ekonomi global," ujar Gema, dalam keterangannya, Kamis (5/3/2026).

Ia menambahkan, Iran bukan sekadar negara yang diserang, tetapi juga salah satu pemasok energi utama China. Sekitar 89% ekspor minyak Iran mengalir ke China.

"Dengan melemahkan Iran dan mengganggu suplai energinya, Amerika secara efektif menekan denyut energi ekonomi China,” kata .

Menurutnya, inilah inti permainan besar tersebut. Amerika tidak sedang berperang melawan agama ataupun rakyat Iran, melainkan menjalankan strategi geopolitik tingkat tinggi untuk membatasi ruang gerak China dalam rantai pasok energi dunia. Melemahkan Iran berarti membuka peluang mengatur ulang arus minyak global agar lebih terkendali dalam orbit pengaruh Amerika. Narasi “pembebasan dari tirani” menjadi legitimasi moral di permukaan, sementara kepentingan energi tetap menjadi fondasi utamanya.

Sejak akhir 2025, Iran memang dilanda gelombang protes besar terkait dugaan pelanggaran HAM dan pembatasan kebebasan sipil. Dalam satu sisi, perubahan politik bisa menjadi momentum bagi rakyat Iran. Namun dalam kerangka geopolitik, kondisi tersebut juga membuka ruang bagi Amerika untuk memperkuat pijakan strategisnya dalam mengamankan kepentingan energi. Di sinilah, menurut Gema, muncul apa yang disebut sebagai “win-win solution” versi Amerika: Iran berpeluang mengalami perubahan politik, sementara Amerika mengamankan kendali atas jalur distribusi energi global.

Sejarah mencatat, intervensi Amerika kerap bersinggungan dengan negara-negara yang memiliki cadangan energi besar. Venezuela dan Iran termasuk dalam jajaran pemilik cadangan minyak terbesar dunia. Isu HAM dan stabilitas sering menjadi pintu masuk diplomatik, tetapi variabel energi dan pengaruh geopolitik hampir selalu menjadi faktor penentu.

Implikasinya terhadap pasar keuangan pun sangat terasa. Minyak dan emas menjadi aset pertama yang bereaksi. Ancaman gangguan pasokan mendorong harga minyak melonjak, sementara emas kembali menguat sebagai safe haven di tengah ketidakpastian global.

“Volatilitas bukan lagi risiko tambahan, melainkan karakter utama pasar dalam fase seperti ini,” jelas Gema.

Di pasar domestik, IHSG berpotensi mengalami tekanan jangka pendek akibat sentimen risk-off dan potensi capital outflow. Meski demikian, sektor energi dan pertambangan emas dinilai dapat menjadi benteng defensif. Strategi akumulasi pada saham berbasis emas dan energi menjadi relevan dalam menghadapi dinamika global saat ini. Rekomendasi beli pada emiten emas seperti ANTM dan ARCI sebelumnya telah disampaikan sebagai bagian dari positioning defensif terhadap eskalasi geopolitik.

Bagi Gema, membaca konflik ini secara dangkal hanya akan menghasilkan narasi perang Iran–Israel. Namun jika dilihat secara strategis, ini adalah babak baru dalam rivalitas Amerika dan China. Energi adalah sumber daya kunci dalam ekonomi modern.

Ia menegaskan, siapa yang mengendalikan aliran energi, pada akhirnya memegang kendali atas keseimbangan kekuatan dunia.

“Market merah selalu ingat Astronacc. Dan hari ini (5/3/2026), IHSG pun mulai menunjukkan rebound di tengah tekanan global," tutupnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Hendarmono Al Sidarto
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.