Surplus Dagang RI 69 Bulan Beruntun, Januari 2026 Tembus USD0,95 Miliar
BPS mencatat surplus dagang RI Januari 2026 sebesar USD 0,95 miliar, memperpanjang tren 69 bulan beruntun. Ekspor nonmigas kuat, impor naik 18,21 persen secara tahunan.
JAKARTA – Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia kembali mencatatkan hasil positif. Pada Januari 2026, neraca perdagangan barang membukukan surplus sebesar USD0,95 miliar. Capaian ini memperpanjang tren surplus menjadi 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, di Jakarta, Senin (2/3/2026), menjelaskan bahwa surplus tersebut terutama disokong oleh performa sektor nonmigas yang tetap solid, meskipun impor menunjukkan kenaikan cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Secara rinci, neraca nonmigas mencatat surplus USD3,22 miliar. Namun, kinerja tersebut masih tertahan oleh defisit sektor migas sebesar USD 2,27 miliar.
"Komoditas utama penyumbang surplus nonmigas berasal dari kelompok lemak dan minyak hewani/nabati (HS15) dengan nilai surplus USD3,10 miliar. Disusul bahan bakar mineral (HS27) sebesar USD2,16 miliar dan besi serta baja (HS72) senilai USD1,51 miliar," ujarnya.
Dari sisi ekspor, total nilai pengiriman barang Indonesia pada Januari 2026 mencapai USD22,16 miliar atau tumbuh 3,39 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini didorong oleh ekspor nonmigas yang meningkat 4,38 persen menjadi USD21,26 miliar.
Lonjakan tertinggi terjadi pada komoditas lemak dan minyak hewani/nabati yang melesat 46,05 persen, diikuti nikel dan turunannya yang tumbuh 42,04 persen, serta mesin dan perlengkapan elektronik yang naik 16,27 persen.
Sementara itu, impor tercatat sebesar USD21,20 miliar atau meningkat 18,21 persen dibandingkan Januari tahun lalu. Kenaikan ini terutama berasal dari impor nonmigas yang mencapai USD18,04 miliar (naik 16,71 persen), serta impor migas sebesar USD3,17 miliar (naik 27,52 persen).
BPS juga mencatat kenaikan impor terjadi di seluruh kelompok penggunaan, terutama bahan baku/penolong yang tumbuh 14,67 persen dan barang modal yang melonjak 35,32 persen—mengindikasikan aktivitas produksi dan investasi yang meningkat.
Dari sisi mitra dagang, surplus terbesar berasal dari Amerika Serikat sebesar USD1,55 miliar, disusul India USD1,07 miliar dan Filipina USD 0,69 miliar. Sebaliknya, defisit terdalam tercatat dengan China sebesar USD2,47 miliar, kemudian Australia USD0,96 miliar dan Prancis USD0,47 miliar.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




