TIMES JAKARTA, JAKARTA – Belakangan ini, lari bukan lagi sekadar tren untuk mengejar bentuk tubuh ideal atau sekadar mengoleksi medali maraton. Bagi banyak orang, lari telah bertransformasi menjadi sebuah bentuk meditasi bergerak—sebuah terapi untuk menyembuhkan luka yang tak kasatmata.
Pernahkah Anda merasa beban pikiran terasa lebih ringan setelah menempuh beberapa kilometer? Secara ilmiah, fenomena ini dikenal sebagai Runner’s High. Saat kita berlari, tubuh melepaskan endorfin dan dopamin, senyawa kimia alami yang bertanggung jawab menciptakan rasa bahagia dan mengurangi stres.
Namun, lebih dari sekadar reaksi kimia, lari menawarkan ritme. Suara napas yang teratur, detak jantung yang stabil, dan bunyi langkah kaki yang menyentuh tanah secara konsisten menciptakan efek hipnotis. Ritme ini memaksa pikiran untuk berhenti "melompat" ke masa lalu yang menyakitkan atau masa depan yang mencemaskan, dan membawa kita kembali ke satu momen: saat ini.
Ruang Aman untuk Melepas Emosi
Luka hati—baik karena kehilangan, kegagalan, maupun patah hati—sering kali terjebak dalam tubuh sebagai energi negatif yang menyesakkan. Lari memberikan saluran fisik bagi emosi tersebut.
Dalam setiap hentakan kaki ke tanah, ada rasa frustrasi yang dilepaskan. Dalam setiap keringat yang menetes, ada kesedihan yang seolah luruh. Lari adalah ruang aman di mana Anda diizinkan untuk menangis tanpa suara, berteriak melalui kecepatan, atau sekadar berdialog dengan diri sendiri tanpa gangguan notifikasi ponsel.
Membangun Kembali Kepercayaan Diri yang Runtuh
Saat hati terluka, kepercayaan diri biasanya berada di titik terendah. Lari mengajarkan kita cara membangunnya kembali, langkah demi langkah.
-
Pencapaian Kecil: Berhasil menyelesaikan 1 kilometer pertama setelah sekian lama adalah kemenangan besar bagi jiwa yang sedang rapuh.
-
Kendali Diri: Di lintasan lari, Anda adalah kapten bagi diri sendiri. Anda menentukan kapan harus mulai, kapan harus menambah kecepatan, dan kapan harus berhenti. Rasa memegang kendali ini sangat krusial bagi seseorang yang merasa hidupnya sedang berantakan.
-
Resiliensi: Lari mengajarkan bahwa rasa sakit saat menanjak adalah sementara. Setelah tanjakan, akan ada turunan yang melegakan. Ini adalah metafora sempurna bagi kehidupan.
Bergerak Maju, Secara Harfiah
Mungkin filosofi terindah dari lari sebagai terapi adalah konsep bergerak maju. Secara fisik, Anda berpindah dari satu titik ke titik lain. Secara mental, setiap langkah menjauhkan Anda dari titik luka yang lama.
Lari tidak menjanjikan masalah Anda akan hilang seketika saat Anda kembali ke rumah. Namun, lari memberikan kejernihan pikiran dan kekuatan mental untuk menghadapi masalah tersebut dengan sudut pandang yang baru. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Lari sebagai Terapi: Langkah Kaki Menyembuhkan Luka Hati dan Pikiran
| Pewarta | : Deasy Mayasari |
| Editor | : Deasy Mayasari |