Daging Kurban Tetap Aman bagi Hipertensi, Asal Tak Salah Cara Mengolahnya
Ilustrasi - Hidangan olahan daging kurban berupa sate kambing. (Foto: TIMES Indonesia)

Daging Kurban Tetap Aman bagi Hipertensi, Asal Tak Salah Cara Mengolahnya

Dokter gizi lulusan UI mengungkap cara aman konsumsi daging kurban bagi penderita hipertensi, termasuk batas porsi dan metode memasak sehat saat Idul Adha.

TIMES Jakarta,Rabu 27 Mei 2026, 02:41 WIB
673
H
Hendarmono Al Sidarto

JAKARTAHidangan daging kurban saat Idul Adha kerap menjadi kekhawatiran bagi penderita hipertensi maupun gangguan metabolik. Namun, dokter spesialis gizi klinik lulusan Universitas Indonesia, dr. Pande Putu Agus Mahendra, M.Gizi, Sp.GK menegaskan konsumsi daging sapi atau kambing tetap aman selama dikonsumsi dalam porsi yang tepat dan diolah dengan benar.

Menurut Pande, setiap orang memiliki batas toleransi konsumsi yang berbeda. Meski demikian, secara umum asupan protein hewani dari daging dianjurkan berada di kisaran 75–100 gram per porsi agar tetap aman bagi tubuh.

“Untuk batasan tiap individu terdapat batasan masing-masing, tapi jika berdasarkan ukuran umum adalah 75-100 gram per porsi yang dianggap aman untuk konsumsi asupan hewani,” ujar Pande dilansir Antara, Selasa (26/5/2026).

Ia menjelaskan, konsumsi daging sebaiknya diimbangi dengan makanan kaya antioksidan, terutama bagi penderita hipertensi atau penyakit metabolik lainnya. Sumber antioksidan dapat diperoleh dari sayuran seperti tomat, wortel, lobak, hingga bawang-bawangan yang membantu menjaga keseimbangan tubuh.

Selain itu, menjaga kecukupan cairan dan mengontrol jumlah makanan yang dikonsumsi juga penting untuk mencegah lonjakan kolesterol setelah menyantap hidangan khas Idul Adha.

Dalam hal pengolahan, Pande mengingatkan masyarakat agar mengurangi konsumsi bagian berlemak dan jeroan. Ia juga menyarankan untuk tidak memasak daging dengan cara dibakar langsung di atas api karena dapat memicu terbentuknya senyawa yang kurang baik bagi kesehatan.

“Menghindari bagian dari lemak serta konsumsi organ dalamnya dan hindari pengolahan dengan dibakar langsung terpapar api, karena hal tersebut akan merusak komponen protein dari daging tersebut dan menjadi suatu komponen yang dapat mengganggu kesehatan tubuh,” jelasnya.

Tak hanya daging, makanan bersantan yang identik dengan perayaan Idul Adha juga perlu dibatasi. Pande menilai penggunaan santan instan dalam berbagai masakan saat ini cenderung mengandung natrium lebih tinggi dibanding santan segar.

Karena itu, konsumsi makanan bersantan secara berlebihan dalam beberapa hari berturut-turut sebaiknya dihindari lantaran dapat meningkatkan asupan lemak dan memengaruhi kadar kolesterol tubuh.

Ia juga mengingatkan kebiasaan memanaskan ulang makanan bersantan berkali-kali bukanlah pilihan sehat. Proses pemanasan berulang dinilai dapat merusak kandungan lemak nabati pada santan sehingga berpotensi menurunkan kualitas gizinya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Hendarmono Al Sidarto
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.