TIMES JAKARTA, JAKARTA – Labu kerap dipanen dan dikonsumsi di berbagai belahan dunia, baik daging buah maupun kulitnya. Namun, bagian yang sering terabaikan justru menyimpan nilai gizi penting: biji labu. Di balik ukurannya yang kecil, biji labu mengandung kombinasi lemak sehat dan senyawa bioaktif yang berdampak luas bagi kesehatan.
Secara nutrisi, biji labu dikenal kaya asam lemak tak jenuh ganda dan tunggal, dua jenis lemak yang selama ini dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit kronis, terutama gangguan kardiovaskular. Meski demikian, para peneliti mencatat bahwa kandungan lemak tersebut dapat bervariasi, tergantung varietas labu. Secara global, setidaknya terdapat sekitar 150 varietas labu dengan profil nutrisi yang tidak sepenuhnya seragam.
Sejumlah penelitian menunjukkan biji labu mengandung asam linoleat, asam oleat, dan asam palmitat, yang berperan dalam menjaga kesehatan jantung. Kombinasi asam lemak ini membantu menjaga keseimbangan lipid darah dan mendukung fungsi pembuluh darah secara optimal.
Tak hanya itu, biji labu juga menunjukkan potensi neuroprotektif, yakni kemampuan melindungi sistem saraf dari kerusakan. Perlindungan ini menjadi penting di tengah paparan zat toksik yang kian luas, mulai dari logam berat seperti timbal dan merkuri, residu pestisida pertanian, efek samping obat-obatan tertentu, hingga konsumsi alkohol berlebihan.
Temuan menarik datang dari sebuah studi yang dipublikasikan pada 2025. Dalam penelitian tersebut, 50 ekor tikus dibagi ke dalam lima kelompok. Selama dua minggu, satu kelompok mendapat diet standar, sementara kelompok lainnya menerima tambahan biji labu—baik dalam bentuk mentah maupun sangrai—dengan dua tingkat dosis berbeda.
Hasilnya, seluruh kelompok yang mengonsumsi biji labu menunjukkan perbaikan signifikan pada tingkat kecemasan, fungsi kognitif, dan daya ingat. Efek paling menonjol terlihat pada kelompok yang mengonsumsi biji labu sangrai. Peneliti menduga proses pemanggangan membuat nutrisi biji labu lebih mudah diserap tubuh, karena dinding sel biji terurai dan melepaskan antioksidan yang sebelumnya terikat.
Data ini menegaskan bahwa biji labu bukan sekadar camilan pelengkap, melainkan sumber nutrisi fungsional yang berpotensi mendukung kesehatan jantung dan otak secara bersamaan—terutama bila diolah dengan cara yang tepat. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Biji Labu, Sumber Lemak Sehat yang Jaga Jantung hingga Otak
| Pewarta | : Rochmat Shobirin |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |