TIMES JAKARTA, JAKARTA – Ajahn Brahm, tokoh Buddha asal Inggris mengatakan: orang bijak bukanlah orang yang tak pernah berbuat kesalahan, tetapi mereka yang memaafkan diri mereka dan belajar dari kesalahan mereka.
Dalam pribahasa kita, bila tidak mau jatuh ke lubang yang sama, maka segera jadikan sejarah pilu menjadi fondasi berpikir dan bertindak. Tapi sayangnya itu tidak dilakukan oleh rezim ini. Masa lalu yang teramat kelam pada 1998 dianggapnya hanya sebuah hempasan angin yang telah lewat begitu saja.
Penguasa menduga bahwa rakyat di Bumi Khatulistiwa ini tak lagi memiliki kekuatan dan semangat yang sama seperti dulu kala, disaat menyaksikan "rumah" yang dicintainya ini "disantroni" oleh kelompok-kelompok bermental korup nan culas di depan mata kepalanya.
Kesalahan yang fatal atas dugaan itu, kini rezim melihat sendiri berbagai kepulan asap hitam kemarahan rakyat tak terbendung. Rezim pula menyaksikan bagaimana murka yang memuncak di uban-ubun.
Apinya kini berkobar keseluruh tubuh bangsa. Sebab telah muak menyaksikan ketidakadilan, ketimpangan, permainan elite politik bercumbu dengan oligarki.
Sebagai manusia biasa, kesabaran secara kolektif yang dimiliki oleh rakyat ada batasnya. Hinaan "tolol" dari politikus yang angkuh, kebijakan atas pendapatan yang timpang dan tak masuk logika, kerja pejabat yang tak pernah sesuai janji kampanyenya, telah menemui puncaknya. Kini rakyat tak lagi diam atas pembodohan terstruktur yang bernanah tersebut.
Peribahasa Arab yang berbunyi: Mahma tubaththin tudzhirhu al-aiyam. Artinya, apa pun yang kau sembunyikan, sejarah pasti membongkarnya. Peribahasa tersebut, kata intelektual Islam, Ahmad Syafii Maarif (1935-2022), berlaku universal pada semua unit peradaban. Yang busuk cepat atau lambat pasti akan terbau.
Apakah menjadi sebuah kebahagiaan melihat keluluhlantahan seperti yang tersaksikan dewasa ini akibat amarah rakyat? Jelas tidak. DNA rakyat di negeri ini begitu hangatnya.
Mereka tak kurang baik dan pemaafnya atas segela kekecewaan atas dijadikannya objek "Sapi Perah" oleh elite politik yang telah dialaminya selama bertahun-tahun ini.
Namun, rakyat kini telah berada dititik jemu. Dan pilihan logis satu-satunya bagaimana "harus melakukan sesuatu" terhadap nasib negerinya yang telah berada di level muram durja.
Dalam psikologi rakyat, membiarkan kerusakan demi kerusakan yang telah diperbuat oleh mereka yang tak bertanggungjawab, adalah sama saja mendukung kezaliman itu semua.
Negeri ini tak kurang tragedi untuk dijadikan "materi' pembelajaran penting dalam membangun keadaban dalam berbangsa dan bernegara yang baik sesuai amanat rakyat.
Tetapi bebalisme nampak begitu akut dalam diri mereka yang bermental sok kuasa. Padahal, kekuasaan itu pun akan sirna jika tidak dijalankan sesuai hati nuraninya.
Tahun 1998 adalah potret, sebagaimana pun kekuasaan dan kekuatan itu dibangun dengan strategi super excellent selama bertahun-tahun lamanya, tetapi jika rakyat telah murka, maka semua akan selesai sekejap mata.
Lalu, rezim ini masih mau kekeh tak hendak mengambil pelajaran dari itu semua? Ya, maka tunggu saja malapetaka itu tiba. (*)
***
*) Oleh : Moh Ramli, Penulis buku Teladan dan Nasihat Islami Paus Fransiskus, wartawan dan lulusan Magister Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, Jakarta.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Pewarta | : Hainor Rahman |
Editor | : Hainorrahman |