Pembicaraan AS-Iran Berakhir, Ada Kemajuan Tapi Tak Jelas untuk Mencegah Perang
Ada kemajuan di sana, keterbukaan terhadap pemikiran-pemikiran baru dan kreatif, tetapi belum jelas untuk bisa mencegah perang antara AS dan Iran.
JAKARTA – Pembicaraan lanjutan antara Amerika Serikat dengan Iran di Jenewa yang dimediatori Oman telah berakhir.
Ada kemajuan di sana, keterbukaan terhadap pemikiran-pemikiran baru dan kreatif, tetapi belum jelas untuk bisa mencegah perang di antara mereka.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi bin Hamad Al Busaidi mengatakan, AS dan Iran telah menunjukkan 'keterbukaan terhadap ide-ide baru dan kreatif' setelah bertemu dengan utusan AS, Jared Kushner dan Steve Witkoff.
"Ada kemajuan yang signifikan," katanya.
Badr Albusaidi mengatakan, bahwa AS dan Iran telah mencapai kemajuan signifikan dalam pembicaraan nuklir tingkat tinggi di Jenewa, meski peluang kesepakatan yang bisa mencegah perang di antara mereka masih belum jelas.
Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi menyatakan, bahwa pembicaraan Kamis kemarin telah memasuki pembahasan serius mengenai unsur-unsur kesepakatan, baik di bidang nuklir maupun pencabutan sanksi.
Araghchi menambahkan bahwa putaran baru akan diadakan minggu depan setelah konsultasi dengan ibu kota masing-masing negara.
Badr Albusaidi yang bertindak sebagai mediator itu menegaskan kedua pihak berencana untuk melanjutkan negosiasi 'segera' setelah konsultasi di ibu kota masing-masing, dan diskusi tingkat teknis akan berlangsung pekan depan di Wina.
Delegasi Iran dan AS telah menyelesaikan putaran ketiga pembicaraan tidak langsung mereka mengenai topik nuklir dan pencabutan sanksi di Jenewa, Swiss.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei juga telah telah mengkonfirmasi berakhirnya sesi kedua putaran ketiga pembicaraan Kamis kemarin seperti dua putaran sebelumnya pembicaraan itu dimediasi oleh diplomat tertinggi Oman, Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi.
Delegasi Iran dipimpin oleh Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi dan tim Amerika diwakili oleh Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner.
Setelah tiga jam pembicaraan intensif, kedua pihak beristirahat agar delegasi bisa berkonsultasi dengan ibu kota masing-masing mengenai isu-isu yang dibahas. Mereka kemudian kembali bernegosiasi selama kurang lebih dua jam.
Sebelumnya, saat berbicara kepada wartawan di sela-sela pembicaraan, Baqaei mengatakan, usulan penting dan operasional telah disampaikan mengenai isu nuklir dan pencabutan sanksi. Kedua delegasi perlu berkonsultasi dengan ibu kota masing-masing.
Presiden Donald Trump mengancam akan menyerang Iran jika tak ada kesepakatan pada putaran ketiga pembicaraan di Jenewa ini, dan ia menganggap dalam kurun waktu beberapa minggu ini sebagai upaya diplomatik terakhir.
Trump juga telah memerintahkan pengerahan militer AS besar-besaran ke Timur Tengah sejak invasi Irak yang dipimpin AS pada 2003. Sedangkan Iran juga telah bersumpah untuk menanggapi serangan tersebut dengan kekuatan militernya.
Namun Trump hanya sedikit menjelaskan apa yang ia tuntut dalam negosiasi dan mengapa mungkin perlu dilakukan tindakan militer sekarang, delapan bulan setelah AS membom fasilitas nuklir Iran selama perang Israel dan Iran.
Menlu AS Marco Rubio mengatakan bahwa Iran memiliki rudal balistik yang menimbulkan ancaman langsung terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan Timur Tengah, bahkan menuduh Iran berupaya mengembangkan rudal balistik antarbenua.
Wakil Presiden JD Vance juga berkomentar bahwa AS telah mendeteksi bukti upaya Iran untuk mengembangkan lagi program nuklirnya, dan mendesak Iran untuk menanggapi ancaraman AS dengan serius.
Steve Witkoff yang dijadwalkan akan menghubungi Presiden Donald Trump setelah putaran negosiasi ini berakhir.
Koresponden Al Jazeera melaporkan, apa yang akan dilaporkam Wittkopf kepada Trump akan menentukan masa depan krisis antara Amerika Serikat dan Iran.
Membahayakan Pasukan AS
Sementara itu Axios dan Wall Street Journal melaporkan, bahwa Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Keane yang diberhentikan dari jabatannya pada hari Rabu lalu memperingatkan Gedung Putih, bahwa kampanye militer berskala besar bisa membahayakan pasukan AS.
Namun, laporan yang sama menyampaikan antara Trump dan Keane tidak ada perselisihan, dan Trump 'belum membuat keputusan mengenai Iran' namun telah menugaskan tim kecil untuk merumuskan opsi militer yang mencakup memaksimalkan pengaruh dan mengurangi risiko.
Di dalam gedung Kongres AS terjadi perdebatan yang berpusat pada legitimasi dan kewenangan dari setiap potensi serangan terhadap Iran, bukan hanya kelayakannya.
Ini karena sejumlah anggota parlemen telah mengajukan rancangan resolusi yang membatasi kekuasaan presiden untuk melancarkan perang, sebuah langkah yang dilihat oleh anggota parlemen lain sebagai tanda kelemahan.
Perwakilan Partai Demokrat, James McGovern menyatakan keterkejutannya atas pernyataan Gedung Putih bahwa Iran hampir memiliki bom nuklir, sebab Gedung Putih sepanjang musim panas lalu terus-menerus menyatakan bahwa fasilitas nuklir Iran telah dihancurkan oleh serangan AS.
"Berdasarkan pernyataan Trump yang terus-menerus tentang penghancuran fasilitas nuklir Iran, apa yang terjadi sekarang tidak lebih dari upaya mendorong perang lain yang didasarkan pada klaim palsu," kata McGovern.
Terbaru, Trump juga telah mengerahkan 12 jet tempur F-22 Raptor Amerika dari pangkalan Lakenheath Inggris menuju Israel, dengan transponder dimatikan, menghilang dari situs pelacakan publik, sementara hanya pesawat pengisian bahan bakar yang menyertainya yang muncul di atas Lau
Dalam beberapa pekan terakhir Amerika Serikat juga telah mengerahkan pasukannya memasuki Israel.
Situs web Israel, Walla mengungkapkan ratusan tentara Amerika itu telah memasuki pangkalan militer di Israel, dan disebut-sebut para tentara itu memiliki spesialisasi dalam mengoperasikan sistem teknologi dan operasional di darat dan di udara. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




