Agenda Media Gathering di Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. (FOTO: Moh Ramli/TIMES Indonesia)

Dapat Hambatan Konflik Sosial hingga Keterbatasan Anggaran, Ikhtiar Rehabilitasi Mangrove di Kaltim Terus Dilakukan

Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) mencatatkan capaian signifikan dalam pemulihan ekosistem pesisir di Kalimantan Timur (Kaltim).

TIMES Jakarta,Jumat 31 Juli 2026, 21:22 WIB
442
M
Moh Ramli

JAKARTAProgram Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) mencatatkan capaian signifikan dalam pemulihan ekosistem pesisir di Kalimantan Timur (Kaltim).

Sepanjang periode 2024 hingga 2026, program rehabilitasi ini berhasil merehabilitasi lahan mangrove seluas 6.120 hektar di wilayah Kalimantan Timur.

M4CR merupakan inisiatif strategis nasional yang bertujuan mengatasi degradasi ekosistem mangrove di Indonesia melalui rehabilitasi skala besar berbasis komunitas dan keberlanjutan lingkungan. 

Program ini menargetkan pemulihan luasan hingga 32.634 hektare sampai tahun 2027 yang tersebar di empat provinsi prioritas, yaitu Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

M4CR dikelola oleh Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH), bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), serta pemerintah daerah, dengan dukungan pendanaan dari World Bank.

Dalam kurun waktu tiga tahun pelaksanaan di Kalimantan Timur, rincian luasan penanaman tercatat sebanyak 4.445 hektar pada tahun 2024, 499 hektar pada tahun 2025, dan 1.176 hektar pada tahun 2026.

Salah satu titik fokus pemulihan berada di Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Di mana program difokuskan pada pemulihan kawasan pesisir berbasis pemberdayaan masyarakat, khususnya petani tambak, nelayan, dan warga setempat melalui kolaborasi strategis dengan instansi pemerintah.

Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Manager BRGM Kalimantan Timur, Asman Azis, menegaskan komitmen kelompok-kelompok tani hutan (KTH) dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir tersebut.

"Secara umum, visi bersama yang diusung oleh kelompok-kelompok tani hutan (KTH) adalah menciptakan kelompok yang mandiri dan berdaya dalam melestarikan mangrove guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya saat kegiatan Media Gathering di Desa Sepatin, Jumat (31/7/2026).

Terdapat tiga KTH yang menjadi titik kunjungan dan diskusi terkait capaian penanaman serta pemeliharaan dengan pola tanam silvofishery di area tambak tersebut.

Pertama, KTH Gemilang Sejahtera Abadi yang mengelola total area penanaman seluas 80 hektar (49 hektar pada 2025 dan 31 hektar pada 2026) mencatatkan tingkat keberhasilan tumbuh tanaman tertinggi mencapai 80 persen pada program M4CR tahun 2025.

Kedua, KTH Mangrove Borneo yang mengelola lahan tambak seluas 55 hektar pada tahun 2025 dan 199 hektar pada tahun 2026 dan sedang proses berjalan. Kelompok ini mencatatkan tingkat keberhasilan tumbuh tanaman sebesar 69 persen pada penanaman tahun 2025.

Ketiga, KTH Peduli Hutan Mangrove yang mengelola area seluas 31 hektar pada tahun 2025 dan 29 hektar pada tahun 2026 dan masih sedang berjalan, dengan tingkat keberhasilan tumbuh tanaman mencapai 61 persen di tahun 2025.

Berbagai Tantangan 

Meskipun mencatatkan hasil positif, pelaksanaan rehabilitasi menghadapi sejumlah tantangan di lapangan.

Di antaranya sebagian warga belum sepenuhnya memahami fungsi ekologis serta pemanfaatan ekonomis mangrove secara berkelanjutan, muncul potensi konflik sosial antara pemanfaatan tambak untuk produksi perikanan dan tuntutan konservasi kawasan pesisir, serta keterbatasan anggaran operasional dan sumber daya manusia untuk mendukung perawatan dan pengawasan rutin jangka panjang.

Untuk menjaga keberlanjutan hasil penanaman, fokus program ke depan diarahkan pada pemulihan ekosistem optimal agar mangrove mampu berfungsi penuh sebagai benteng alami dari abrasi, penguatan partisipasi warga melalui sosialisasi dan edukasi, serta kemitraan multipihak untuk pendanaan operasional dan pengembangan usaha ekonomi kreatif berbasis produk mangrove.

"Melalui sinergi yang terus ditingkatkan antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga mitra, keberhasilan tumbuh mangrove yang saat ini telah berkisar antara 61% hingga 80% diharapkan dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan demi menjaga kesejahteraan pesisir Desa Sepatin," ujar Asman Azis.

Ketua Pokmas Peduli Hutan Mangrove Desa Sepatin, Suardi menambahkan, rehabilitasi mangrove di wilayahnya menemui banyak rintangan yang tak mudah. Khususnya dari masyarakat setempat. "Apakah ketika tambak direhabilitasi mangrove tidak di ambil pemerintah?," katanya.

Selanjutnya, kata dia, masyarakat juga dilema, apakah ketika tambak ikut rehabilitasi mangrove ketika ada pembebasan lahan akan tetap dibayar oleh Pertamina.

"Selain tantangan itu, tangan seperti pasang surut air hingga tantangan predator buaya (juga menjadi tantangan dalam rehabilitasi mangrove)," ujarnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Moh Ramli
|
Editor:Imadudin Muhammad

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.