83 Warga Venezuela Tewas dan 112 Luka dalam Operasi Militer AS Penangkapan Maduro
TIMES Jakarta/Arsip foto - Presiden Venezuela Nicolas Maduro (kanan) dikawal pasukan AS setibanya di Manhattan, Amerika Serikat, dalam perjalanan menuju gedung pengadilan (5/1/2026). ANTARA

83 Warga Venezuela Tewas dan 112 Luka dalam Operasi Militer AS Penangkapan Maduro

Menteri Pertahanan Venezuela menyatakan 83 tewas dan 112 luka akibat operasi militer AS yang menangkap Presiden Nicolas Maduro pada awal Januari, termasuk warga militer dan sipil.

TIMES Jakarta,Sabtu 17 Januari 2026, 14:35 WIB
282K
I
Imadudin Muhammad

JAKARTASebanyak 83 orang tewas dan sedikitnya 112 lainnya terluka dalam operasi militer Amerika Serikat di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, awal bulan ini, menurut pengakuan Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino Lopez.

Padrino Lopez menyampaikan angka tersebut dalam sebuah upacara pemberian penghargaan bagi personel militer dan warga sipil yang dianggap martir dalam serangan itu, Jumat (16/1/2026). Ia mengatakan di antara korban tewas terdapat 32 warga Kuba yang turut gugur dalam sebuah aksi yang disebut pemerintah sebagai “serangan bersenjata overwhelming” terhadap pertahanan Venezuela.

Menurut Padrino, jumlah korban termasuk 47 anggota Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian (FANB), termasuk sembilan perempuan, serta warga sipil.

“Total 83 orang gugur dan lebih dari 112 lainnya terluka, yang kini dirawat oleh sistem kesehatan militer kita,” ujarnya.

Pemerintah Venezuela berjanji akan memberikan bantuan kepada keluarga korban dan membangun monumen nasional guna menghormati mereka yang gugur.

Operasi militer Amerika Serikat, yang berlangsung pada 3 Januari 2026 di Caracas dan sekitarnya, berhasil menangkap Presiden Nicolas Maduro serta istrinya, yang kemudian dibawa ke New York untuk menghadapi dakwaan terkait perdagangan narkoba yang digambarkan sebagai “narkoterorisme” oleh otoritas AS. Kedua terdakwa menyatakan tidak bersalah dalam sidang perdana di Manhattan.

Venezuela meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyusul operasi tersebut. Mahkamah Agung Venezuela menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodriguez sebagai kepala negara sementara untuk mengisi kekosongan kepemimpinan setelah penangkapan Maduro.

Operasi tersebut telah memicu kecaman luas dari sejumlah negara, termasuk protes besar di Kuba, di mana ribuan warga turun ke jalan untuk mengecam aksi militer AS dan menuntut pembebasan para tentara Kuba yang tewas dalam serangan tersebut. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Imadudin Muhammad
|
Editor:Imadudin Muhammad

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.