Rupiah Sentuh 16.900, BI Intervensi Ganda Tahan Gejolak Timur Tengah
Rupiah menembus Rp16.900 per dolar AS dipicu konflik Timur Tengah. BI lakukan intervensi NDF, DNDF, spot, dan beli SBN. Cadangan devisa tetap kuat di USD154,6 miliar.
JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memperkuat langkah stabilisasi untuk meredam tekanan terhadap rupiah yang sempat menembus level Rp16.900 per dolar AS, di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan, bank sentral akan terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar dan memitigasi dampak rambatan gejolak global terhadap perekonomian domestik.
“Intervensi yang tegas dan konsisten akan terus kami lakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” ujar Destry dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (4/3/2026),.
Ia menegaskan, tekanan terhadap rupiah masih bergerak seirama dengan mata uang regional. Secara month-to-date (mtd), rupiah tercatat melemah 0,51 persen—kinerja yang dinilai relatif lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang di kawasan.
Fundamental eksternal Indonesia pun disebut tetap solid. Cadangan devisa pada akhir Januari 2026 tercatat sebesar 154,6 miliar dolar AS, sementara arus masuk modal asing ke pasar keuangan domestik sepanjang 2026 mencapai Rp25,7 triliun.
Pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu (4/3/2026), rupiah kembali terkoreksi 58 poin atau 0,34 persen ke level Rp16.930 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya di Rp16.872 per dolar AS. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



