TIMES JAKARTA, MALANG – Udara dingin Pagak menyapa dengan cara yang khas: perlahan, menusuk, dan menuntut ketahanan. Di hamparan lahan hampir 30 hektare di selatan Kabupaten Malang itu, negara sedang mengerjakan satu proyek sunyi namun menentukan—menyemai masa depan kepemimpinannya sendiri.
Bukan pabrik, bukan bendungan, bukan pula kawasan industri. Yang berdiri di Desa Gampingan adalah SMA Taruna Nusantara Kampus Malang, sebuah lembaga pendidikan yang sejak awal tak pernah diniatkan sebagai sekolah biasa. Ia dirancang sebagai kawah candradimuka: tempat karakter ditempa, mental diuji, dan integritas dibentuk sebelum kekuasaan kelak diserahkan.
Peresmian kampus ini oleh Presiden Prabowo Subianto pada 13 Januari 2026 bukan sekadar agenda seremoni kenegaraan. Ia adalah penanda arah. Setelah lebih dari tiga dekade Taruna Nusantara berpusat di Magelang, ekspansi ke Malang menegaskan satu pesan penting: negara ingin mendekatkan pendidikan elite kepada daerah, sekaligus menjemput talenta dari pinggiran.
“Kita ingin menanamkan akhlak, menanamkan kepribadian yang bersih, dan membentuk pemimpin yang tidak korup,” ujar Presiden Prabowo dalam pidato peresmian yang bergema hingga ke barak-barak ksatrian.
Di balik kalimat itu, tersimpan kegelisahan lama republik ini: kekuasaan kerap lahir tanpa karakter, dan kecerdasan sering kali berjalan tanpa nurani.
Pendidikan sebagai Proyek Peradaban
SMA Taruna Nusantara Malang tidak berdiri dengan logika bangunan fisik semata. Ia lahir dari keyakinan bahwa krisis kepemimpinan adalah krisis pendidikan karakter. Karena itu, sistem yang dibangun di Pagak bukan hanya akademik, melainkan sebuah ekosistem pembentukan manusia.
Tiga kurikulum dijahit menjadi satu: Kurikulum Merdeka sebagai fondasi nasional, Kurikulum Ke-TN-an sebagai kerangka pembentukan karakter, dan Kurikulum Internasional Cambridge untuk menjawab tantangan global.
Kepala LPTTN, Sugiono, menyebut pendekatan ini sebagai ikhtiar menjaga keseimbangan.
“Kami ingin lulusan yang mampu berdiri di forum internasional, tetapi tidak tercerabut dari nilai kebangsaan dan jati diri Nusantara,” ujarnya.
Fasilitas seperti Advance Study Center (ASC) dan English Study Center (ESC) dibangun bukan untuk kemewahan, melainkan untuk memastikan bahwa ketangguhan fisik para taruna diimbangi dengan kejernihan berpikir dan kemampuan berkomunikasi global.
Hidup dalam Disiplin, Tumbuh dalam Kesadaran
Di balik tembok ksatrian, waktu bergerak dengan ritmenya sendiri. Subuh bukan sekadar penanda pagi, melainkan awal disiplin. Setiap aktivitas—ibadah, olahraga, belajar, hingga istirahat—tersusun dalam keteraturan yang nyaris militeristik.
Namun di situlah paradoks Taruna Nusantara: kedisiplinan keras justru melahirkan kelembutan kesadaran.
Abraham Stefano Tambunan (16), siswa asal Medan, mengaku awalnya terkejut dengan jarak dari rumah dan intensitas latihan. Tetapi Pagak mengajarkannya satu hal penting.
“Di sini saya belajar bahwa rindu pada orang tua bisa berubah menjadi energi untuk berprestasi,” katanya.
Bagi Esther Marsoina, siswi angkatan pertama lainnya, SMA TN Malang adalah ruang pembuktian.
“Kami tidak diperlakukan sebagai anak-anak manja. Kami diperlakukan sebagai calon pemimpin,” tuturnya.
Anak Petani dan Anak Jenderal di Barak yang Sama
Mungkin inilah sisi paling jarang disorot: inklusivitas Taruna Nusantara. Di tengah stigma sekolah elite, data menunjukkan sekitar 40 persen siswa SMA TN Malang adalah penerima beasiswa penuh.
Seleksi tidak mengenal latar belakang sosial. Yang dinilai adalah kecerdasan, ketahanan mental, dan komitmen.
Di ruang makan ksatrian, tidak ada sekat status. Anak petani dari pelosok desa duduk sejajar dengan anak pejabat tinggi. Menu sama, aturan sama, hukuman sama. Di sinilah republik diuji dalam bentuk paling jujur: kesetaraan dalam disiplin dan tanggung jawab.
Pagak yang Berubah, Indonesia yang Diharapkan
Kehadiran SMA TN Malang mengubah wajah Pagak. Jalan diperbaiki, aktivitas ekonomi tumbuh, dan desa yang dulu sunyi kini menjadi simpul perhatian nasional. Namun dampak terbesarnya bukan pada ekonomi, melainkan pada harapan kolektif.
Pagak kini menjadi simbol bahwa negara tidak hanya membangun infrastruktur keras, tetapi juga infrastruktur moral.
Di sinilah anak-anak muda ditempa untuk kelak memegang senjata, pena kebijakan, atau mandat rakyat—dengan satu bekal utama: integritas.
Harapan Besar Masa Depan
SMA Taruna Nusantara Malang adalah pertaruhan. Jika gagal, ia hanya akan menjadi monumen ambisi. Namun jika berhasil, Pagak akan tercatat sebagai salah satu titik penting lahirnya generasi penjaga republik.
Di tengah dingin yang menggigit, para taruna dan taruni itu berlari, belajar, jatuh, bangkit, dan berdoa—tanpa tahu jabatan apa yang kelak mereka sandang.
Yang mereka tahu hanya satu: mereka sedang disiapkan untuk melayani, bukan dilayani.
Dari Pagak, negara sedang menulis harapannya sendiri. Dan sejarah, seperti biasa, akan menilai hasilnya.(*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Menembus Dinginnya Pagak Malang, Mencetak Pemimpin Bangsa
| Pewarta | : Imadudin Muhammad |
| Editor | : Imadudin Muhammad |