Bagaimana Islam Memandang Seseorang yang Tak Memberi Maaf Kala Lebaran?
Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Edi Sugianto, memberikan penjelasan mendalam mengenai batasan antara hak asasi korban dan anjuran agama untuk memaafkan.
JAKARTA – Momen Idul Fitri identik dengan tradisi saling bermaafan. Namun, sering kali muncul tekanan sosial yang seolah mewajibkan setiap orang untuk melupakan segala luka lama seketika saat Lebaran tiba.
Lantas, bagaimana Islam memandang seseorang yang merasa belum sanggup memberikan maaf di hari yang fitri tersebut?
Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Edi Sugianto, memberikan penjelasan mendalam mengenai batasan antara hak asasi korban dan anjuran agama untuk memaafkan.
Ia menyampaikan, dalam Islam, memaafkan itu mulia, tapi menuntut keadilan adalah hak. Al-Quran dalam QS. Ash-Syura: 40 menjelaskan bahwa balasan keburukan adalah hal yang setimpal.
"Jadi, kalau Anda merasa sangat disakiti dan belum sanggup memberi maaf saat Idul Fitri, Anda tidak berdosa. Hak Anda sebagai korban tetap dilindungi oleh agama," katanya kepada TIMES Indonesia.
Ia mengatakan, menjelang Lebaran, sering ada tekanan sosial bahwa semua salah 'wajib' dimaafkan seketika. Padahal, Allah menyebut dalam QS. Ali 'Imran: 134 bahwa memaafkan adalah ciri orang yang meraih derajat Ihsan atau kebaikan tertinggi.
"Ini adalah pilihan bonus pahala, bukan paksaan yang menghapus hak asasi Anda untuk merasa kecewa," jelas lulusan Universitas Muhammadiyah Jakarta tersebut.
Ia menyampaikan, Rasulullah SAW memang melarang kita mendiamkan saudara lebih dari tiga malam. Itu sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh HR. Bukhari & Muslim.
Namun, kata dia, dalam konteks Idul Fitri, ini lebih ke arah menjaga adab lahiriah seperti tetap menjawab salam. Memaafkan isi hati itu urusan batin yang personal, sedangkan menjaga sapaan adalah agar tidak berdosa memutus silaturahim.
"Jika Anda memilih tetap tidak memaafkan di dunia, urusannya akan selesai di 'sidang' akhirat. Rasulullah SAW pernah bercerita tentang orang yang bangkrut atau Al-Muflis (HR. Muslim), yaitu mereka yang pahalanya habis diambil oleh orang yang pernah dizaliminya," ujar Edi.
"Tidak memaafkan adalah cara Anda memastikan keadilan berupa transfer pahala di hadapan Allah kelak," sambungnya.
Ia menambahkan, Idul Fitri sering disebut momen kembali ke fitrah atau suci. Tapi suci bukan berarti pura-pura lupa pada luka yang dalam. Allah berpesan dalam QS. Al-A'raf: 199 agar kita menjadi pemaaf namun tetap berpaling dari orang yang terus menyakiti.
"Kembali ke fitrah adalah tentang membersihkan hati Anda sendiri dari racun dendam demi kesehatan mental Anda," katanya.
"Jadi, Idul Fitri adalah tawaran untuk naik kelas spiritual. Rasulullah SAW bersabda dalam HR. Muslim bahwa Allah tidak menambah sifat pemaaf kecuali sebuah 'kemuliaan'," ujarnya/
"Pilihan ada di tangan Anda: tetap memegang hak keadilan di akhirat, atau memilih jalan kemuliaan demi ketenangan batin yang lebih berharga di dunia," pungkas Edi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



