TIMES JAKARTA, JAKARTA – Ironi di dunia pendidikan di Indonesia kembali mencuat. Di tengah semangat besar mewujudkan Indonesia Emas 2045, fakta di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Jutaan anak bangsa masih belajar di ruang kelas yang rusak.
Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKB, Muhammad Hilman Mufidi, atau akrab disapa Gus Hilman turut menyoroti kondisi memprihatinkan tersebut dan minta agar pemerintah menyegerakan dalam melakukan perbaikan terhadap fasilitas pendidikan.
Berdasarkan data Kemendikdasmen tahun ajaran 2024/2025, tercatat 1,18 juta ruang kelas sekolah dasar di Indonesia. Namun, 60 persen di antaranya rusak: mulai dari rusak ringan, sedang, hingga berat.
“Bagaimana peserta didik bisa belajar nyaman kalau ruang kelasnya saja tidak memadai?” ungkap Gus Hilman, Rabu (28/8/2025).
Di jenjang SMP, kondisinya tak jauh berbeda. Hampir separuh (49,67 persen) ruang kelas mengalami kerusakan dengan berbagai tingkat.
Bagi Gus Hilman, ini adalah fakta pahit yang harus segera mendapat perhatian serius dari pemerintah, khususnya Kemendikdasmen.
“Kami mengapresiasi komitmen pemerintah dalam mengalokasikan 20 persen APBN untuk pendidikan. Namun, kami berharap perbaikan sarana dan prasarana menjadi fokus, agar mimpi Indonesia Emas 2045 tidak hanya menjadi jargon,” tegasnya.
Menurut Gus Hilman, persoalan pendidikan bukan semata-mata soal finansial. Perbaikan fasilitas dasar seperti ruang kelas, laboratorium, hingga sarana digital adalah kunci agar peserta didik mampu bersaing di era global.
Tak hanya itu, ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan kesejahteraan guru. Beasiswa dan tunjangan, kata Hilman, harus dijadikan prioritas.
“Guru adalah pilar utama dalam pertumbuhan pendidikan di Indonesia. Karena itu, kesejahteraan mereka harus dijamin agar dapat mengajar dengan optimal,” ujarnya.
Untuk itu, Gus Hilman berharap wajah pendidikan Indonesia tidak lagi diwarnai kisah ironi, melainkan menjadi cerita tentang harapan dan kemajuan.
"Saya berharap, ini akan menjadi investasi bagi tumbuh kembangnya anak bangsa masa depan," pungkasnya. (*)
Pewarta | : Hainor Rahman |
Editor | : Hainorrahman |