TIMES JAKARTA, JAKARTA – Setelah menyerang Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro, negara mana yang selanjutnya jadi sasaran Amerika Serikat? Kuba? Kolombia? Terusan Panama?
Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat kini juga sedang mengincar Kuba. "Rezim Havana menjadi sasaran berikutnya," katanya.
Dalam sebuah pernyataan jumpa pers menjawab pertanyaan wartawan di resor Mar-a-Lago miliknya di Palm Beach, Florida, Sabtu (3/1/2026), Trump mengisyaratkan bahwa Kuba bisa menjadi fokus baru kebijakan luar negeri pemerintahannya.
Saat jumpa pers itu, Trump didampingi Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Direktur CIA John Ratcliffe, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine, dan penasihat keamanan dalam negerinya Stephen Miller.
Ia menyebut Kuba sebagai "negara yang gagal". Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio juga memberi sinyal bahwa AS akan bersikap yang lebih keras terhadap Kuba.
Trump juga mengindikasikan bahwa Kuba bisa menjadi topik diskusi sebagai bagian dari kebijakan AS yang lebih luas di luar Venezuela di kawasan Amerika Latin karena hubungannya saat ini semakin tegang.
Trump mengatakan, Kuba 'sesuatu yang akan dibicarakan' setelah penggulingan Nicolas Maduro. Trump juga kembali melontarkan komentar agresif terhadap Presiden Kolombia Gustavo Petro, yang menurutnya memimpin negara yang terlibat dalam perdagangan narkotika.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio menggambarkan Kuba sebagai "bencana" dengan ekonomi yang runtuh yang dijalankan oleh "orang-orang yang tidak kompeten dan pikun."
Selama masa jabatan pertamanya, Trump membalikkan kebijakan pemerintahan Obama tentang keterlibatan dengan Kuba, dan Trump menyatakan bahwa kebijakan itu hanya memperkaya rezim tersebut.
"Kuba akan menjadi sesuatu yang akan terus kami bicarakan, karena Kuba saat ini adalah negara yang gagal, negara yang sangat gagal, dan kami ingin membantu rakyatnya. Situasinya sangat mirip, dalam artian kami ingin membantu rakyat di Kuba, tetapi kami juga ingin membantu orang-orang yang terpaksa meninggalkan Kuba dan tinggal di negara ini," ujarnya.
Trump mengulangi komentar agresif terhadap Presiden Kolombia Gustavo Petro, yang bulan lalu mencela pemerintahan Trump sebagai "klan pedofil" dengan mengutip berkas investigasi dari pelaku pelecehan dan perdagangan manusia Jeffrey Epstein.
Trump mengatakan Petro juga memimpin negara yang terkait erat dengan perdagangan narkotika. Kemudian dia mengatakan bahwa dia tetap pada pernyataan yang dia buat akhir bulan lalu bahwa pemimpin Amerika Selatan itu perlu "berhati-hati".
Jadi, seperti dilansir Palm Beach Post, Kuba-lah yang paling ingin dibahas Trump di Palm Beach ketika membicarakan Operasi Absolute Resolve seperti saat hendak menggulingkan Maduro dari kursi kekuasaan di Caracas.
"Kami ingin mengelilingi diri kami dengan tetangga yang baik," kata Trump. "Kami ingin mengelilingi diri kita dengan stabilitas," tambahnya
Rezim komunis di Havana, yang kini dipimpin oleh Miguel Diaz-Canel, telah berkuasa selama 67 tahun. Rezim tersebut merayakan ulang tahun revolusi yang dipimpin Fidel Castro pada Hari Tahun Baru.
"Kuba, anda tahu, sedang tidak dalam kondisi baik saat ini. Sistem itu bukanlah sistem yang baik bagi Kuba. Rakyat di sana telah menderita selama bertahun-tahun," tegas Trump.
Sekarang setelah Amerika Serikat "mengelola" Venezuela, seperti yang digambarkan Trump, pemerintahan tersebut berada dalam posisi untuk sepenuhnya menghentikan pengiriman minyak Venezuela ke Kuba. Subsidi minyak bumi yang diberikan rezim Maduro kepada Havana adalah salah satu dari sedikit sumber bantuan luar negeri yang masih dapat diandalkan oleh pemerintah Kuba.
"Kembalinya Venezuela ke supremasi hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia memiliki implikasi internasional. Rezim Kuba tidak akan lagi bisa mengambil keuntungan dari minyak Venezuela," kata Frank Calzon dari Center for a Free Cuba.
"Iran, Rusia, China, Nikaragua, dan Kuba telah kehilangan sekutu strategis di Amerika. Dan mudah-mudahan, dengan sumber daya minyaknya yang besar dikelola dengan baik, Venezuela akan kembali menjadi negara yang hebat."
Namun retorika keras presiden Trump itu tidak membuat anggota DPR AS, Lois Frankel, seorang Demokrat dari West Palm Beach yang mewakili distrik kongres ke-22 Florida yang mencakup kediaman Trump di Mar-a-Lago, terkesan.
"Tidak ada cara untuk memprediksi apa yang akan dilakukan presiden ini," kata Frankel. "Retorika semacam itu berbahaya dan meningkatkan risiko eskalasi di seluruh kawasan. Amerika Serikat harus memimpin dengan diplomasi dan stabilitas, bukan ancaman yang membuat kawasan, dan kami...menjadi kurang aman," ujar dia
Ketika ditanya oleh Trump untuk berbicara tentang situasi di pulau Karibia yang berjarak 90 mil dari pantai AS itu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menambahkan bahwa Kuba adalah "bencana."
"Pemerintah ini dijalankan oleh orang-orang yang tidak kompeten dan pikun, tetapi tetap saja tidak kompeten," katanya. "Pemerintah ini tidak memiliki ekonomi. Pemerintah ini benar-benar runtuh," kata Marco Rubio.
Sebelumnya, Rubio juga mengatakan, bahwa pemerintah "akan berbicara dengan siapa pun" tetapi memperingatkan lawan-lawannya agar tidak melakukan permainan politik.
"Jangan main-main dengan presiden ini karena hasilnya tidak akan baik," kata mantan senator AS dari Florida dan putra dari pengungsi Kuba tersebut. "Saya kira pelajaran itu telah dipetik tadi malam dan kami berharap itu akan menjadi pelajaran berharga ke depannya."
Trump telah lama terlibat dalam kebijakan luar negeri Kuba, dan politik domestik AS. Dia adalah satu-satunya kandidat presiden yang pernah didukung oleh organisasi veteran Teluk Babi, Brigade 2506 Association, pertama pada tahun 2016 dan kemudian pada tahun 2020 dan 2024. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Setelah Tangkap Presiden Venezuela, Sasaran AS Berikutnya Adalah Kuba
| Pewarta | : Widodo Irianto |
| Editor | : Ronny Wicaksono |