https://jakarta.times.co.id/
Opini

Gen Z dan Ekosistem Literasi Baru

Senin, 05 Januari 2026 - 14:48
Gen Z dan Ekosistem Literasi Baru Rochmad Widodo, Founder Penerbit Biografi Indonesia, dan Aktif sebagai Penulis Biografi Tokoh-tokoh Nasional.

TIMES JAKARTA, JAKARTA – Di tengah kekhawatiran akan merosotnya minat baca akibat gempuran gawai dan media sosial, muncul sebuah kabar baik: Generasi Z ternyata menunjukkan wajah baru sebagai generasi pembaca. Fenomena ini menjadi angin segar bagi masa depan literasi Indonesia bahkan membuka optimisme baru terhadap terwujudnya Visi Indonesia Emas 2045.

Selama bertahun-tahun, narasi tentang anak muda kerap dilekatkan dengan citra serba instan, dangkal, dan jauh dari buku. Namun, realitas hari ini menunjukkan cerita yang berbeda. Buku tidak lagi sekadar objek sunyi di rak perpustakaan, melainkan hadir sebagai bagian dari gaya hidup, identitas, dan ruang dialog generasi muda.

Fenomena ini penting dicatat. Sebab, literasi bukan hanya soal kemampuan membaca, melainkan fondasi utama bagi kualitas sumber daya manusia, daya kritis warga negara, dan kemajuan peradaban.

Sejumlah riset menunjukkan adanya pergeseran perilaku membaca di kalangan anak muda. Laporan Publishing Perspectives (2022) mencatat bahwa kelompok usia 16–25 tahun secara global justru menjadi segmen pembaca cetak yang tumbuh signifikan, terutama untuk buku fiksi, sastra populer, dan pengembangan diri.

Di Indonesia, temuan serupa tercermin dalam survei Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) yang menunjukkan peningkatan penjualan buku cetak pascapandemi, dengan pembeli dominan berasal dari generasi muda.

Sementara itu, studi OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development) melalui PISA (Programme for International Student Assessment) menegaskan bahwa minat baca dan keterlibatan membaca di luar sekolah memiliki korelasi kuat dengan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Dengan kata lain, kebiasaan membaca hari ini adalah investasi kecerdasan bangsa di masa depan.

Seperti diingatkan sosiolog Prancis Pierre Bourdieu, “Literacy is not just a skill, but a form of cultural capital.” Literasi adalah modal budaya yang menentukan posisi dan daya saing suatu bangsa.

Tumbuhnya minat baca Gen Z tidak terjadi di ruang hampa. Salah satu penopang utamanya adalah transformasi ekosistem membaca itu sendiri. Perpustakaan tak lagi identik dengan ruang sunyi yang kaku dan berdebu.

Di banyak kota, perpustakaan telah bertransformasi menjadi ruang publik yang nyaman, inklusif, dan adaptif lengkap dengan desain modern, koleksi mutakhir, ruang diskusi, hingga fasilitas digital.

Toko buku pun mengalami metamorfosis serupa. Kehadirannya kini berpadu dengan kafe, ruang kerja bersama, dan akses Wi-Fi gratis. Buku tidak lagi diposisikan sebagai benda akademik yang berat, melainkan sebagai teman ngobrol, sumber inspirasi, dan bagian dari pengalaman sosial. Membaca menjadi aktivitas yang “hidup”, relevan dengan ritme keseharian Gen Z.

Ray Bradbury pernah menulis, “You don’t have to burn books to destroy a culture. Just get people to stop reading them.” Kini, justru sebaliknya yang terjadi: ruang-ruang membaca kembali dipenuhi anak muda.

BookTok dan Demokratisasi Literasi

Media sosial, yang selama ini dituding sebagai musuh buku, justru berperan sebagai sekutu baru. BookTok di TikTok, Bookstagram di Instagram, hingga bookfluencer di YouTube telah menjelma menjadi agen promosi literasi yang efektif. Rekomendasi buku kini tidak lagi bersifat elitis, tetapi personal, emosional, dan mudah diakses.

Penelitian oleh Zomer & Craig (2023) dalam Journal of Publishing Studies menunjukkan bahwa rekomendasi buku berbasis media sosial secara signifikan meningkatkan minat beli dan minat baca generasi muda, bahkan terhadap buku cetak. Ulasan singkat, visual menarik, dan kedekatan emosional membuat buku kembali “berbicara” dalam bahasa generasi digital.

Dalam konteks ini, teknologi tidak membunuh budaya membaca, melainkan mengubah cara buku menemukan pembacanya.

Optimisme ini akan semakin kuat jika ditopang oleh kreativitas penulis dan penerbit dalam menyajikan buku-buku yang relevan, jujur, dan berkualitas. Tema-tema yang dekat dengan realitas anak muda, gaya bahasa yang komunikatif, serta desain yang menarik menjadi kunci agar buku tetap hidup di tengah arus konten digital.

Sejarah membuktikan, setiap teknologi baru selalu memicu kecemasan serupa. Ketika radio hadir, orang takut buku mati. Ketika televisi berkembang, kekhawatiran itu kembali muncul. Namun buku tetap bertahan karena ia bukan sekadar medium, melainkan ruang perenungan.

Umberto Eco dengan tajam menyatakan, “The book is like the spoon, the hammer, the wheel. Once invented, it cannot be improved.”

Jika iklim membaca ini terus dipelihara—didukung kebijakan publik, ekosistem perbukuan yang sehat, serta kolaborasi cerdas antara teknologi dan literasi—maka Gen Z berpotensi menjadi generasi emas pembaca Indonesia. Mereka bukan hanya konsumen informasi, tetapi produsen gagasan; bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi pengendali arah peradaban.

Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir dari generasi yang hanya menggulir layar, tetapi dari generasi yang juga membuka halaman demi halaman buku. Di sanalah daya pikir, empati, dan imajinasi bangsa ditempa. Dan barangkali, di tangan para “kutu buku” Gen Z inilah, masa depan Indonesia menemukan harapannya yang paling masuk akal.

 

***

*) Oleh : Rochmad Widodo, Founder Penerbit Biografi Indonesia, dan Aktif sebagai Penulis Biografi Tokoh-tokoh Nasional.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jakarta just now

Welcome to TIMES Jakarta

TIMES Jakarta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.