Obesitas Ancam Kesuburan hingga Jantung, Dokter Ingatkan Bahaya Tersembunyi
Dokter penyakit dalam ingatkan obesitas picu PCOS, endometriosis, diabetes, hingga risiko jantung dan Alzheimer. WHO sebut obesitas sebagai penyakit kronis.
JAKARTA – Obesitas bukan sekadar soal penampilan, tetapi ancaman serius bagi kesehatan, termasuk sistem reproduksi perempuan. Dokter spesialis penyakit dalam dr. M. Vardian Mahardika, M.Biomed, Sp.PD, AIFO-K mengingatkan bahwa kelebihan berat badan dapat memicu gangguan hormonal yang berdampak luas.
Menurutnya, ketidakseimbangan hormon akibat obesitas kerap berujung pada masalah kesuburan seperti Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) dan endometriosis, dua kondisi yang semakin sering ditemukan pada perempuan usia produktif.
“Obesitas itu sangat berkaitan dengan fertilitas, misalnya PCOS. Kemudian endometriosis juga bisa terjadi karena kondisi obesitas. Jadi perempuan harus mulai lebih aware terhadap obesitas,” ujar Vardian saat ditemui di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Dokter yang menamatkan pendidikan spesialis penyakit dalam di Universitas Brawijaya itu mengatakan saat perempuan memasuki fase perimenopause di usia 45–50 tahun ke atas, kadar hormon mulai menurun.
Pada fase ini, berbagai penyakit lebih mudah muncul, terlebih jika sebelumnya mengalami obesitas.
Selain itu, Vardian menambahkan bahwa hal penting yang perlu disoroti adalah definisi obesitas itu sendiri, lantaran banyak orang hanya berpatokan pada berat badan atau BMI (IMT).
Padahal, BMI belum tentu mampu menggambarkan distribusi lemak dan komposisi tubuh secara menyeluruh.
“Makanya banyak orang yang badannya kelihatannya tidak obesitas, tapi ketika kita cek lingkar perutnya, perbandingan lingkar perut dengan lingkar paha, tinggi badan, ternyata lemaknya sudah tinggi dan masuk ke kategori obesitas,” tutur dia.
Vardian menyampaikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menekankan bahwa obesitas ini sebagai penyakit kronis pada tahun 2022. Hal ini lantaran penderita obesitas kerap memiliki berbagai penyakit penyerta, termasuk berkaitan dengan demensia dan Alzheimer.
“Kalau orang dibiarkan obesitas terus menerus, potensi terjadinya pikun atau Alzheimer itu akan meningkat. Turun ke pernapasan, orang obesitas biasanya masuk ke sleep apnea (henti napas saat tidur), ngorok,” ujar dia.
Dokter Vardian juga menyampaikan obesitas meningkatkan risiko stroke dan penyakit jantung. Pada organ jantung sendiri, penderita obesitas lebih rentan mengalami serangan jantung hingga gagal jantung.
Obesitas, lanjut Vardian juga menjadi faktor risiko terbesar diabetes tipe 2, fatty liver yang dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi sirosis atau bahkan kanker hati, batu empedu, serta penurunan libido bisa terjadi karena enzim pada jaringan lemak mengubah testosteron menjadi estrogen, beban sendi.
“Kompleks banget kalau kita ngomongin obesitas. WHO sudah meng-highlight obesitas bukan hanya faktor risiko tapi penyakit kronis. Penanganannya tidak bisa niat aja, olahraga, makan dikurangi. Enggak sesimpel itu. Harus ada peran dokter, lifestyle modification, farmakologi (obat-obatan), dan mungkin operasi bariatrik,” imbuh dia. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



