https://jakarta.times.co.id/
Gaya Hidup

Cara Mengatur Ritme Napas Saat Berlari untuk Pemula

Senin, 19 Januari 2026 - 06:14
Tanpa Ngos-ngosan: 5 Rahasia Mengatur Napas agar Kuat Berlari Jauh Illustrasi. Mengatur napas adalah kunci utama agar bisa berlari lebih jauh dan tenang. (Foto: Freepik)

TIMES JAKARTA, JAKARTA – Pernahkah Anda baru berlari selama lima menit, namun dada sudah terasa sesak dan napas terengah-engah seperti sedang mendaki gunung? Tenang, Anda tidak sendirian. Banyak pelari, bahkan mereka yang sudah rutin berlari, sering kali terjebak dalam masalah yang sama: energi masih ada, kaki masih kuat, tetapi napas sudah "habis".

Masalahnya biasanya bukan pada kondisi fisik Anda yang lemah, melainkan pada cara Anda bernapas. Mengatur napas adalah kunci utama jika Anda ingin beralih dari pelari jarak pendek menjadi pelari jarak jauh. Berikut adalah rahasia mengatur napas agar Anda bisa berlari lebih jauh tanpa rasa tersiksa.

1. Gunakan Pernapasan Perut (Bukan Pernapasan Dada)

Kesalahan paling umum adalah bernapas menggunakan dada. Saat Anda bernapas dengan dada, napas cenderung dangkal, sehingga oksigen yang masuk ke paru-paru tidak maksimal.

Caranya: Cobalah teknik pernapasan diafragma atau perut. Saat menarik napas, pastikan perut Anda mengembang, bukan dada. Teknik ini memungkinkan paru-paru mengambil lebih banyak oksigen dan membantu membuang karbon dioksida secara lebih efisien. Hasilnya? Tubuh tidak cepat lelah.

2. Gunakan Mulut dan Hidung Sekaligus

Mungkin Anda pernah mendengar saran untuk "tarik napas dari hidung, buang dari mulut". Saat berjalan santai, teknik ini efektif. Namun, saat berlari, otot-otot Anda membutuhkan pasokan oksigen yang sangat besar dan cepat.

Bernapaslah melalui hidung dan mulut secara bersamaan. Hal ini akan memperlebar jalur masuknya oksigen dan membuat otot-otot pernapasan di area wajah lebih rileks.

3. Temukan Ritme yang Stabil (Pola 2:2 atau 3:3)

Kunci agar tidak ngos-ngosan adalah sinkronisasi antara langkah kaki dan napas. Cobalah menggunakan pola langkah:

  • Pola 2:2: Ambil napas selama dua langkah kaki, dan buang napas dalam dua langkah kaki berikutnya. Pola ini sangat populer karena menjaga detak jantung tetap stabil.

  • Pola 3:3: Cocok untuk lari dengan tempo yang sangat santai (easy run).

Menjaga ritme ini akan mencegah Anda mengambil napas secara panik dan tidak teratur.

4. Lakukan "Talk Test" (Tes Bicara)

Bagaimana cara mengetahui apakah kecepatan lari Anda sudah benar? Gunakan talk test. Jika Anda masih bisa mengucapkan satu kalimat lengkap tanpa terputus saat berlari, berarti napas Anda berada di zona yang aman. Jika untuk menjawab "Ya" saja Anda sudah kesulitan, itu tandanya Anda berlari terlalu cepat. Turunkan kecepatan hingga napas Anda kembali stabil.

5. Jaga Postur Tubuh Tetap Tegak

Postur yang membungkuk akan menekan paru-paru dan membatasi ruang gerak diafragma. Pastikan punggung Anda tegak, bahu rileks (jangan diangkat ke arah telinga), dan pandangan lurus ke depan. Postur yang baik adalah cara termudah untuk membuka jalur pernapasan secara alami.

Lari bukan hanya soal kekuatan kaki, tetapi soal manajemen oksigen. Dengan melatih pernapasan perut dan menjaga ritme yang konsisten, jarak 5km atau bahkan 10km bukan lagi sekadar impian. Ingat, lari yang baik adalah lari yang membuat Anda merasa segar, bukan menderita. (*)

Pewarta : Deasy Mayasari
Editor : Deasy Mayasari
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jakarta just now

Welcome to TIMES Jakarta

TIMES Jakarta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.