https://jakarta.times.co.id/
Opini

Kampus, Pabrik Kecil Bernama Akademik

Sabtu, 24 Januari 2026 - 17:00
Kampus, Pabrik Kecil Bernama Akademik Raga Arya, International Master Student  in Republic of China.

TIMES JAKARTA, JAKARTA – Di baliho-baliho penerimaan mahasiswa baru, kampus selalu digambarkan seperti taman surga: gedung megah, mahasiswa tersenyum putih, dosen bijak berjas cokelat muda, dan slogan yang menguap tinggi ke langit: unggul, berkarakter, berdaya saing global. Tapi di balik poster yang wangi tinta itu, kampus sering kali bekerja seperti pabrik kecil yang sibuk menghitung kepala, bukan mengasah kepala.

Mahasiswa datang bukan lagi diperlakukan sebagai penjelajah ilmu, melainkan angka dalam laporan keuangan. Mereka disebut “aset”, “input”, atau “pangsa pasar”. Ilmu pengetahuan berdiri di etalase depan, sementara mesin kas berdetak di ruang belakang.

Kampus hari ini semakin mirip mal yang berkostum perpustakaan. Ada paket studi, diskon pendaftaran, cicilan UKT, hingga promo beasiswa yang kadang lebih mirip brosur kartu kredit daripada ikhtiar mencerdaskan bangsa. Di ruang kelas, dosen bicara tentang idealisme. Di ruang rapat, rektorat bicara tentang target mahasiswa baru.

Ilmu pun perlahan berubah menjadi komoditas. Mata kuliah disusun bukan semata karena relevansi akademik, tetapi karena “laku dijual”. Program studi dibuka seperti membuka lapak: mana yang ramai peminat, mana yang cepat balik modal. Filsafat sering kalah pamor dari manajemen. Sastra tersisih oleh bisnis digital. Sejarah dikalahkan oleh “entrepreneurship”.

Buku tebal digeser oleh modul ringkas. Diskusi panjang dipangkas oleh presentasi kilat. Kampus mengejar efisiensi seperti pabrik mengejar target produksi. Mahasiswa dituntut lulus cepat, bukan berpikir dalam. Yang penting bukan matang, tapi cepat matang seperti mi instan.

Ironisnya, semua itu dibungkus rapi dengan narasi akademik. Setiap kebijakan disebut “strategi peningkatan mutu”. Setiap kenaikan biaya disebut “penyesuaian kualitas layanan”. Setiap kritik mahasiswa disebut “kurang memahami sistem”. Bahasa ilmiah berubah menjadi bedak tebal untuk menutup wajah industri.

Padahal, kampus seharusnya menjadi ruang paling bebas dari logika pasar. Tempat di mana pertanyaan lebih penting daripada jawaban, dan keraguan lebih mulia daripada kepastian palsu. Tapi hari ini, pertanyaan yang paling sering muncul bukan lagi “apa kebenaran?”, melainkan “berapa biaya?”

Mahasiswa pun berubah fungsi. Dari subjek pencari ilmu menjadi konsumen jasa pendidikan. Hubungan intelektual bergeser menjadi hubungan transaksional. Dosen menjadi penyedia layanan, mahasiswa menjadi pelanggan. Ruang kelas seperti loket pelayanan, nilai seperti struk belanja.

Lebih menyedihkan lagi, pabrik mini bernama kampus ini sering kali tidak benar-benar peduli pada dampak sosial di luar temboknya. Lulusannya dilepas ke jalan raya kehidupan tanpa peta. Kurikulum disusun rapi di atas kertas, tetapi tak selalu berjejak di tanah realitas.

Akibatnya, lahirlah generasi berijazah tinggi dengan kebingungan setinggi gedung rektorat. Mereka fasih teori, tetapi gagap menghadapi dunia kerja. Pintar mengutip jurnal, tetapi bingung membaca peluang. Kampus sibuk memoles akreditasi, tetapi lupa mempersiapkan navigasi hidup mahasiswanya.

Industri pendidikan menghasilkan lulusan seperti produk massal: seragam, rapi, tapi rapuh. Ketika pasar kerja tak mampu menampung, kampus dengan enteng mengangkat bahu. Seolah tugasnya hanya sampai wisuda, bukan sampai kehidupan.

Di titik ini, kampus kehilangan makna sebagai mercusuar peradaban. Ia menjelma menjadi pabrik sunyi yang memproduksi gelar, bukan kesadaran. Ia sibuk menambah gedung, tetapi lupa membangun nurani. Sibuk memperluas parkiran, tetapi mempersempit ruang berpikir kritis.

Padahal, sejarah membuktikan bahwa perubahan besar selalu lahir dari kampus yang gelisah, bukan kampus yang sibuk menghitung laba. Dari ruang diskusi yang gaduh, bukan dari ruang administrasi yang dingin. Dari mahasiswa yang kritis, bukan dari brosur yang manis.

Jika kampus terus berjalan sebagai industri mini, maka pendidikan akan kehilangan rohnya. Ia tinggal tubuh tanpa jiwa. Gedung tanpa makna. Mesin tanpa arah.

Ilmu pengetahuan tidak diciptakan untuk dijual seperti sabun. Ia lahir untuk membebaskan manusia dari kebodohan, ketakutan, dan ketidakadilan. Ketika kampus lebih sibuk memasarkan diri daripada mendidik, di situlah pendidikan diam-diam sedang dikuburkan perlahan, rapi, dan legal.

Mungkin sudah waktunya kampus berhenti bercermin pada neraca keuangan, dan mulai bercermin pada wajah lulusannya: apakah mereka benar-benar merdeka berpikir, atau hanya produk berlabel akademik yang siap dilempar ke pasar nasib.

Sebab jika kampus terus menjadi pabrik, maka mahasiswa hanya akan menjadi barang setengah jadi, dan bangsa ini sekadar gudang besar bagi generasi yang terdidik, tetapi tidak benar-benar tercerahkan.

***

*) Oleh : Raga Arya, International Master Student  in Republic of China. 

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jakarta just now

Welcome to TIMES Jakarta

TIMES Jakarta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.