https://jakarta.times.co.id/
Opini

Ijazah Tanpa Pabrik

Sabtu, 24 Januari 2026 - 15:45
Ijazah Tanpa Pabrik Jakfar Shodiq, Mahasiswa Internasional Master Program in National Pingtung University Taiwan.

TIMES JAKARTA, JAKARTA – Di Taiwan, ijazah tidak seperti tiket undian. Ia bukan secarik kertas yang nasibnya ditentukan oleh keberuntungan. Lulus hari ini, besok sudah tahu ke mana kaki akan melangkah. 

Kampus dan industri berjalan beriringan seperti dua rel kereta yang lurus, tak saling menabrak, tak saling meninggalkan. Sementara di Indonesia, ijazah sering lebih mirip surat cinta yang tak pernah dibalas: dikirim dengan harapan, pulang dengan sunyi.

Di negeri pulau itu, pendidikan dirancang seperti peta jalan. Anak muda tidak dibiarkan tersesat di persimpangan antara idealisme dan perut kosong. Jurusan dibuka bukan sekadar karena tren, melainkan karena pabrik, rumah sakit, laboratorium, dan bengkel memang membutuhkan tenaga. Negara membaca kebutuhan pasar kerja seperti membaca ramalan cuaca: dengan data, bukan dengan perasaan.

Taiwan memahami satu hal sederhana: sekolah bukan museum ilmu, tetapi bengkel masa depan. Kurikulum mereka tidak sibuk menumpuk teori seperti menimbun barang di gudang tua. Ia dipahat agar pas dengan bentuk mesin industri. 

Mahasiswa teknik sudah akrab dengan suara logam sebelum wisuda. Mahasiswa kesehatan sudah terbiasa dengan bau antiseptik sebelum toga dikenakan. Pendidikan di sana bukan menara gading, melainkan jembatan gantung yang kokoh menuju dunia kerja.

Di Indonesia, jembatan itu sering putus di tengah sungai. Di satu sisi, kampus rajin mencetak lulusan seperti pabrik kalender: rutin, massal, dan penuh angka. Di sisi lain, lapangan kerja tumbuh seperti bonsai indah, tetapi kerdil. Ribuan sarjana lahir setiap tahun, tetapi lowongan kerja tetap setipis halaman belakang buku skripsi.

Tak heran jika wisuda di sini kadang terasa seperti upacara pelepasan kapal tanpa pelabuhan tujuan. Toga dilempar tinggi, kamera berbunyi riuh, orang tua tersenyum bangga, tetapi setelah itu? Grup WhatsApp alumni berubah menjadi papan pengumuman kegelisahan: “Ada info kerja?”, “Lowongan apa saja asal halal?”, “Yang penting bukan magang tanpa gaji.”

Taiwan tidak membiarkan anak mudanya hidup dalam kabut seperti itu. Negara hadir sebagai perencana, bukan hanya penonton. Industri dilibatkan sejak meja kurikulum dibuka. 

Kampus tidak berjalan sendiri seperti pedagang keliling, sementara dunia usaha berjualan di pasar lain. Mereka duduk satu meja, menyamakan menu: tenaga apa yang dibutuhkan, keterampilan apa yang harus diajarkan, teknologi apa yang akan datang lima tahun ke depan.

Indonesia sering melakukan sebaliknya: mendidik dengan mata tertutup, lalu berharap pasar kerja membuka tangan lebar-lebar. Akibatnya, lahirlah generasi “sarjana serba bisa tapi tak dipakai”: bisa presentasi, bisa diskusi, bisa menulis makalah, tetapi bingung ketika diminta mengoperasikan mesin atau membaca kebutuhan industri.

Di Taiwan, pendidikan vokasi tidak diperlakukan seperti anak tiri. Ia justru menjadi tulang punggung. Menjadi teknisi bukan dianggap gagal jadi sarjana, tetapi sukses menjadi profesional. 

Di Indonesia, vokasi sering diposisikan sebagai pilihan cadangan, tempat berlabuh bagi mereka yang “tak cukup kuat” mengejar universitas. Padahal dunia kerja hari ini lebih membutuhkan tangan terampil daripada pidato panjang.

Satirnya, Indonesia rajin membangun gedung kampus megah, tetapi lupa membangun jembatan ke pabrik. Kita bangga dengan jumlah universitas, tetapi canggung dengan jumlah pengangguran terdidik. Kita merayakan indeks pendidikan naik, tetapi menutup mata pada indeks kegalauan lulusan.

Taiwan menganggap pengangguran lulusan sebagai kegagalan sistem. Indonesia kadang menganggapnya sebagai nasib. Di sini, pengangguran sering disiram motivasi: “sabar, rezeki sudah diatur.” Di sana, pengangguran disiram kebijakan: perbaikan kurikulum, insentif industri, dan pemetaan kebutuhan tenaga kerja.

Akibat ketidakseimbangan ini, banyak lulusan Indonesia akhirnya bekerja jauh dari ilmunya. Sarjana pertanian menjual ponsel, lulusan sastra menjadi admin gudang, sarjana teknik beralih menjadi kurir. Bukan pekerjaan itu hina, tetapi sistemnya yang ironis: negara membiayai pendidikan mahal, lalu membiarkan ilmunya berdebu di rak kenangan.

Taiwan membangun ekosistem. Indonesia membangun gedung. Taiwan menanam hubungan antara kampus dan industri. Indonesia menanam spanduk “selamat datang mahasiswa baru.” Taiwan menyiapkan masa depan. Indonesia sering menyiapkan seremoni.

Pendidikan seharusnya seperti mata uang: nilainya berlaku di pasar kerja. Di Indonesia, ijazah sering seperti uang kuno bernilai di album kenangan, tetapi ditolak di kasir kehidupan nyata.

Jika ketimpangan ini terus dibiarkan, kita akan terus memproduksi generasi dengan kepala penuh teori dan kantong penuh tanya. Negara akan kaya gelar, tetapi miskin kesempatan. Kampus akan sibuk mencetak lulusan, sementara dunia kerja sibuk menutup pintu.

Belajar dari Taiwan bukan berarti meniru habis-habisan, tetapi memahami prinsipnya: pendidikan harus berdansa dengan industri, bukan berjalan sendiri seperti penari tanpa musik. Negara harus menjadi dirigen, bukan sekadar penjual tiket konser.

Jika tidak, pendidikan kita akan terus melahirkan paradoks: sekolah tinggi, pengangguran tinggi. Dan lulusan akan terus berdiri di perempatan jalan, memegang ijazah seperti peta harta karun, tetapi tanpa tanda silang di mana masa depan sebenarnya terkubur.

 

***

*) Oleh : Jakfar Shodiq, Mahasiswa Internasional Master Program in National Pingtung University Taiwan.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jakarta just now

Welcome to TIMES Jakarta

TIMES Jakarta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.