https://jakarta.times.co.id/
Opini

Simposium Muda Berkarya

Senin, 02 Februari 2026 - 00:38
Simposium Muda Berkarya Raga Arya, International Master Student in Republic of China.

TIMES JAKARTA, JAKARTA – Di tengah zaman yang riuh oleh kompetisi, kecepatan, dan tuntutan serba instan, anak muda kerap diposisikan secara paradoksal. Di satu sisi, mereka dipuji sebagai agen perubahan, bonus demografi, dan harapan masa depan bangsa. Di sisi lain, mereka sering kali dibiarkan berjalan tanpa ruang tumbuh yang sehat tanpa forum yang memberi arah, tanpa ekosistem yang merawat proses berpikir. 

Dalam konteks inilah, Simposium Muda Berkarya menemukan relevansinya: bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang intelektual untuk menata ulang makna berkarya di usia muda.

Simposium ini penting karena ia menawarkan jeda di tengah kebisingan. Di saat banyak ruang publik dipenuhi lomba popularitas dan adu sensasi, Simposium Muda Berkarya justru mengajak anak muda kembali pada substansi: gagasan, refleksi, dan kontribusi. Berkarya tidak direduksi sebagai soal viral atau panggung, tetapi sebagai proses panjang membangun nalar, karakter, dan tanggung jawab sosial.

Anak muda hari ini hidup dalam dunia yang serba cepat. Ide harus singkat, opini harus tajam, dan keberhasilan harus segera terlihat. Sayangnya, logika kecepatan sering kali mengorbankan kedalaman. 

Banyak anak muda cerdas, tetapi kelelahan; kreatif, tetapi kehilangan arah. Simposium hadir sebagai ruang untuk bernapas tempat gagasan tidak harus sempurna, tetapi jujur; tempat perbedaan tidak dipertentangkan, melainkan dipertukarkan.

Lebih dari itu, Simposium Muda Berkarya menegaskan bahwa intelektualitas bukan monopoli ruang akademik yang kaku. Ia bisa lahir dari diskusi terbuka, pengalaman lapangan, dan dialog lintas disiplin. Anak muda tidak hanya diajak mendengar, tetapi berpikir dan berbicara. 

Di sinilah pendidikan kewargaan bekerja secara nyata: membiasakan generasi muda menyampaikan pendapat dengan argumentasi, bukan emosi; dengan data, bukan prasangka.

Dalam konteks kebangsaan, simposium semacam ini juga menjadi benteng terhadap krisis karakter generasi. Ketika ruang dialog menyempit, ekstremisme baik ideologis maupun emosional mudah tumbuh. 

Ketika anak muda tidak diberi ruang aman untuk bertanya dan berbeda, mereka mencari jawaban di tempat yang salah. Simposium Muda Berkarya, dengan semangat keterbukaan, berfungsi sebagai penawar: mengajarkan bahwa berbeda bukan berarti bermusuhan, dan kritis bukan berarti melawan.

Berkarya, dalam perspektif simposium ini, tidak selalu berarti mencipta sesuatu yang besar dan spektakuler. Ia bisa berupa tulisan yang jujur, riset kecil yang konsisten, gerakan sosial yang sunyi, atau keberanian menyuarakan kebenaran di ruang terbatas. 

Anak muda diajak memahami bahwa kontribusi tidak selalu diukur dari sorotan, tetapi dari dampak. Inilah pendidikan nilai yang sering hilang di tengah budaya pamer capaian.

Simposium ini juga penting karena menghubungkan idealisme dengan realitas. Anak muda tidak hanya diajak bermimpi, tetapi diajak membaca konteks: sosial, politik, budaya, dan ekonomi. 

Gagasan tidak dibiarkan mengambang, tetapi ditautkan dengan tantangan nyata bangsa. Dari sinilah lahir kesadaran bahwa berkarya bukan sekadar ekspresi diri, melainkan tanggung jawab kolektif.

Di tengah derasnya arus individualisme, Simposium Muda Berkarya menghidupkan kembali semangat kolektif. Anak muda dipertemukan, bukan untuk saling mengalahkan, tetapi untuk saling menguatkan. 

Kolaborasi ditempatkan di atas kompetisi. Diskusi menggantikan adu gengsi. Ini penting, sebab bangsa yang besar tidak dibangun oleh individu jenius yang berjalan sendiri, melainkan oleh generasi yang mampu bekerja bersama meski berbeda latar dan pandangan.

Namun, simposium tidak boleh berhenti sebagai peristiwa. Tantangan terbesarnya justru terletak pada keberlanjutan. Gagasan yang lahir harus menemukan jalan pulang ke realitas: ke kampus, komunitas, sekolah, dan ruang sosial lainnya. 

Jika tidak, simposium hanya akan menjadi arsip kenangan, bukan pemantik perubahan. Oleh karena itu, ekosistem pendukung mentor, komunitas, dan kebijakan menjadi kunci agar semangat berkarya tidak padam setelah forum usai.

Simposium Muda Berkarya adalah pengingat bahwa masa muda bukan sekadar fase menunggu, tetapi masa menyiapkan diri. Ia adalah ruang belajar menjadi warga bangsa yang berpikir, merasa, dan bertindak dengan kesadaran. 

Di tengah dunia yang sering menuntut anak muda untuk cepat sukses, simposium ini justru mengajarkan sesuatu yang lebih penting: tumbuh dengan arah, berkarya dengan makna, dan berpikir dengan tanggung jawab.

 

***

*) Oleh : Raga Arya, International Master Student in Republic of China. 

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jakarta just now

Welcome to TIMES Jakarta

TIMES Jakarta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.