TIMES JAKARTA, JAKARTA – Setiap zaman selalu melahirkan tantangannya sendiri. Jika generasi masa lalu diuji oleh kemiskinan struktural, keterbatasan akses pendidikan, dan represi politik, maka generasi hari ini menghadapi ancaman yang jauh lebih halus namun tak kalah berbahaya: krisis karakter yang tumbuh di tengah kemajuan teknologi dan perubahan sosial yang serba cepat. Ancaman ini tidak datang dengan wajah garang, melainkan dengan tampilan ramah bernama kemudahan, popularitas, dan kecepatan.
Fenomena sosial baru yang kita hadapi hari ini bekerja secara perlahan, nyaris tanpa perlawanan. Ia menyusup melalui gawai di genggaman, algoritma media sosial, budaya instan, dan logika viral yang menggeser nilai.
Dalam dunia yang diukur oleh jumlah “like”, “view”, dan “engagement”, karakter sering kali kalah oleh sensasi. Yang penting bukan lagi apa yang benar, melainkan apa yang ramai.
Kita menyaksikan bagaimana ruang digital membentuk pola pikir generasi muda. Validasi eksternal menjadi candu baru. Pengakuan tidak lagi lahir dari proses panjang belajar, berjuang, dan berkontribusi melainkan dari seberapa cepat seseorang dikenal.
Popularitas instan menjadi mata uang sosial yang nilainya sering kali mengalahkan integritas. Di titik ini, karakter diuji bukan oleh godaan kekuasaan, melainkan oleh godaan eksistensi.
Fenomena flexing, misalnya, bukan sekadar pamer kekayaan. Ia adalah simbol pergeseran nilai: kesuksesan diukur dari apa yang terlihat, bukan dari apa yang berdampak. Kerja keras kalah oleh tampilan, proses kalah oleh hasil semu.
Generasi muda tumbuh dalam tekanan untuk terlihat “berhasil”, bahkan sebelum benar-benar memahami makna keberhasilan itu sendiri. Akibatnya, kejujuran menjadi relatif, etika mudah dinegosiasikan, dan jalan pintas terasa lebih rasional daripada jalan lurus.
Ancaman lain datang dari budaya instan yang mengikis daya tahan mental. Segalanya serba cepat: informasi, hiburan, bahkan relasi. Tidak ada ruang untuk menunggu, apalagi merenung. Padahal karakter dibentuk justru dalam proses panjang dalam kegagalan, kesabaran, dan konsistensi.
Ketika generasi dibesarkan tanpa ruang untuk berproses, maka yang lahir bukan pribadi tangguh, melainkan individu rapuh yang mudah frustrasi ketika realitas tidak sejalan dengan ekspektasi.
Di sisi lain, algoritma media sosial menciptakan ruang gema yang mempersempit cara pandang. Generasi muda dibanjiri konten yang sesuai selera, bukan yang menantang nalar. Perbedaan dianggap ancaman, kritik dianggap serangan.
Diskusi berubah menjadi debat kusir, dan empati tergeser oleh ego digital. Dalam situasi ini, kemampuan berpikir kritis dan sikap toleran dua fondasi karakter kebangsaan perlahan terkikis.
Fenomena sosial baru ini juga memengaruhi cara generasi memaknai moralitas. Baik dan buruk tidak lagi ditimbang berdasarkan nilai, tetapi berdasarkan respons publik. Selama mendapat dukungan massa, tindakan apa pun bisa dibenarkan.
Ini adalah bentuk relativisme moral yang berbahaya, karena mengaburkan batas antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial. Ketika suara mayoritas dijadikan kompas etika, maka kebenaran mudah terseret arus.
Yang lebih mengkhawatirkan, ancaman ini sering kali dianggap sepele. Kita sibuk menyalahkan generasi muda sebagai “lemah” atau “kurang tangguh”, tanpa bercermin pada ekosistem sosial yang kita ciptakan.
Padahal karakter tidak lahir di ruang hampa. Ia dibentuk oleh keluarga, sekolah, kebijakan publik, dan kultur sosial. Ketika semua sistem lebih menghargai hasil instan daripada proses bermakna, maka krisis karakter adalah konsekuensi logis, bukan kegagalan individual.
Pendidikan karakter pun kerap terjebak pada slogan. Nilai diajarkan, tetapi tidak dicontohkan. Integritas dipidatokan, tetapi dilanggar dalam praktik. Generasi muda memiliki radar moral yang tajam; mereka cepat menangkap ketidaksinkronan antara kata dan perbuatan. Ketika yang mereka lihat adalah kontradiksi, maka sinisme tumbuh, dan idealisme perlahan mati.
Namun ancaman ini bukan tanpa jalan keluar. Kesadaran adalah langkah pertama. Kita perlu mengakui bahwa fenomena sosial baru memang membawa kemajuan, tetapi juga risiko.
Literasi digital harus melampaui kemampuan teknis, menuju literasi etis dan kritis. Pendidikan harus kembali menekankan proses, bukan sekadar capaian angka. Keluarga dan institusi sosial perlu menjadi ruang aman untuk gagal, belajar, dan tumbuh.
Karakter generasi tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang mereka gunakan, melainkan oleh nilai apa yang kita tanamkan di tengah kecanggihan itu.
Fenomena sosial boleh berubah, tetapi tanggung jawab membentuk manusia berkarakter tetap sama. Jika tidak, kita mungkin akan melahirkan generasi yang sangat terhubung, tetapi kehilangan arah; sangat pintar, tetapi miskin kebijaksanaan.
***
*) Oleh : Jakfar Shodiq, Mahasiswa Internasional Master Program in National Pingtung University Taiwan.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |