https://jakarta.times.co.id/
Opini

Satu Abad NU Jaga Toleransi Kehidupan Bangsa

Jumat, 06 Februari 2026 - 23:01
Satu Abad NU Jaga Toleransi Kehidupan Bangsa Muhammad Hilman Mufidi, Anggota DPR RI Komisi X Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa.

TIMES JAKARTA, JAKARTA – Indonesia adalah negeri yang dibangun di atas perbedaan. Dari Sabang sampai Merauke, kita hidup dalam bentang budaya, bahasa, adat, dan keyakinan yang berlapis-lapis. Jika perbedaan itu tidak dirawat, Indonesia mudah berubah menjadi bara. 

Di sinilah toleransi menjadi pondasi utama, bukan sekadar hiasan kata-kata. Dan selama perjalanan bangsa ini, Nahdlatul Ulama (NU) hadir sebagai salah satu penjaga utama yang menjaga agar perbedaan tetap menjadi kekuatan, bukan ancaman.

Memasuki Satu Abad NU, kita tidak hanya merayakan usia organisasi Islam terbesar di dunia, tetapi juga menengok peran panjang NU sebagai jangkar kebangsaan. Seratus tahun perjalanan NU bukan sekadar hitungan kalender. 

Ia adalah perjalanan sejarah yang penuh ujian, penuh gelombang, dan penuh kerja sunyi dalam menjaga harmoni sosial. Di tengah perubahan zaman, NU tetap berdiri sebagai peneduh, menjadi pengikat persaudaraan ketika bangsa ini mulai rentan terpecah oleh polarisasi.

NU sejak awal berdiri pada 1926 membawa misi besar: menjaga Islam agar tetap ramah, membumi, dan bersenyawa dengan kehidupan masyarakat. NU memahami bahwa Indonesia bukan negara satu warna. 

Indonesia adalah taman luas dengan ribuan bunga. Jika ada satu kelompok yang memaksa semuanya harus sama, maka taman itu akan kehilangan keindahan. Maka toleransi bukan pilihan, melainkan keharusan.

Dalam prinsip Ahlussunnah wal Jamaah, NU menanamkan nilai moderasi yang jelas: tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal. Nilai ini bukan hanya tertulis dalam kitab atau diperdebatkan di ruang seminar, tetapi hidup dalam tradisi warga NU sehari-hari. Dari pesantren, majelis taklim, hingga langgar-langgar kecil di kampung, NU mengajarkan bahwa keberagamaan harus menghadirkan keteduhan, bukan kegaduhan.

Dalam konteks kebangsaan, NU juga memainkan peran penting dalam menjaga Indonesia tetap utuh. Pada banyak fase sejarah, NU membuktikan bahwa agama dan negara tidak harus dipertentangkan. NU memilih menjadi kekuatan perekat, bukan pemecah. 

Ketika Pancasila menjadi titik perdebatan, NU berdiri tegas bahwa Pancasila bukan musuh agama, melainkan kesepakatan luhur bangsa yang harus dijaga bersama. Itulah sebabnya NU sering disebut sebagai benteng moderasi Islam di Indonesia.

Momentum Satu Abad NU juga menegaskan bahwa NU bukan hanya bicara toleransi, tetapi membangun toleransi melalui pendidikan. Pesantren-pesantren NU menjadi sekolah kebangsaan yang melahirkan santri dengan cara pandang luas. 

Mereka diajarkan menghormati perbedaan, berpikir dewasa, serta tidak mudah terbakar provokasi. Pesantren bukan hanya tempat mengaji, tetapi juga tempat menempa karakter sosial dan kebangsaan.

NU menjaga toleransi bukan dengan teori kosong, melainkan dengan tradisi silaturahmi. NU terbiasa hidup berdampingan dengan kelompok lain, baik sesama umat Islam maupun umat agama lain. 

Dalam banyak kasus, warga NU menjadi garda terdepan menjaga kerukunan kampung, menjaga masjid dan gereja tetap berdiri berdampingan, menjaga ruang sosial tetap aman, bahkan ketika isu-isu intoleransi mencoba masuk lewat propaganda media sosial.

Di era digital hari ini, tantangan toleransi semakin rumit. Hoaks, ujaran kebencian, dan politik identitas bergerak cepat seperti angin. Tetapi NU tetap berusaha menjadi pelita di tengah kabut. Melalui dakwah yang santun, gerakan sosial, dan narasi Islam rahmatan lil ‘alamin, NU terus menjaga masyarakat agar tidak mudah terjebak dalam fanatisme sempit.

Tentu NU bukan organisasi tanpa masalah. NU juga manusiawi: ada dinamika internal, ada perbedaan pendapat, ada riak-riak yang kadang muncul. Namun justru di situlah kekuatan NU terlihat. Karena toleransi bukan berarti tanpa konflik, melainkan kemampuan untuk tetap bersaudara meskipun berbeda. NU selalu punya mekanisme kultural untuk meredam bara agar tidak menjadi api besar.

Di usia Satu Abad NU, peran NU sebagai penjaga toleransi bangsa menjadi semakin penting. Indonesia tidak boleh jatuh menjadi negara yang saling curiga, saling membenci, dan saling meniadakan. NU telah membuktikan selama seratus tahun bahwa agama dapat menjadi kekuatan damai, bukan kekuatan yang menakutkan.

Toleransi bukan sekadar wacana yang dibacakan di podium. Toleransi adalah kerja panjang, kerja harian, kerja kesabaran. NU telah menjalani kerja panjang itu selama satu abad. Seperti akar pohon besar yang tidak terlihat, tetapi menahan badai agar batang Indonesia tidak tumbang.

Dan selama NU tetap berdiri dalam jalan moderasi, selama pesantren tetap menanamkan nilai kasih sayang, selama para kiai tetap menjadi penuntun umat, maka toleransi bangsa ini akan tetap hidup. 

Satu Abad NU bukan hanya perayaan sejarah, melainkan penegasan bahwa NU akan terus menjadi rumah teduh bagi Indonesia penjaga persaudaraan di tengah dunia yang semakin bising.

***

*) Oleh : Muhammad Hilman Mufidi, Anggota DPR RI Komisi X Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jakarta just now

Welcome to TIMES Jakarta

TIMES Jakarta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.