TIMES JAKARTA, JAKARTA – Red Bull KTM resmi membuka lembaran MotoGP 2026 lewat peluncuran livery warna oranye yang agresif, dan aksen biru khas, Selasa (27/1/2026). Peluncuran livery ini sekaligus menandai musim sarat makna bagi pabrikan asal Austria tersebut.
Musim 2026 bukan sekadar kalender baru. Ini adalah tahun ke-10 Red Bull KTM tampil di level tertinggi Grand Prix dunia, sekaligus musim terakhir penggunaan KTM RC16 sebelum MotoGP memasuki era teknis baru pada 2027. Artinya, setiap detail musim ini menjadi fondasi penting—baik untuk hasil instan maupun masa depan.
Kombinasi Generasi dan Pengalaman
Red Bull KTM Factory Racing kembali mempercayakan motor kepada Pedro Acosta dan Brad Binder. Sementara itu, tim satelit Red Bull KTM Tech3 diperkuat Enea Bastianini dan Maverick Viñales.
Empat pebalap ini membawa total 24 musim pengalaman MotoGP—kombinasi darah muda dan jam terbang yang diharapkan mampu mendorong KTM ke level berikutnya di tengah persaingan yang makin rapat.
MotoGP modern adalah soal presisi dan angka, dan Red Bull KTM datang dengan data yang bicara keras. Pada 2025, mereka mengoleksi 14 podium Grand Prix dan Sprint, serta mencatat 17 finis lima besar. Acosta finis keempat klasemen dunia—menyamai capaian terbaik KTM sebelumnya.
Dari sisi performa murni, KTM RC16 masih memegang rekor kecepatan tertinggi MotoGP: 366,1 km/jam, dicetak Binder dan disamai Pol Espargaro. Pertanyaannya kini, apakah angka itu akan bertahan hingga akhir 2026?
Menuju Musim Panjang dan Melelahkan
MotoGP 2026 akan berlangsung dalam 22 seri, 22 Sprint Race, di 18 negara selama sembilan bulan. Menariknya, enam seri di antaranya bisa disebut sebagai “balapan kandang” bagi kuartet pebalap KTM—faktor emosional yang kerap memberi dorongan ekstra.
Persiapan dimulai cepat. Tes pramusim di Sepang tinggal hitungan hari, disusul peluncuran MotoGP di Kuala Lumpur dan tes lanjutan di Buriram, Thailand, sebelum musim resmi dibuka di Thai Grand Prix akhir Februari.
Suara dari Garasi KTM
Acosta menyebut paruh kedua 2025 sebagai titik balik. Ia menilai konsistensi finis lima besar menjadi modal penting untuk membidik hasil lebih besar di 2026. Binder, di sisi lain, menekankan pentingnya kembali menikmati motor dan mengandalkan insting alami di tengah persaingan yang ditentukan selisih sepersekian detik.
Di Tech3, Bastianini memandang 2025 sebagai musim pembelajaran, sementara Viñales justru menyambut tekanan besar sebagai bahan bakar motivasi. Ia mengaku berada dalam kondisi terbaik ketika memikul tanggung jawab besar untuk menjadikan proyek ini sukses.
Lebih dari Sekadar Musim Transisi
Dengan rekor 3,6 juta penonton MotoGP sepanjang 2025—naik 21 persen dari tahun sebelumnya—olahraga ini sedang berada dalam fase ekspansi. Bagi Red Bull KTM, 2026 bukan hanya soal bertahan di papan atas, tetapi tentang menegaskan identitas sebelum babak baru dimulai.
Musim ini adalah ujian akhir KTM RC16, sekaligus kesempatan terakhir untuk memaksimalkan potensi sebelum regulasi baru mengubah peta kekuatan MotoGP. Dan dari warna livery hingga pernyataan para pebalap, satu hal jelas: Red Bull KTM tidak datang untuk sekadar melengkapi grid. (*)
| Pewarta | : Rochmat Shobirin |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |