TIMES JAKARTA, JAKARTA – Lebanon menyampaikan pada Dewan Keamanan PBB, Selasa (27/1/2026) kemarin, bahwa mereka telah mencatat Israel melakukan pelanggaran gencatan senjata sebanyak lebih dari 6.256 kali dalam waktu tiga bulan, pelanggaran juga terus menerus dilakukan di Gaza tanpa ada konsekuensi apapun dari dunia.
Lebanon menyerukan kepada dewan untuk memaksa Israel menghentikan tindakan permusuhan dan sepenuhnya menarik diri dari wilayah Lebanon yang terus didudukinya.
Dalam suratnya kepada anggota Dewan Keamanan PBB, Ahmed Arafa, perwakilan tetap negara itu untuk PBB, mengatakan, bahwa pelanggaran antara November 2025 hingga Januari 2026 meliputi 1.542 pelanggaran darat, 3.911 pelanggaran udara, dan 803 pelanggaran laut. "Israel terus melakukan pelanggaran tersebut setiap hari," katanya seperti dilansir Arab News.
"Tindakan-tindakan tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan, integritas teritorial, dan kemerdekaan politik Lebanon, serta pelanggaran langsung terhadap kewajiban Israel berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, yang mengakhiri perang tahun 2006 antara Israel dan Hizbullah," kata Arafa dalam suratnya.
"Tindakan-tindakan tersebut juga merupakan pelanggaran terhadap deklarasi penghentian permusuhan tanggal 26 November 2024 yang mengakhiri perang terakhir antara Israel dan Hizbullah, tambahnya.
Lebanon menyerukan kepada Dewan Keamanan untuk memaksa Israel agar sepenuhnya melaksanakan Resolusi 1701, menghentikan tindakan permusuhannya, meninggalkan lima wilayah Lebanon yang terus didudukinya, dan sepenuhnya menarik diri dari perbatasan Lebanon yang diakui secara internasional.
Arafa mendesak dewan untuk menghentikan pelanggaran berulang Israel terhadap kedaulatan Lebanon, mengamankan pembebasan tahanan Lebanon, menghentikan apa yang ia sebut sebagai “ancaman terhadap persatuan teritorial dan kemerdekaan politik Lebanon,” serta menekan Israel untuk berhenti menargetkan Angkatan Bersenjata Lebanon yang menurutnya melakukan menjadi korban saat menjaga keamanan dan stabilitas di kawasan tersebut.
Ia menegaskan kembali komitmen Beirut untuk memenuhi kewajibannya berdasarkan Resolusi 1701, dan untuk mempertahankan penghentian permusuhan dengan Israel.
Dalam suratnya, Arafa juga mencatat bahwa pada tanggal 20 September 2025, Dewan Menteri Lebanon mengadopsi rencana lima tahap untuk penempatan Angkatan Bersenjata Lebanon di seluruh negeri guna memastikan bahwa semua senjata di negara itu berada di bawah wewenang negara sepenuhnya.
Rencana tersebut bertujuan untuk memulihkan kedaulatan Lebanon atas seluruh wilayahnya, memastikan bahwa “senjata tetap berada sepenuhnya di tangan Angkatan Bersenjata Lebanon, dan memperkuat perdamaian, keamanan, dan stabilitas di kawasan tersebut,” tambahnya.
Lebanon selanjutnya menekankan pentingnya mengakhiri pendudukan Israel, menerapkan Perjanjian Gencatan Senjata tahun 1949, mematuhi Inisiatif Perdamaian Arab yang diadopsi pada KTT Arab Beirut 2002, dan menghormati hak-hak Lebanon.
Diatas kertas saja
Sementara itu di Gaza, Israel dengan seenaknya juga terus menerus melakukan pembunuhan terhadap warga Palestina. Terbaru, Selasa kemarin, Israel telah membunuh dua warga Palestina di lingkungan al-Tuffah, Kota Gaza. Perilaku Israel ini seolah sudah menjadi hal yang biasa. Padahal Israel mengklaim menjunjung tinggi gencatan senjata di Gaza yang berlaku sejak Oktober 2025 lalu.
Di atas kertas, gencatan senjata itu memang tertulis, namun di lapangan, tembakan, serangan udara, dan penembakan artileri Israel terus berlanjut di Gaza hingga detik ini.
Menurut kantor berita Palestina, Wafa, selain menembak mati dua warga Palestina di al Tuffah, Israel juga melakukan pemboman di seluruh Rafah, Khan Younis timur, dan beberapa wilayah Kota Gaza. Serangan-serangan ini masih terjadi meskipun ada perjanjian gencatan senjata Oktober lalu yang ditengahi oleh Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat. Celakanya meski ada perjanjian gencatan senjata dan berulang kali dilanggar Israel, namun tidak ada konsekuensi apa-apa dari internasional. Dengan terjadinya pembunuhan baru terus menerus, kini semakin mengikis anggapan bahwa Israel bertindak defensif atau dengan itikad baik.
Pelanggaran gencatan senjata itu terus saja dilakukan Israel baik di Lebanon maupun di Gaza, dimana Lebanon juga mencatat 6.256 pelanggaran sejak selama tiga bulan sejak perjanjian dibuat dan telah dilaporkan ke Dewan Keamanan PBB, dan di Gaza , Israel juga berperilaku sama, sayangnya dunia internasional terkesan diam saja. (*)
| Pewarta | : Widodo Irianto |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |