Ketum IKA PTKIN Idrus Marham memberikan keterangan persnya. (FOTO: Fahmi/TIMES Indonesia)

Perkuat Toleransi dan Moderasi Beragama, IKA PTKIN Perluas Keanggotaan ke Kampus Umum dan Lintas Agama

Langkah strategis untuk memperkokoh fondasi moderasi beragama di Indonesia resmi diambil oleh Ikatan Keluarga Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (IKA PTKIN).

TIMES Jakarta,Jumat 17 Juli 2026, 19:54 WIB
382
A
Ahmad Nuril Fahmi

JAKARTALangkah strategis untuk memperkokoh fondasi moderasi beragama di Indonesia resmi diambil oleh Ikatan Keluarga Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (IKA PTKIN). Dalam upaya membangun narasi toleransi yang lebih luas, organisasi ini memutuskan untuk memperluas cakupan keanggotaannya agar tidak lagi terbatas pada alumni dari 59 perguruan tinggi Islam saja, melainkan merangkul perguruan tinggi umum, swasta, hingga institusi berbasis agama lain.

Keputusan krusial tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Forum Nasional IKA PTKIN, Idrus Marham, di Jakarta pada Jumat (17/7/2026), menyusul hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang diselenggarakan pada 13–15 Juli 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta. Gagasan ini dipandang sebagai instrumen penting untuk menanamkan nilai-nilai kerukunan di level pendidikan tinggi nasional.

"Kami (IKA PTKIN) tidak hanya mencakup alumni 59 kampus Islam. siap merangkul perguruan tinggi swasta, kampus umum, hingga perguruan tinggi berbasis agama lain," ujar Idrus Marham.

Idrus menegaskan bahwa perluasan ini bertujuan agar organisasi dapat menjadi wadah lintas iman yang efektif dalam membentengi bangsa dari sikap intoleransi.

"Sehingga forum ini (IKA PTKIN) betul-betul menjadi sebuah forum dalam rangka untuk memperkuat toleransi beragama, moderasi beragama di Indonesia," ungkapnya.

Gagasan progresif ini merupakan buah pemikiran dari Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, yang meyakini bahwa Indonesia memiliki pengalaman historis yang panjang dan matang dalam praktik moderasi beragama. Bahkan, model kerukunan umat beragama di Indonesia kini mulai menarik perhatian dunia internasional, termasuk Australia yang telah menyatakan ketertarikannya untuk mempelajari praktik tersebut secara langsung. Hal ini menjadi modal utama bagi Indonesia untuk memposisikan diri sebagai pusat transformasi peradaban dunia.

"Tentu nanti ini adalah modal dasar dalam rangka menjadikan Islam Indonesia pada episentrum, dalam rangka transformasi peradaban dunia. Itu pikiran-pikiran, dan tentu nanti perlu dikembangkan nanti dalam waktu yang tidak terlalu lama," tutur Idrus.

Selain itu, IKA PTKIN berkomitmen menghadirkan pendekatan baru dalam hubungan internasional yang tidak hanya berpijak pada kepentingan politik atau ekonomi, tetapi juga mengedepankan komunikasi keagamaan dan kemanusiaan sebagai fondasi perdamaian global. Idrus menginstruksikan seluruh pengurus untuk segera menyusun agenda kerja yang lebih intensif guna mensosialisasikan karakter Islam Indonesia yang moderat dan rahmatan lil alamin ke berbagai negara.

"Ini harus bekerja lebih intensif lagi secara kontinu, berkesinambungan, untuk menyusun agenda-agenda tidak hanya dilakukan di Indonesia, tapi tentu juga nanti akan dilakukan di di beberapa negara-negara lain dalam rangka untuk mensosialisasikan pikiran-pikiran ini," tukasnya.

Ketua Organizing Committee Festival Muharram, Amar Ahmad, menambahkan bahwa Rakernas ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Muharram yang menjadi ajang konsolidasi bagi organisasi yang baru terbentuk pada April 2026 tersebut. Rakernas yang diikuti oleh sekitar 240 pengurus dari 59 PTKIN ini membahas tiga agenda strategis, yakni penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), penyusunan program kerja forum nasional, serta perumusan pokok-pokok pikiran untuk menjawab tantangan keumatan dan kebangsaan.

"Usia organisasi ini memang masih sangat muda, tetapi gagasan dan pemikirannya sudah mendapat perhatian dari kalangan alumni, masyarakat, hingga para pemangku kepentingan nasional," ujar Amar.

Selain konsolidasi organisasi, rangkaian kegiatan juga mencakup seminar nasional yang dihadiri oleh sekitar 500 guru besar PTKIN. Seminar ini membahas isu-isu strategis, mulai dari posisi alumni dalam dinamika geopolitik global, isu ekoteologi mengenai hubungan Islam dengan pelestarian lingkungan, hingga penguatan tradisi ilmiah di lingkungan perguruan tinggi. Sejumlah tokoh nasional, seperti Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily dan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji, turut hadir memberikan perspektif mengenai kontribusi nyata alumni PTKIN dalam pembangunan nasional, menegaskan bahwa lulusan perguruan tinggi keagamaan memiliki kapasitas untuk memberikan solusi atas berbagai persoalan bangsa di masa depan.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Ahmad Nuril Fahmi
|
Editor:Imadudin Muhammad

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.