Tangani ATS, Kemendikdasmen Terjunkan Relawan ke Berbagai Wilayah Indonesia
Kemendikdasmen melepas 261 Relawan Pendidikan 2026 di 10 kabupaten untuk mendata dan mengembalikan Anak Tidak Sekolah (ATS) ke bangku pendidikan.
Jakarta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi melepas ratusan Relawan Pendidikan. Para relawan ini bertugas untuk menjangkau sekaligus mengupayakan Anak Tidak Sekolah (ATS) agar dapat kembali mengenyam layanan pendidikan yang layak.
Direktur Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal (PNFI) Kemendikdasmen, I Gusti Made Ardana, menyatakan bahwa Program Relawan Pendidikan memegang peran krusial di garda terdepan. Mereka memastikan anak-anak yang belum terjangkau layanan pendidikan bisa mendapatkan kembali hak belajar mereka.
“Program Relawan Pendidikan hadir sebagai bagian dari upaya penjangkauan berbasis komunitas. Relawan tidak hanya melakukan pendataan, tetapi juga memastikan anak-anak yang belum terjangkau dapat kembali terhubung dengan layanan pendidikan yang sesuai dan berkelanjutan,” ujar Made di Jakarta pada Jumat.
Pada tahun ini, program tersebut menyasar 10 kabupaten di Indonesia yang menjadi lokus utama, yaitu Kabupaten Sampang (Jawa Timur), Kabupaten Ogan Komering Ilir (Sumatera Selatan), Kabupaten Lampung Tengah (Lampung), Kabupaten Mimika (Papua Tengah), Kabupaten Maluku Tengah (Maluku), Kabupaten Jeneponto (Sulawesi Selatan), Kabupaten Agam (Sumatera Barat), Kabupaten Tapanuli Selatan (Sumatera Utara), Kabupaten Aceh Tamiang (Aceh), Kabupaten Indramayu (Jawa Barat).
Made menjelaskan bahwa program ini merupakan strategi pemerintah untuk memperkuat sistem penjangkauan dan pengembalian anak ke jalur pendidikan, baik formal maupun nonformal. Selain itu, program ini dirancang untuk menyajikan data ATS yang akurat, mutakhir, dan terintegrasi, yang nantinya menjadi landasan penyusunan kebijakan pendidikan di tingkat nasional dan daerah.
Lebih dari sekadar mendata, para relawan juga didorong untuk mengidentifikasi akar penyebab anak putus sekolah secara mendalam. Mereka akan memetakan kebutuhan belajar anak sekaligus memperkuat advokasi kepada masyarakat mengenai pentingnya edukasi.
“Kami berharap para relawan dapat membangun komunikasi yang baik dengan keluarga dan lingkungan sekitar anak. Keberhasilan program ini bukan hanya diukur dari jumlah anak yang terdata, tetapi dari berapa banyak anak yang benar-benar kembali memperoleh haknya untuk belajar dan memiliki harapan masa depan yang lebih baik,” kata Made.
Ia menegaskan, penguatan Program Relawan Pendidikan ini sejalan dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah, yang menempatkan isu ATS sebagai prioritas nasional.
“Data ini masih data awal dan perlu diverifikasi kembali di lapangan. Kami berharap melalui kerja para relawan pendidikan, anak-anak yang belum terjangkau layanan pendidikan dapat segera terdata dan dikembalikan ke satuan pendidikan, baik formal maupun nonformal,” kata Made.
Sebagai informasi, Program Relawan Pendidikan 2026 berjalan melalui kolaborasi dengan berbagai organisasi mitra dan relawan lokal di 10 kabupaten. Langkah ini menjadi bagian dari penguatan gerakan partisipasi semesta dalam menangani isu ATS di Indonesia. Tahun ini, program tersebut melibatkan sebanyak 261 relawan pendidikan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

