Kala Hati Tertinggal di Baitullah: Kisah Haru Melepas Rindu di Tanah Suci
Pembimbing Haji ESQ Tours Travel Dr. KH Abdul Adzim Irsad saat berada di Baitullah. (Foto: Dok Pribadi for TIMES Indonesia)

Kala Hati Tertinggal di Baitullah: Kisah Haru Melepas Rindu di Tanah Suci

Menjelang kepulangan ke tanah air, getaran kerinduan dan beratnya kaki melangkah meninggalkan Baitullah begitu terasa di sanubari para tamu Allah.

TIMES Jakarta,Minggu 7 Juni 2026, 21:15 WIB
126
A
Ahmad Nuril Fahmi

MAKKAHSuasana haru dan penuh khidmat menyelimuti ribuan jemaah haji Indonesia yang kini tengah bersiap menyelesaikan rangkaian ibadah di Tanah Suci Makkah.

Menjelang kepulangan ke tanah air, getaran kerinduan dan beratnya kaki melangkah meninggalkan Baitullah begitu terasa di sanubari para tamu Allah.

​Pembimbing Haji ESQ Tours Travel, Dr. KH. Abdul Adzim Irsad, mengungkapkan betapa luar biasanya rasa cinta yang ditunjukkan oleh jemaah haji Indonesia terhadap rumah suci ini.

Menurutnya, mereka datang dari tempat yang sangat jauh, menyeberangi lautan dan benua, demi memenuhi panggilan suci yang paling mulia nan indah, yakni panggilan dari Allah SWT.

​"Ketika panggilan suci itu sudah datang, apa pun akan dikorbankan, bahkan harta benda pun akan dijual demi memenuhi undangan mulia tersebut," ujar Dr. KH. Abdul Adzim Irsad dalam catatannya, langsung dari Makkah, Minggu (7/6/2026).

"Itulah bukti nyata dari sebuah cinta sejati seorang hamba kepada Sang Pencipta," sambungnya.

​Pesona Baitullah Mengalahkan Terik Matahari Makkah

​KH. Abdul Adzim menceritakan bagaimana atmosfer spiritual di Kota Makkah mampu menyihir seluruh jemaah.

Begitu menginjakkan kaki di kota suci ini, rasa bahagia, kedamaian, dan ketenteraman seketika merasuk ke dalam jiwa. Keindahan dan keagungan aura Baitullah seolah menghapus segala lelah perjalanan panjang.

​Bahkan, cuaca ekstrem dan terik matahari Makkah yang begitu panas membakar, sama sekali tidak mampu menyurutkan semangat spiritual para jemaah. Ribuan hamba Allah tetap mengalir, berputar mengelilingi Kakbah dalam ibadah tawaf tanpa henti.

​"Terik matahari yang menyengat tidak kuasa menghalangi langkah kaki seorang hamba untuk bertawaf. Sebab, aura spiritual Baitullah terasa jauh lebih sejuk dan menenangkan jiwa dibandingkan panasnya cuaca di luar," ungkap Pembimbing Haji ESQ Tours Travel tersebut.

​Kondisi Masjidilharam yang padat merayap, di mana jutaan manusia dari berbagai suku bangsa dan penjuru dunia saling berdesak-desakan, juga tidak menghentikan langkah kaki jemaah.

Setiap gerakan kaki di pelataran suci itu menjadi begitu sakral karena beriringan dengan untaian tasbih yang terus mengalir.

​"Setiap tetesan keringat yang mengalir deras berubah menjadi untaian tahmid. Dan setiap tetes air mata yang jatuh ke bumi Makkah menjadi bukti cinta sekaligus rindu yang teramat dalam dari seorang hamba kepada Allah SWT," lanjutnya dengan nada bergetar.

​Beratnya Langkah Kaki Meninggalkan Rumah Allah

​Aktivitas ibadah yang dilakukan selama berhari-hari - mulai dari tawaf sunah, ruku', sujud, hingga lantunan pujian mengagungkan nama Allah - telah membuat hati para jemaah melekat erat di sudut-sudut Baitullah.

Rasa enggan untuk berpisah pun mulai membayangi ketika masa tinggal hampir genap sebulan.

​KH. Abdul Adzim merefleksikan, jika bangunan fisik Baitullah yang berwarna hitam saja mampu membuat jutaan hati manusia jatuh cinta setengah mati dan terus merindu, maka sungguh tidak terbayangkan bagaimana keagungan Pemilik rumah suci tersebut.

​Kini, setelah menjadi tamu istimewa Allah dan menikmati hidangan ampunan serta kenikmatan ruhani yang tiada tara, jemaah haji harus bersiap kembali ke tanah air demi keluarga yang sudah menanti.

​"Berat kaki ini melangkah meninggalkan Baitullah. Nuansanya mengingatkan kita pada kisah Nabi Ibrahim AS yang dengan penuh kesedihan harus meninggalkan istri dan putranya, Ismail, di sudut sunyi Baitullah dahulu kala," jelas KH. Abdul Adzim.

​Menutup pesannya, dia berharap ratusan langkah kaki yang mengitari Kakbah setiap hari, tetesan keringat yang membasahi pelataran, serta air mata yang membasahi dinding Kakbah akan menjadi saksi abadi atas ketulusan hati dalam mengabdi pada musim haji tahun ini.

​"Bagi jemaah yang tahun ini berangkat sendiri, semoga tahun depan bisa kembali lagi bersama orang-orang tercinta. Setidaknya, nama-nama mereka sudah kami sebut dan titipkan lewat doa serta munajat di depan pintu Baitullah," kata Pembimbing Haji ESQ Tours Travel ini. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Ahmad Nuril Fahmi
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.