WHO Naikkan Status Risiko Wabah Ebola di Kongo Jadi Sangat Tinggi
Petugas kesehatan dengan alat pelindung diri di tengah wabah Ebola di Mongbwalu, Republik Demokratik Kongo. (FOTO: NBC News)

WHO Naikkan Status Risiko Wabah Ebola di Kongo Jadi Sangat Tinggi

Wabah Ebola di Kongo dan Uganda meluas. Tiga relawan meninggal dunia, sementara aksi pembakaran tenda medis oleh massa menyebabkan 18 pasien kabur.

TIMES Jakarta,Minggu 24 Mei 2026, 10:34 WIB
631
W
Widodo Irianto

JAKARTAWabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda kian meluas. Situasi di lapangan diwarnai kepanikan dan bentrokan antara warga dengan petugas kesehatan, yang berujung pada pembakaran fasilitas perawatan pasien.

Kabar duka terbaru melaporkan tiga relawan Palang Merah meninggal dunia akibat virus ini. Ketiganya diduga tertular saat menjalankan misi kemanusiaan di Kongo pada Maret lalu dan diyakini sebagai salah satu korban pertama dari gelombang wabah kali ini.

Para relawan tersebut diidentifikasi sebagai Alikana Udumusi Augustin, Sezabo Katanabo, dan Ajiko Chandiru Viviane. Viviane meninggal dunia pada 5 Mei, disusul Katanabo pada 15 Mei, dan Augustin pada 16 Mei.

"Pada saat intervensi dilakukan, masyarakat belum menyadari adanya wabah Penyakit Virus Ebola dan wabah tersebut belum teridentifikasi. Mereka termasuk di antara korban pertama yang diketahui dari wabah ini," tulis pernyataan resmi Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), Sabtu (23/5/2026).

IFRC menambahkan bahwa para relawan dari Palang Merah Kongo cabang Mongbwalu, wilayah Djugu, Provinsi Ituri—yang menjadi pusat wabah—diyakini tertular saat mengelola jenazah pada 27 Maret dalam misi yang awalnya tidak terkait dengan Ebola.

"Kami menyampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga, orang-orang terkasih, sesama relawan, dan kolega mereka. Para relawan ini kehilangan nyawa saat melayani masyarakat dengan keberanian dan kemanusiaan," tambah organisasi tersebut.

Hingga saat ini, tercatat ada 750 kasus dugaan Ebola dengan 177 korban jiwa, dan angka ini diperkirakan terus bertambah seiring perluasan pengawasan. Kasus kematian juga telah dilaporkan di negara tetangga Kongo, yaitu Uganda.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan ada dua kasus di Uganda. Namun, pada Minggu (24/5/2026), Kementerian Kesehatan Uganda mengonfirmasi jumlah kasus di negara mereka telah meningkat menjadi lima.

Tiga kasus baru di Uganda mencakup seorang pengemudi yang mengangkut pasien pertama, seorang petugas kesehatan yang terpapar saat merawat pasien tersebut, dan seorang wanita asal Kongo yang memasuki Uganda dengan gejala gangguan perut ringan.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut wabah Ebola di Kongo "sangat mengkhawatirkan."

"Angka-angka itu berubah seiring dengan peningkatan upaya pengawasan dan pengujian laboratorium, tetapi kekerasan dan ketidakamanan menghambat respons tersebut," kata Tedros.

Sejak wabah ini mencuat kembali, bantuan internasional terus mengalir ke Kongo. Mitra regional dan global yang terlibat di antaranya WHO, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS dan Eropa, Dokter Tanpa Batas (MSF), serta Departemen Luar Negeri AS yang telah memobilisasi bantuan luar negeri sebesar 23 juta dolar AS.

Massa Membakar Tenda Perawatan

Di Kongo, ketegangan sosial meningkat setelah warga di Mongbwalu membakar tenda perawatan pasien Ebola. Aksi ini menyebabkan para pasien melarikan diri, termasuk 18 orang yang diduga telah terpapar virus dan hingga kini belum ditemukan.

Bentrokan dipicu oleh penolakan warga terhadap protokol penguburan aman yang diterapkan tim medis. Insiden ini merupakan serangan kedua di wilayah tersebut dalam satu pekan terakhir.

"Menurut laporan awal, tidak ada yang terluka dalam serangan itu. Namun, ketika para pasien berlari menyelamatkan diri dari kebakaran, 18 orang yang diduga terinfeksi Ebola meninggalkan fasilitas dan kini belum diketahui keberadaannya," ujar seorang direktur rumah sakit setempat, Sabtu (23/5/2026).

Direktur Rumah Sakit Mongbwalu, Dr. Richard Lokudi, menjelaskan kepada Associated Press bahwa massa mendatangi klinik pada Jumat malam lalu membakar tenda yang didirikan oleh kelompok kemanusiaan Dokter Tanpa Batas (MSF).

“Kami mengutuk keras tindakan ini karena menimbulkan kepanikan di antara staf dan mengakibatkan 18 kasus suspek melarikan diri ke masyarakat,” kata Dr. Richard.

Sebelumnya pada hari Kamis, sebuah pusat perawatan di kota Rwampara juga dibakar massa setelah anggota keluarga pasien dilarang mengambil jenazah kerabat mereka.

Sebagai informasi, jenazah korban Ebola memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi, terutama ketika dipersiapkan untuk pemakaman tradisional yang melibatkan sentuhan fisik oleh pelayat. Proses pemakaman aman yang dikelola otoritas sering kali memicu protes dari pihak keluarga.

"Pemakaman massal untuk pasien Ebola di Rwampara berlangsung pada hari Sabtu di bawah pengamanan ketat karena ketegangan antara petugas kesehatan dan masyarakat setempat meningkat," kata David Basima, Ketua Tim Palang Merah yang mengawasi jalannya pemakaman.

Aparat tentara dan polisi dikerahkan untuk mengawal jalannya pemakaman, sementara petugas Palang Merah yang mengenakan pakaian pelindung hazmat putih menurunkan peti mati tertutup rapat ke liang lahat. Anggota keluarga hanya diperbolehkan menyaksikan dari kejauhan.

Basima mengakui timnya menghadapi resistensi besar dari kelompok pemuda dan komunitas lokal di lapangan. "Kami terpaksa meminta bantuan pihak berwenang demi keselamatan tim," ujarnya.

Guna menekan laju penyebaran virus, pihak berwenang di Kongo timur laut telah mengeluarkan larangan acara berkabung dan pertemuan yang melibatkan lebih dari 50 orang sejak Jumat.

Melihat eskalasi situasi ini, WHO kini menaikkan status risiko wabah Ebola bagi Kongo menjadi status "sangat tinggi" dari yang sebelumnya berkategori "tinggi". Kendati demikian, risiko penyebaran penyakit ini secara global dinilai masih rendah. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Widodo Irianto
|
Editor:Deasy Mayasari

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.