Jaga Tamu Allah, Strategi Inklusif Petugas Landis Sektor 4 Madinah Kawal Jemaah Haji Lansia
Skema perlindungan dan pendampingan khusus telah diterapkan Tim Landis secara matang sejak fase keberangkatan hingga selesainya puncak haji.
MADINAH – Komitmen tinggi dalam memberikan pelayanan terbaik terus ditunjukkan oleh tim Layanan Lansia dan Disabilitas (Landis) PPIH Arab Saudi demi memastikan para jemaah haji risiko tinggi dapat beribadah dengan aman dan nyaman.
Skema perlindungan dan pendampingan khusus pun telah diterapkan secara matang sejak fase keberangkatan hingga selesainya puncak haji.
Petugas Landis Sektor 4 Madinah, Wahyu Setyo Budi Susilo, memaparkan bahwa operasional pelayanan haji 2026 ini sengaja dirancang ramah bagi jemaah yang memiliki keterbatasan fisik agar esensi ibadah mereka tetap terjaga tanpa mengabaikan faktor keselamatan medis.
“Layanan lansia dan disabilitas tahun ini dilaksanakan melalui pendekatan inclusive accessibility. Prinsipnya, kami tidak bisa memaksakan fisik lansia mengikuti ritme ibadah reguler,” kata Wahyu Setyo Budi Susilo di Madinah.
"Karena itu, berbagai skema layanan disiapkan agar mereka tetap dapat menunaikan ibadah secara sah menurut syariat dan aman secara medis," sambungnya.
Salah satu program unggulan yang diperkuat adalah fasilitas Safari Wukuf bagi jemaah dengan kondisi fisik lemah, di mana prosesi wukuf dikerjakan dari dalam armada bus tanpa harus turun ke tenda terbuka.
Kebijakan ini dipadukan dengan skema murur di Muzdalifah yang sangat efektif untuk memangkas potensi kelelahan ekstrem pada jemaah uzur.
“Selain itu, penerapan skema murur juga dinilai efektif mengurangi kelelahan ekstrem pada jemaah lanjut usia karena mereka tidak perlu turun dan bermalam di Muzdalifah," tutur Wahyu.
Ia menegaskan ketersediaan sarana prasarana seperti kursi roda hingga mobil golf di Mina merupakan instrumen vital untuk menjamin seluruh rukun haji jemaah terselesaikan dengan baik.
Saat bertugas di Posko AdHoc 8 Markaz 78 Mina, tantangan terbesar tim Landis justru terletak pada pendekatan psikologis untuk membendung ambisi jemaah lansia yang nekat melontar jumrah sendiri padahal fisiknya sudah tidak mampu.
“Banyak jemaah lansia yang ingin tetap melaksanakan lempar jumrah sendiri meskipun kondisinya sudah tidak memungkinkan. Tantangan kami adalah mengedukasi secara persuasif bahwa badal jumrah diperbolehkan dalam syariat dan tidak mengurangi kemabruran hajinya,” urai Wahyu.
Edukasi yang lembut namun tegas ini sangat krusial diberikan mengingat keselamatan jiwa jemaah merupakan hal yang paling utama.
Di samping dinamika tugas tersebut, Wahyu membagikan kisah menyentuh saat mendampingi jemaah wanita bernama Odah binti Buhari Lelang (70) dari Kloter JKB 22 yang mengalami patah tulang paha kiri sejak di Arafah.
“Meski mengalami patah tulang dan harus menggunakan kursi roda, ia tidak pernah mengeluh. Dalam kondisi kesakitan, dia justru terus mendoakan anak-cucunya dan mengingatkan kami untuk tetap bersyukur serta bergembira,” kenang Wahyu penuh haru.
Keteguhan mental dari jemaah lansia tersebut memberikan tamparan sekaligus pelajaran berharga bagi para petugas bahwa kekuatan spiritual seorang hamba sering kali melampaui keterbatasan fisiknya.
“Melayani lansia bukan hanya membantu mobilitas mereka. Yang lebih penting adalah menjaga kehormatan dan martabat mereka sebagai tamu Allah yang memiliki semangat ibadah luar biasa,” jelasnya.
Dalam operasional harian, tim Landis selalu bergerak selaras dengan tim kesehatan serta pengurus kloter. Skema penanganan dimulai dari pemantauan oleh petugas kloter, pemeriksaan medis oleh dokter, hingga akhirnya tim Landis mengeksekusi bantuan mobilitas yang dibutuhkan.
“Petugas kloter menjadi pihak pertama yang memantau kondisi jemaah. Setelah dilakukan asesmen oleh tenaga kesehatan, kami di Landis menyiapkan kebutuhan mobilitas dan pendampingan sesuai kondisi masing-masing jemaah,” terangnya.
"Semua dilakukan melalui koordinasi yang terintegrasi agar tidak ada jemaah yang terlewat dari pemantauan," lanjut Wahyu.
Melihat keberhasilan tahun ini, Wahyu berharap sistem istithaah kesehatan jemaah bisa diperketat sejak di tanah air, dibarengi penguatan fasilitas ramah lansia di area rukun haji.
Ia juga menyarankan pentingnya pembekalan ilmu psikologi penanganan lansia dan demensia bagi para petugas masa depan agar pelayanan berjalan semakin ilmiah dan profesional.
“Harapannya, kualitas layanan lansia dan disabilitas terus meningkat sehingga seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, dan memperoleh haji yang mabrur,” tandasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

