Menkes Dorong Pemerataan Layanan Transplantasi Hati
Menkes Budi Gunadi Sadikin menargetkan RS di 34 provinsi mampu melayani transplantasi hati dengan survival rate 90 persen guna menekan tren berobat ke luar negeri.
JAKARTA – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menargetkan lebih banyak rumah sakit di 34 provinsi di Indonesia yang mampu melakukan prosedur transplantasi hati. Langkah ini dibarengi dengan target capaian tingkat kelangsungan hidup (survival rate) pasien sebesar 90 persen.
"Banyak orang-orang Indonesia yang ditransplant, yang terkena, kemudian akhirnya ke luar negeri. Karena saya juga baru tahu, bahwa yang bisa transplant hati itu baru 2 kota, 4 rumah sakit," kata Budi di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Menkes mengungkapkan bahwa prevalensi penyakit hati (liver) secara global tergolong tinggi, bahkan melampaui angka kasus HIV maupun tuberkulosis (TBC). Di tingkat dunia, terdapat sekitar 300 juta orang yang mengidap penyakit hati, dengan angka kematian mencapai dua juta orang setiap tahunnya.
Di Indonesia sendiri, diperkirakan ada sekitar 70 juta orang yang menderita penyakit hati kronis. Kendati demikian, klaim Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk penanganan penyakit ini masih relatif rendah, yakni berkisar di angka Rp1 triliun. Hal tersebut terjadi karena sejumlah layanan medis terkait belum masuk dalam daftar fasilitas yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
"Misalnya kayak transplant hati. Jadi hati itu kalau udah rusak, salah satu caranya harus ditransplant," ujar Menkes.
Untuk mempercepat pemerataan fasilitas, Menkes secara khusus menugaskan Rumah Sakit (RS) Fatmawati Jakarta sebagai pengampu utama. RS Fatmawati diinstruksikan membina rumah sakit di 34 provinsi agar memiliki kompetensi teknis dan infrastruktur dalam menyelenggarakan prosedur transplantasi tersebut.
Selain penguatan kapasitas rumah sakit, Menkes menggarisbawahi dua isu krusial lain yang harus segera diselesaikan, yaitu efisiensi harga obat-obatan di dalam negeri serta penguatan layanan skrining hati di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti Puskesmas. Upaya ini dinilai penting untuk memperkuat tata laksana penanganan penyakit hati sejak dini.
Momen Hari Kesehatan Hati Sedunia 2026 ini juga dimanfaatkan Budi untuk mengingatkan keunikan organ hati yang memiliki kemampuan luar biasa. Ia menganalogikan karakteristik anatomi hati dengan metafora perasaan manusia. Menurutnya, sebagaimana hati kiasan yang bisa kembali bahagia setelah kecewa, organ liver manusia juga memiliki kemampuan unik untuk tumbuh kembali setelah dipotong.
Dengan kemampuan regenerasi alami yang begitu tinggi, Menkes menilai potensi keselamatan pasien dari penyakit ini seharusnya dapat jauh lebih besar.
Guna menjaga kesehatan hati dan mencegah terjadinya kerusakan, Menkes mengimbau masyarakat untuk menjaga pola makan sehat serta aktif bergerak untuk menghindari obesitas. Kondisi obesitas berisiko memicu perlemakan hati (fatty liver) yang dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi kanker. Budi juga mengingatkan bahwa kerusakan hati kronis umumnya dipicu oleh infeksi virus hepatitis B dan C, konsumsi alkohol berlebih, serta obesitas. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

