Iran Bereaksi Keras Atas Tudingan Presiden Lebanon
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei mengatakan agar Presiden Lebanon, Joseph Aoun fokus pada musuh Lebanon yang sebenarnya daripada Iran. (FOTO: Mehr News Agency)

Iran Bereaksi Keras Atas Tudingan Presiden Lebanon

Menlu Iran Abbas Araghchi bereaksi keras atas klaim Presiden Lebanon Joseph Aoun yang menuduh Iran menggunakan Lebanon sebagai alat tawar-menawar dengan AS. Sekjen Hizbullah tolak gencatan senjata selama pendudukan Israel berlanjut.

TIMES Jakarta,Sabtu 6 Juni 2026, 20:47 WIB
270
W
Widodo Irianto

JAKARTAIran bereaksi keras, menuding Presiden Lebanon, Joseph Aoun salah mengidentifikasi sumber tantangan yang dihadapinya dengan menuduh Iran menggunakan Lebanon sebagai alat tawar-menawar dalam negosiasi dengan Amerika Serikat.

Aoun mengklaim bahwa Iran memperlakukan Lebanon sebagai alat tawar-menawar dalam pembicaraannya dengan Amerika Serikat setelah pengumuman kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS antara pemerintah Lebanon dan rezim Israel.

"Kalau Lebanon merupakan alat tawar-menawar bagi Iran, Iran dan Amerika Serikat pasti sudah mencapai kesepakatan sejak lama," tandas Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

Dalam sebuah unggahan di X pada hari Sabtu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei menimpali agar Aoun fokus pada musuh Lebanon yang sebenarnya daripada Iran.

"Dia mengkhianati orang yang berpihak padanya, dan membeli orang yang menentangnya. Dia meninggalkan orang yang mendukungnya, dan berjalan di belakang orang yang mencekiknya,” tulis Baqaei dalam bahasa Arab dalam unggahannya yang dibagikan Sabtu siang tadi.

Selama wawancara dengan CNN, Joseph Aoun  menuduh Iran menggunakan Lebanon sebagai alat tawar-menawar dalam negosiasi dengan Amerika Serikat.

Iran kaget dengan ucapan Aoun itu. Araghchi langsung bereaksi keras atas klaim Aoun tersebut.

"Berdasarkan komentar Bapak Aoun, orang akan mengira bahwa Iran-lah yang telah menduduki seperlima wilayah Lebanon, menggusur seperempat penduduk Lebanon, dan membombardir negaranya setiap hari," kata Araghchi.

"Selamatkan Lebanon dari musuh sejati Anda, Tuan Presiden," tulis menteri luar negeri Iran.

Sementara itu Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem memuji mendiang Imam Khomeini karena telah menginspirasi perlawanan di Lebanon, dan menolak gencatan senjata yang dimediasi AS baru-baru ini dengan rezim Zionis Israel selama pendudukan berlanjut.

Sheikh Qassem mengatakan, hasil negosiasi langsung itu tidak masuk akal, memalukan, dan ditolak di Lebanon, sebagaimana tercermin dalam pernyataan Amerika Serikat yang menguraikan prinsip-prinsip AS-Israel untuk penyerahan Lebanon pada proyek "Israel Raya".

Ia mengingatkan bahwa perlawanan Lebanon terhadap Israel karena terinspirasi oleh pemikiran Imam Khomeini dalam membebaskan tanah air dari pendudukan.

"Kami berterima kasih kepada Iran atas dukungannya terhadap upaya kami untuk merebut kembali tanah kami dan membela hak-hak kami dari agresi Israel-AS, terlepas dari tantangan besar yang dihadapinya, sambil juga berupaya untuk menjaga gencatan senjata dan mengamankan pengakhiran permusuhan secara menyeluruh di Lebanon sebagai bagian dari mengakhiri agresi terhadap Iran," katanya.

"Menjadikan pelucutan senjata kelompok perlawanan sebagai dasar dari setiap kesepakatan berarti melemahkan Lebanon dan mengancam keberadaannya, menggoyahkan stabilitas negara, menabur perpecahan internal demi kepentingan 'Israel', dan memungkinkan Israel untuk mencapai secara politik apa yang gagal dicapai melalui perang," katanya lagi.

Pemimpin Hizbullah mengatakan bahwa gerakan tersebut akan melanjutkan perjuangannya selama pasukan pendudukan Israel masih berada di Lebanon selatan. 

"Selama pendudukan berlanjut, perlawanan akan terus berlangsung. Kami tidak memberikan komitmen kepada siapa pun untuk menghentikan perlawanan dalam menghadapi agresi. Kami akan menghadapi agresi dengan segenap kekuatan," tegasnya.

Nyatanya sampai sekarang, meski sudah ada gencatan senjata, toh  Israel terus melanjutkan serangannya yang tanpa henti terhadap Lebanon.

Pasukan rezim Israel bahkan terus membombardir desa dan kota di seluruh Lebanon selatan, yang secara sistematis menghancurkan rumah, fasilitas umum, dan infrastruktur sipil.

Sejak 2 Maret, serangan Israel telah mengakibatkan kematian 3.526 orang Lebanon dan melukai ribuan lainnya, serta menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi, menurut angka terbaru yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Lebanon. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Widodo Irianto
|
Editor:Faizal R Arief

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.