Arab Saudi Modernisasi Pengelolaan Kurban, Satu Kambing Diproses Hanya 7 Detik
Lembaga Adahi Arab Saudi mengelola 1,2 juta hewan kurban dengan dukungan AI, 1.250 CCTV, dan teknologi pembekuan modern. Daging kurban disalurkan kepada 30 juta penerima manfaat di 27 negara.
MAKKAH – Program pemanfaatan hewan kurban Kerajaan Arab Saudi melalui lembaga Adahi terus melakukan transformasi dalam tata kelola penyembelihan dan distribusi daging kurban. Tidak lagi sekadar mengelola proses pemotongan, Adahi kini mengandalkan teknologi modern untuk memastikan seluruh rangkaian layanan berjalan efisien, higienis, dan tepat sasaran.
Perwakilan Humas Adahi, Talal Abdullah Al Harbi, menjelaskan bahwa sistem yang dijalankan saat ini merupakan hasil pengembangan panjang sejak proyek tersebut diluncurkan pada 1403 Hijriah atas arahan Raja Fahd.
Sebelum program itu hadir, pengelolaan hewan kurban di Arab Saudi masih menghadapi berbagai persoalan, termasuk maraknya penyembelihan ilegal yang menyebabkan banyak daging terbuang dan tidak termanfaatkan secara optimal.
"Dahulu, marak pemotongan ilegal yang mengakibatkan banyak daging terbuang sia-sia atau membusuk karena tidak tertangani dengan baik," ujar Talal ketika menerima kunjungan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Senin (1/6/2026) kemarin.
Kini, Adahi telah menjadi sistem terintegrasi. Sejak tahun 1447 H, seluruh proses pembelian telah masuk ke dalam aplikasi Nusuk, sehingga masyarakat dapat mengakses layanan kurban langsung dari ponsel pintar masing-masing.
Tahun ini, Adahi memproses 1,2 juta ekor kambing, meningkat dari 1 juta ekor pada tahun sebelumnya. Dengan luas lahan hampir 1 juta meter persegi dan 7 lokasi pemotongan, efisiensi menjadi kunci.
"Kami mampu memproses satu ekor kambing hanya dalam waktu 7 detik. Tahun lalu, dalam satu jam pertama setelah salat Iduladha, kami berhasil memproses 27.000 ekor," ungkap Talal.
Untuk menjamin akurasi dan kualitas, Adahi menerapkan standar ketat. Di antaranya penggunaan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) untuk mendeteksi jumlah hewan dan penimbangan dengan akurasi hingga 99 persen.
Sebanyak 1.250 CCTV memantau seluruh area penjagalan selama 84 jam (3,5 hari) penuh pasca Salat Iduladha. Selain itu, pemeriksaan fisik dan medis dilakukan dua kali, pertama oleh dokter hewan di negara asal, dan kedua saat hewan tiba di Jeddah.
Hewan tersebut kemudian dikarantina di kandang selama 2 bulan sebelum disembelih untuk memastikan kondisi kesehatannya.
Untuk menjaga kualitas, Adahi menggunakan teknologi pembekuan ekstrem hingga -80°C yang mampu membekukan daging hanya dalam 30–40 menit.
Daging kemudian dikemas dalam dua bentuk. Yakni daging beku berat 3 kg yang diberi nitrogen agar tetap segar, dengan daya tahan hingga 1 tahun, serta daging kaleng kemasan siap saji seberat 400 gram yang ditujukan bagi wilayah terpencil atau daerah konflik.
Distribusi dilakukan dengan proporsi 60 persen untuk kebutuhan dalam negeri Arab Saudi dan 40 persen untuk luar negeri.
Sejauh ini, manfaat kurban telah dirasakan oleh 30 juta orang di 27 negara, termasuk Palestina, Yaman, dan berbagai negara di Afrika, didukung oleh 700 lembaga dalam negeri.
Komitmen Adahi terhadap efisiensi ditunjukkan dengan prinsip 100 persen pemanfaatan.
Tidak ada bagian hewan yang terbuang. Jeroan dan kotoran dimusnahkan secara teknis melalui proses yang mengubahnya menjadi pupuk.
"Kami memastikan 100 persen daging termanfaatkan, dan limbah dikelola dengan teknologi ramah lingkungan," kata Talal. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

