TIMES JAKARTA, BERAU – Pulau Maratua yang terletak di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menyimpan beragam keunikan, salah satunya adalah kuliner tradisional yang hanya bisa ditemukan di sana, yaitu Tehe-Tehe. Makanan khas Suku Bajau ini menawarkan pengalaman kuliner yang tidak hanya lezat tetapi juga menyuguhkan cerita menarik dibalik cara penyajiannya yang khas.
Makanan Tradisional dengan Penyajian yang Tidak Biasa
Tehe-Tehe merupakan hidangan yang sangat istimewa di Pulau Maratua, bahkan di seluruh Kepulauan Derawan. Keunikannya terletak pada wadah penyajiannya yang menggunakan cangkang bulu babi laut. Meskipun bulu babi dikenal sebagai hewan yang mengandung racun, masyarakat setempat telah terbiasa mengolahnya dengan sangat hati-hati sehingga aman untuk dikonsumsi. Proses pengolahan yang teliti membuat Tehe-Tehe tidak hanya aman, tetapi juga sangat menggugah selera.
Proses Pembuatannya yang Unik
Tehe-Tehe dibuat dari beras ketan putih yang dimasak dengan santan kelapa dan sedikit garam, mirip dengan proses pembuatan ketupat. Bedanya, ketan tersebut bukan dibungkus dengan janur, melainkan dengan cangkang bulu babi yang telah dibersihkan terlebih dahulu. Cangkang bulu babi yang digunakan sebelumnya harus dibersihkan dari pasir dan duri tajam di bagian luarnya.
Setelah cangkang bulu babi bersih, beras ketan yang sudah dicampur santan dimasukkan perlahan-lahan ke dalam cangkang tersebut. Kemudian, Tehe-Tehe dimasak selama sekitar 30 menit hingga matang sempurna. Proses ini tidak hanya memberikan rasa gurih pada hidangan, tetapi juga menambah cita rasa berkat lemak alami dari cangkang bulu babi yang menyerap ke dalam ketan.
Keunikan Visual dan Rasa Tehe-Tehe
Keunikan Tehe-Tehe tidak hanya terletak pada cara penyajiannya, tetapi juga pada tampilannya yang berbeda dari makanan tradisional lainnya. Tehe-Tehe yang dibungkus dengan cangkang bulu babi memiliki tampilan yang memikat dan eksotis. Ketika dimakan, Tehe-Tehe memberikan sensasi kenyal dan lembut di lidah, dengan rasa gurih yang sangat menggoda. Kelezatan hidangan ini semakin terasa berkat kandungan lemak alami yang berasal dari cangkang bulu babi, menjadikannya semakin kaya rasa.
Tradisi dan Keberadaan Bulu Babi di Maratua
Bulu babi biasanya ditemukan di perairan sekitar Pulau Maratua, terutama pada musim angin selatan dan bulan Safar. Pada bulan Safar, masyarakat Suku Bajau sering melaksanakan tradisi mandi safar di laut, yang dipercaya dapat menolak bala. Pada saat ini, mereka juga banyak menemukan bulu babi yang digunakan untuk membuat Tehe-Tehe. Dengan tradisi ini, Tehe-Tehe menjadi lebih dari sekedar makanan, tetapi juga bagian dari budaya dan kebiasaan masyarakat setempat.
Tehe-Tehe adalah contoh sempurna bagaimana makanan tradisional bisa menjadi pengalaman yang tak terlupakan, dengan setiap elemen, dari bahan hingga cara penyajian, menyimpan cerita dan sejarah yang kaya. Jika Anda pernah berkunjung ke Pulau Maratua, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi kuliner yang satu ini! (*)
Pewarta | : Hendarmono Al Sidarto |
Editor | : Hendarmono Al Sidarto |