TIMES JAKARTA, JAKARTA – Nasi uduk dikenal sebagai salah satu kuliner favorit masyarakat, terutama untuk menu sarapan. Rasa gurih dari santan dan lauk pendampingnya membuat hidangan khas Betawi ini digemari lintas usia. Namun, di balik kelezatannya, konsumsi nasi uduk terlalu sering ternyata menyimpan risiko kesehatan.
Dokter spesialis gizi, Johanes Chandrawinata, mengingatkan bahwa kebiasaan mengonsumsi nasi uduk setiap hari dalam jangka panjang dapat memicu kenaikan berat badan hingga gangguan metabolik.
Menurutnya, porsi nasi yang berlebihan masih menjadi kebiasaan banyak orang Indonesia. Konsumsi karbohidrat tinggi tanpa diimbangi aktivitas fisik dan asupan gizi seimbang berpotensi meningkatkan asupan kalori harian secara signifikan.
Lalu, apa saja dampak kesehatan yang bisa muncul jika nasi uduk dikonsumsi terlalu sering? Berikut rangkumannya dari berbagai sumber tepercaya.
1. Berat badan lebih cepat bertambah
Nasi uduk memiliki kandungan kalori yang cukup tinggi. Kalori tidak hanya berasal dari nasi, tetapi juga dari santan serta berbagai lauk pendamping. Dalam satu porsi nasi uduk tanpa lauk saja, kalori bisa mencapai sekitar 150 kalori, dan meningkat hingga 250 kalori atau lebih jika ditambah lauk.
Selain itu, rasa gurih cenderung merangsang nafsu makan, sehingga sulit mengontrol porsi, terutama bagi mereka yang sedang menjaga berat badan.
2. Gula darah berisiko melonjak
Bahan utama nasi uduk adalah nasi putih yang memiliki indeks glikemik relatif tinggi. Artinya, karbohidratnya cepat diubah menjadi gula darah. Jika dikonsumsi terlalu sering, kondisi ini dapat meningkatkan risiko lonjakan gula darah dan berpotensi memicu diabetes tipe 2.
3. Memicu gangguan pencernaan
Santan yang menjadi ciri khas nasi uduk juga dapat memengaruhi sistem pencernaan. Kandungan lemak dan serat tertentu dalam santan bisa meningkatkan produksi gas dan mempercepat pergerakan usus, sehingga berisiko menyebabkan diare jika dikonsumsi berlebihan.
4. Kadar kolesterol meningkat
Santan mengandung lemak jenuh dalam jumlah tinggi. Dalam takaran sekitar 300 mililiter, sebagian besar lemaknya merupakan lemak jenuh yang jika dikonsumsi berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah.
5. Mengganggu keseimbangan bakteri usus
Lauk pendamping nasi uduk seperti gorengan, bihun goreng, atau lauk berbasis minyak lainnya juga patut diwaspadai. Konsumsi makanan berminyak secara berlebihan dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma usus yang berperan penting dalam pencernaan dan sistem imun.
6. Berisiko memicu jerawat
Makanan tinggi lemak dan berindeks glikemik tinggi dapat memicu peradangan serta meningkatkan produksi minyak pada kulit. Kondisi ini berpotensi memperparah masalah jerawat, terutama bagi mereka yang memiliki kulit sensitif.
Dengan memahami berbagai risiko tersebut, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam mengatur pola makan. Nasi uduk tetap boleh dinikmati, namun sebaiknya tidak dikonsumsi setiap hari dan diimbangi dengan sayur, buah, serta sumber protein sehat agar asupan gizi tetap seimbang. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Gurih Menggoda, Ini Risiko Kesehatan Jika Terlalu Sering Makan Nasi Uduk
| Pewarta | : Hendarmono Al Sidarto |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |