Fasya Aura, Penjaga Narasi Budaya Betawi dari Kepulauan Seribu
TIMES Jakarta/None Jakarta Kepulauan Seribu, Fasya Aura. (FOTO: Fasya for TIMES Indonesia)

Fasya Aura, Penjaga Narasi Budaya Betawi dari Kepulauan Seribu

Mahasiswi Universitas Indonesia, Fasya Aura, mempromosikan budaya Betawi melalui literasi dan fashion serta aktif dalam ajang Abang None Jakarta.

TIMES Jakarta,Sabtu 7 Maret 2026, 15:40 WIB
194
W
Wandi Ruswannur

JAKARTALangkah kakinya tegap mencerminkan kepercayaan diri seorang pemudi Jakarta yang tumbuh di tengah hiruk pikuk ibu kota. Fasya Aura, mahasiswi tingkat akhir program studi Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia, kini menjadi sorotan berkat dedikasinya dalam memadukan disiplin ilmu akademis dengan pelestarian budaya.

Gadis berusia 21 tahun ini memandang bahwa identitas sebuah kota tidak hanya terletak pada gedung pencakar langitnya, tetapi juga pada akar tradisi yang terus dirawat. Melalui akun Instagram @fasyauraa, ia kerap membagikan sisi lain dari wajah Jakarta yang penuh warna dan nilai sejarah.

Ketertarikan Fasya pada ajang Abang None Jakarta sebenarnya telah tumbuh sejak lama sebelum ia memutuskan untuk terjun langsung. Baginya, ajang tersebut bukan sekadar panggung untuk menampilkan penampilan fisik, melainkan ruang untuk menunjukkan kualitas intelektual dan karakter.

“Saya melihat adanya keselarasan visi antara disiplin ilmu perpustakaan yang saya pelajari dengan promosi pariwisata, terutama di wilayah Kepulauan Seribu yang masih menyimpan banyak potensi yang belum tereksplorasi secara maksimal,” ujarnya, Sabtu (7/3/2026).

Fasya juga dikenal sebagai penggiat literasi yang membawa advokasi unik dengan menggabungkan pengelolaan informasi dan dunia mode. Ia merasa prihatin karena busana tradisional Betawi kerap dianggap kuno atau hanya digunakan pada acara seremonial.

Karena itu, Fasya ingin mengemas kembali fashion nusantara agar lebih relevan bagi generasi muda tanpa menghilangkan nilai filosofisnya. Ia percaya bahwa motif dan potongan khas Betawi dapat tampil lebih modern dengan sentuhan kreatif.

Keseriusannya terlihat dari konsep pameran busana yang ia rancang. Pameran tersebut tidak hanya menampilkan keindahan pakaian, tetapi juga menghadirkan arsip serta sejarah di balik setiap busana.

Dengan pendekatan ilmu perpustakaan, informasi mengenai asal-usul motif hingga teknik pembuatan bahan akan dikelola secara sistematis agar pengunjung mendapatkan edukasi budaya yang lebih mendalam.

“Gagasan ini diharapkan dapat mengubah cara pandang anak muda terhadap warisan budaya mereka sendiri,” kata Fasya.

Perjalanan Fasya juga dihiasi berbagai prestasi. Ia pernah meraih gelar Wakil 1 None Jakarta Kepulauan Seribu tahun 2024 di bawah naungan Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.

Kemampuannya dalam berbicara di depan publik juga diakui melalui predikat Top 3 Best Public Speaking dalam ajang Abang None Jakarta Kepulauan Seribu setahun kemudian.

Sebelumnya, Fasya juga meraih medali perak Olimpiade Sosiologi Siswa Indonesia tahun 2020 dan 2021, serta menempati posisi keenam dalam Olimpiade Psikologi Universitas Airlangga.

article

Dalam dunia organisasi, ia pernah menjabat sebagai Head of Project Klub Mode Universitas Indonesia tahun 2024 dan aktif menulis isu sosial serta kesehatan mental di platform Jiwa Muda Bicara.

Pengalaman profesionalnya juga cukup beragam. Fasya pernah menjalani magang sebagai staf kearsipan di Kementerian Kesehatan serta bekerja di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB).

Menurut Fasya, tantangan terbesar saat ini adalah menghapus stigma bahwa budaya tradisional sudah tidak relevan bagi generasi muda.

Ia percaya budaya dapat tetap hidup jika dikemas secara kreatif dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Melestarikan budaya tidak harus selalu lewat gerakan besar. Bisa dimulai dari hal sederhana, seperti bangga mengenakan busana nusantara,” tuturnya.

Bagi Fasya, ketika generasi muda mulai melihat budaya sebagai peluang kreatif, di situlah kunci agar tradisi Betawi tetap hidup dan berkembang di tengah modernitas.

Perjalanan Fasya juga tidak lepas dari dukungan keluarga dan teman-teman yang selalu memberikan semangat. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kepulauan Seribu serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang memberi ruang bagi generasi muda untuk berkontribusi.

Kisah Fasya Aura menjadi bukti bahwa di tangan generasi muda, arsip masa lalu dan tren masa depan dapat berjalan beriringan demi menjaga marwah budaya bangsa. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Wandi Ruswannur
|
Editor:Imadudin Muhammad

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.