TIMES Jakarta/Kitab yang menjelaskan bahwa Syekh Ahmad bin Abdul Aziz al Maghribi dianjurkan Nabi Muhammad SAW untuk merokok dalam mimpinya. (Foto: isi kitab Jawahirul Bihar fi Fadla'ilinnabiyyil Mukhtar/TIMES Indonesia)

Kisah mengenai kebolehan merokok di kalangan ulama sufi dan wali Allah merupakan salah satu topik yang menarik untuk didiskusikan. Dalam literatur sufi, ada beberapa pen ...

TIMES Jakarta,Sabtu 14 September 2024, 13:19 WIB
690.3K
Y
Yusuf Arifai

JAKARTAKisah mengenai kebolehan merokok di kalangan ulama sufi dan wali Allah merupakan salah satu topik yang menarik untuk didiskusikan. Dalam literatur sufi, ada beberapa pendapat yang menunjukkan bahwa rokok bukan hanya diterima, tetapi bahkan dianjurkan dalam konteks tertentu oleh tokoh-tokoh besar.

Salah satunya adalah Sidi Abdul-Ghani al-Nabulsi, seorang wali besar dari Syiria, yang dalam kitabnya Muntakhabat al-Tawarikh Lidimasyq, menulis tentang pengalaman spiritualnya dan menyatakan bahwa rokok memiliki rahasia ilahiah. 

Bahkan, ia menggambarkan rasa pahit rokok sebagai sesuatu yang manis. Karyanya yang berjudul al-Ishlah bainal-Ikhwan fi Ibahat Syurb al-Dukhan membahas kebolehan merokok, yang kemudian menjadi perdebatan di kalangan ulama lainnya.

Syekh Sunan Efendi, seorang ulama besar bermazhab Hanafi, pada awalnya menentang keras pandangan Sidi Abdul-Ghani. 

Namun, setelah melalui perdebatan panjang, ia akhirnya menerima pandangan bahwa merokok tidak haram, dan bahkan meminta maaf kepada Sidi Abdul-Ghani. 

Syekh Sunan Efendi kemudian menyatakan bahwa mereka yang mengharamkan rokok adalah zindiq dan jahil, serta tidak memahami rahasia ilahi yang tersembunyi dalam rokok.

Lebih lanjut, dalam kitab Jawahirul-Bihar fi Fadla'ilinnabiyyil-Mukhtar, diceritakan bahwa Syekh Ahmad bin Abdul-Aziz al-Maghribi, seorang wali yang sering bermimpi bertemu Rasulullah SAW, pernah bertanya kepada Nabi Muhammad tentang hukum merokok saat ia sakit. 

Nabi Muhammad SAW tidak menjawab secara langsung, tetapi malah menyuruhnya untuk merokok. 

Kisah ini memperkuat pandangan beberapa ulama bahwa merokok memiliki aspek spiritual yang tidak bisa dicerna oleh logika biasa.

Selain itu, beberapa ulama besar dari Indonesia juga dikenal sebagai perokok, seperti Syeikh Ihsan Jampes dari Kediri, yang merupakan penulis kitab tasawuf terkenal Sirr al-Salikin, serta KH. Abdul Hamid Pasuruan dan KH. Khamim Jazuli (Gus Miek). 

Mereka tidak pernah mengharamkan rokok dan tetap dihormati sebagai wali besar.

Kontroversi seputar merokok ini terus menjadi bahan perdebatan di kalangan ulama, dengan adanya berbagai pendapat yang berbeda mengenai dampak dan hukumnya. 

Meski demikian, cerita-cerita seperti ini menunjukkan bahwa dalam tradisi tasawuf, ada dimensi spiritual yang lebih mendalam terkait dengan praktik-praktik yang di mata masyarakat umum mungkin dianggap sepele, seperti Nabi SAW menyuruh seorang wali besar untuk merokok. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Yusuf Arifai
|
Editor:Imadudin Muhammad

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.