Sejarah Hari Ini: 28 Oktober, Museum Radya Pustaka, Sumpah Pemuda dan Lagu Indonesia Raya
TIMES Jakarta/Diorama di Museum Sumpah Pemuda Jalan Kramat Raya. Pada 28 Oktober 1928, WR Supratman memainkan biola menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam Kongres Pemuda II. (foto: ANTARA/Dewanto Samodro)

Sejarah Hari Ini: 28 Oktober, Museum Radya Pustaka, Sumpah Pemuda dan Lagu Indonesia Raya

Sejarah hari ini mencatat Museum Radya Pustaka Surakarta sebaga museum tertua di Indonesia. Museum yang ada di Solo, Jawa Tengah ini berdiri pada 28 Oktober 1890, era pemerintahan Pakubowono IX.

TIMES Jakarta,Kamis 28 Oktober 2021, 14:26 WIB
1.6M
R
Ratu Bunga Ambar Pratiwi (MG-345)

JAKARTASejarah hari ini mencatat Museum Radya Pustaka Surakarta sebaga museum tertua di Indonesia. Museum yang ada di Solo, Jawa Tengah ini berdiri pada 28 Oktober 1890, era pemerintahan Pakubowono IX. 28 Oktober juga tercatat sebagai peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang merupakan hasil dari Kongres Pemuda II yang digelar di Jakarta pada 27-18 Oktober 1928. Selain pernyataan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 juga menandai momen penting lainnya bagi bangsa Indonesia. Ketika itu, di Kongres Pemuda II untuk kali pertama lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diciptakan oleh komponis W. R. Supratman diperdengarkan.

1890: Museum Radya Pustaka Surakarta Berdiri

article
Museum Radya Pustaka Surakarta sebaga museum tertua di Indonesia. Museum yang ada di Solo, Jawa Tengah ini berdiri pada 28 Oktober 1890, era pemerintahan Pakubowono IX. (Foto: pariwisatasolo.surakarta.go.id)

Museum Radya Pustaka Surakarta merupakan museum tertua di Indonesia. Dikutip dari situs pariwisatasolo.surakarto.go.id, museum ini memiliki berbagai macam koleksi benda sejarah, dari era kerjaan hingga kemerdekaan.

Museum ini dibangun pada masa pemerintahan Pakubowono IX oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV di dalem kepatihan pada tanggal 28 Oktober 1890. Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV pernah menjabat sebagai Patih Pakubuwono IX dan Pakubuwono X.

Museum ini lalu dipindahkan ke lokasinya sekarang ini yaitu di Jalan Slamet Riyadi, Surakarta, pada 1 Januari 1913.

Saat itu gedung museum merupakan rumah kediaman seorang warga Belanda bernama Johannes Busselaar. Ada banyak koleksi yang terdapat di museum ini diantaranya berbagai macam patung, baju adat, wayang kulit, buku dan foto kuno, gamelan dan lainnya.

1928: Sumpah Pemuda dan Lagu Indonesia Raya

article
Teks Sumpah Pemuda yang ada di Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta. (foto: Antara/Widodo S Jusuf)

Sumpah Pemuda merupakan sumpah setia kepada Indonesia. Sumpah Pemuda merupakan hasil rumusan Kongres Kongres Pemuda II, yang dibacakan pada 28 Oktober 1928 di Gedung Indonesische Clubhuis Kramat yang kini diabadikan sebagai Gedung Sumpah Pemuda. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai "Hari Sumpah Pemuda".

Tahun 2021, peringatan Sumpah Pemuda mengambil tema "Bersatu, Bangkit dan Tumbuh". 

Dikutip dari website Kemenpora, tema Hari Sumpah Pemuda ini menggambarkan semnagat persatuan dan kesatuan dalam keberagangan bangsa Indonesia. Selain itu, tema ini juga menjadi spirit partisipasi kaum muda untuk bangkit melawan pandemi Covid-19 yang sudan berlangsung selama hampir dua tahun terakhir.

Selain pembacaan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 juga menandai momen penting lainnya bagi bangsa Indonesia. Ketika itu, di Kongres Pemuda II untuk kali pertama lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diciptakan oleh komponis W. R. Supratman diperdengarkan.

Pada saat itu, surat kabar Sin Po edisi Nvember 1928 menjadi media publikasi yang pertama kali dimana dalam surat kabar tersebut dimuat teks lagu Indonesia Raya. Selanjutnya rekaman lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya dimiliki oleh seorang pengusaha berdarah Tionghoa bernama Yo Kim Tian.

Lagu Indonesia Raya yang dipublikasikan di surat kabar Sin Po, ditulis oleh W. R Supratman dengan tangga nada C (natural) dan dengan catatan “Djangan Terlaloe Tjepat.” Sementara itu pada sumber lainnya,  W. R Supratman menuliskannya dengan tangga nada G (sesuai kemampuan umum orang menyanyi pada rentang a – e) dan dengan irama Marcia.

Kemudian pada tahun 1950, seorang musisi Belanda bernama Jos Cleber mengaransemen lagu Indonesia Raya dan menuliskannya dengan irama Maestoso con bravura (kecepatan metronome 104).

Ia melakukannya setelah menerima permintaan dari Kepala Studio RRI Jakarta saat itu, yaitu Jusuf Ronodipuro. Selanjutnya Cleber pun menyempurnakan aransemennya  setelah ia menerima masukan dari Presiden Soekarno saat itu. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Ratu Bunga Ambar Pratiwi (MG-345)
|
Editor:Wahyu Nurdiyanto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.