TIMES JAKARTA, MALANG – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Peluang serangan militer AS terhadap Iran dinilai masih terbuka lebar, menyusul kedatangan armada perang besar yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln di kawasan Timur Tengah.
Setibanya di wilayah tersebut, armada AS dijadwalkan menggelar latihan militer selama beberapa hari. Latihan ini disebut sebagai upaya peningkatan kesiapan tempur, sekaligus “pemanasan” apabila sewaktu-waktu ada perintah untuk melakukan operasi militer terhadap Iran.
Menurut laporan media internasional, kapal induk USS Abraham Lincoln bersama kapal perang pengiringnya telah memasuki zona tanggung jawab Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM). Armada ini membawa tambahan jet tempur F-35C dan F/A-18 yang memiliki jangkauan serangan hingga jauh ke wilayah Iran.
Selain itu, Amerika Serikat juga dilaporkan mengirimkan ribuan pasukan tambahan ke kawasan tersebut, menyusul ancaman Presiden Donald Trump terhadap Iran terkait kemungkinan eksekusi gantung massal terhadap para pengunjuk rasa.
“Di kawasan itu juga terdapat tiga kapal perusak Angkatan Laut AS yang mampu meluncurkan rudal jelajah Tomahawk,” ujar seorang pejabat pertahanan kepada The Wall Street Journal.
Bersama USS Abraham Lincoln, Amerika Serikat kini memiliki dua kapal perusak di sekitar Selat Hormuz serta tiga kapal tempur lain di Teluk Persia. Kekuatan militer ini mempertegas kesiapan AS untuk memproyeksikan kekuatan di kawasan strategis tersebut.
Terbaru, Angkatan Udara Pusat AS (AFCENT), sebagai komponen udara CENTCOM, mengumumkan akan menggelar latihan kesiapan udara multi-hari di Timur Tengah. Latihan ini bertujuan menunjukkan kemampuan pengerahan, penyebaran, dan pertahanan kekuatan udara tempur AS.
“Latihan tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan penyebaran aset dan personel, memperkuat kemitraan regional, serta mempersiapkan respons yang fleksibel,” demikian pernyataan resmi Angkatan Udara Pusat AS.
Meski tanggal, lokasi, dan aset militer yang terlibat belum diumumkan ke publik, latihan ini dinilai sebagai sinyal kuat kesiapan AS menghadapi eskalasi konflik dengan Iran.
Di sisi lain, meningkatnya ketegangan juga berdampak pada sektor penerbangan. Sejumlah maskapai besar dunia dilaporkan membatalkan atau menangguhkan penerbangan ke wilayah Timur Tengah karena kekhawatiran akan pecahnya konflik bersenjata.
Media Israel melaporkan United Airlines dan Air Canada menangguhkan penerbangan ke Israel. Maskapai Lufthansa dan Swiss Airlines juga membatalkan sejumlah rute ke kawasan Timur Tengah. Maskapai Belanda KLM bahkan menghentikan seluruh penerbangan ke Israel, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Sementara itu, Air France dilaporkan sempat menangguhkan penerbangan ke Dubai sebelum kembali melayani rute tersebut beberapa hari kemudian.
Presiden AS Donald Trump sendiri secara terbuka memuji kehadiran pasukan Amerika di kawasan Timur Tengah. Ia menyebut pengerahan kekuatan tersebut akan segera meredam kekacauan di Iran.
“Kami memiliki armada besar di sebelah Iran. Lebih besar dari Venezuela,” kata Trump, seraya mengancam akan memberikan serangan keras jika Iran mengeksekusi para pengunjuk rasa.
Namun demikian, Trump juga menyatakan masih membuka peluang diplomasi. Ia mengklaim Iran telah beberapa kali menghubungi Washington untuk bernegosiasi.
“Mereka ingin membuat kesepakatan. Mereka menelepon berkali-kali. Mereka ingin bicara,” ujar Trump.
Saat ini, gugus tempur yang dipimpin USS Abraham Lincoln masih bersiaga di lepas pantai Iran dan menggelar latihan militer, sebagai bagian dari kesiapan penuh jika perintah serangan dikeluarkan langsung oleh Presiden Amerika Serikat.(*)
| Pewarta | : Widodo Irianto |
| Editor | : Imadudin Muhammad |