Tajuk Redaksi: Menjaga Harga, Menjaga Khusyuk Ramadan
TIMES Jakarta/Harga bahan pangan di pasar-pasar tradisional sejak pekan kedua Februari 2026 mulai meningkat, salah satunya adalah daging ayam. (Foto: bisnis)

Tajuk Redaksi: Menjaga Harga, Menjaga Khusyuk Ramadan

Ramadan 2026 diwarnai lonjakan harga cabai, ayam, telur hingga Minyakita. Inflasi musiman dan distribusi rapuh picu kecemasan warga, pemerintah dinilai masih reaktif.

TIMES Jakarta,Jumat 20 Februari 2026, 19:40 WIB
1K
H
Hendarmono Al Sidarto

JAKARTARamadan 1447 H/2026 M telah tiba, membawa serta rutinitas ibadah dan tradisi sosial yang melekat erat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Di pasar-pasar tradisional, sejak pekan kedua Februari, geliat permintaan pangan mulai meningkat. Namun, yang turut naik bukan hanya transaksi jual-beli, melain juga harga-harga kebutuhan pokok—sebuah fenomena tahunan yang sayangnya tak kunjung teratasi dengan baik.

Data per 20 Februari 2026 dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) mencatat harga cabai rawit merah secara nasional mencapai Rp76.198 per kilogram, melonjak 33,68 persen di atas Harga Acuan Penjualan (HAP). Di DKI Jakarta, warga harus membayar hingga Rp105.333 per kilogram. Komoditas lain seperti daging ayam ras berada di Rp40.471 per kilogram, bahkan di Boven Digoel, Papua Selatan, menyentuh Rp60.000 per kilogram akibat rantai distribusi yang terputus. Telur ayam ras masih bertengger di Rp30.750 per kilogram secara nasional, dan Minyakita dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), yakni Rp16.020 per liter.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada rumah tangga yang harus memutar otak menyesuaikan belanja harian. Ada ibu-ibu yang mengurangi porsi lauk keluarga demi menekan pengeluaran. Ada pedagang kecil yang omzetnya turun karena pembeli mengurangi kuantitas belanja. Ramadan, yang seharusnya menjadi momentum meningkatkan ibadah dan berbagi, justru berubah menjadi masa penuh kecemasan ekonomi.

Yang menyedihkan, lonjakan harga ini sebenarnya dapat diprediksi. Pakar ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) sejak lama mengingatkan bahwa inflasi musiman Ramadan adalah siklus tahunan yang semestinya diantisipasi lebih awal. Namun, realitas menunjukkan bahwa yang macet bukan hanya pasokan, melainkan juga koordinasi antarlembaga dan distribusi di tingkat hilir.

Di Papua, misalnya, kelangkaan pasokan anak ayam (DOC) akibat penghentian kargo udara oleh maskapai penerbangan baru disadari setelah harga daging ayam melambung. Di Jawa Timur, pemerintah daerah mengakui bahwa stok sebenarnya aman, tetapi harga tetap tinggi karena jaring distribusi yang panjang dan tidak efisien. Sementara itu, realisasi kewajiban pasok domestik (DMO) Minyakita untuk Perum Bulog dan ID Food hingga pertengahan Februari baru mencapai 28,26 persen dari target 35 persen. Menteri Perdagangan hanya bisa mengatakan bahwa proses sedang berjalan—sebuah pernyataan yang tak banyak membantu ibu-ibu yang setiap hari bergelut dengan harga di pasar.

Pemerintah memang telah bergerak. Pasar murah digelar di sejumlah kota, Badan Pangan Nasional berjanji menggelontorkan minimal 2 ton cabai per hari ke pasar induk, dan para bupati serta wali kota diminta turun memantau harga. Namun, langkah-langkah ini masih bersifat reaktif. Operasi pasar dadakan dan pasar murah parsial tidak akan pernah cukup selama sistem distribusi pangan masih rapuh dan praktik spekulasi harga masih dibiarkan.

Ramadan mengajarkan umat Islam untuk menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Tapi, ia tidak pernah mengajarkan untuk menahan cemas akibat harga yang tak wajar. Ketika kebutuhan pokok melambung, energi masyarakat terkuras untuk sekadar bertahan. Ruang untuk beribadah dengan khusyuk menyempit. Yang tadinya bisa menyisihkan uang untuk sedekah, kini harus berpikir ulang. Yang biasa memberi, terpaksa menerima.

Stabilitas harga, pada akhirnya, bukan sekadar urusan ekonomi makro. Ia adalah fondasi ketenteraman sosial dan spiritual. Menjaga harga di pasar berarti menjaga kekhusyukan Ramadan. Pemerintah harus hadir lebih dari sekadar seremoni. Butuh keberanian untuk menindak tegas spekulan yang setiap tahun memanfaatkan momen suci untuk meraup untung berlipat. Butuh inovasi untuk memperpendek rantai distribusi. Dan butuh komitmen bahwa pangan adalah hak dasar, bukan komoditas yang bisa dipermainkan.

Karena Ramadan bukan tentang seberapa mewah hidangan berbuka. Ia tentang seberapa khusyuk hati dalam bersyukur. Dan hati tak akan pernah khusyuk jika perut masih diliputi kecemasan.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Hendarmono Al Sidarto
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.