https://jakarta.times.co.id/
Ekonomi

Iklim Industri Otomotif Tahun 2026 Diprediksi Tak Jauh Beda dengan Sebelumnya

Jumat, 09 Januari 2026 - 21:25
Tantangan Daya Beli di Industri Otomotif Tahun 2026 Sejumlah pengunjung menyaksikan mobil yang dipamerkan pada pameran otomotif GAIKINDO Jakarta Auto Week 2025. (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/foc)

TIMES JAKARTA, JAKARTA – Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, memprediksi bahwa iklim industri otomotif pada tahun 2026 tidak akan jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Masalah struktural masih menjadi beban utama bagi pertumbuhan pasar kendaraan di tanah air.

“Tantangan di tahun 2026 di semester-1 memang masih mirip dengan 2025 dari sisi akar masalah struktural, seperti daya beli yang masih lemah akibat inflasi sekitar 3 ke 4 persen dan penyusutan middle class kita yang jadi motor utama penggerak sales sebesar 16,6 persen sejak 2019,” kata Yannes Martinus Pasaribu, Jumat (9/1/2026).

Kebijakan Pemerintah dan Fenomena Wait and See

Yannes menyoroti bahwa lemahnya angka penjualan kendaraan baru pada 2026 dipicu oleh kebijakan pemerintah yang dinilai masih belum pasti. Hal ini menciptakan keraguan di masyarakat untuk melakukan transaksi di dealer.

Salah satu poin krusial adalah adanya fiscal cliff atau berakhirnya masa berlaku insentif fiskal tertentu yang berdampak langsung pada harga jual, terutama untuk kendaraan listrik (EV).

“Tekanannya akan lebih tajam di sisi kebijakan dan harga karena ada fiscal cliff yakni berakhirnya insentif impor CBU per 1 Januari 2026. Yang jelas, berpotensi menaikkan harga EV sampai dengan 40 persen ke atas dan memicu efek wait and see dari konsumen,” ucap Yannes.

Meski dibayangi tantangan, peluang untuk bangkit tetap terbuka lebar. Menurut Yannes, kinerja penjualan di akhir semester pertama 2026 akan menjadi indikator penentu untuk tren di semester berikutnya.

“Jadi, peluang kebangkitan kembali tetap ada bila keuangan dan sentimen konsumen membaik,” tegasnya.

Jika Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) masih mematok target yang sama pada tahun lalu, yakni 900 ribu unit dan harus mendapat revisi menjadi 780 ribu di akhir tahun 2025, industri otomotif roda empat ini memiliki batu loncatan yang cukup tinggi untuk bisa mencapai hal tersebut.

Dia melanjutkan bahwa syarat pertama yang harus dilakukan adalah memenuhi pertumbuhan ekonomi makro semester-1 yang wajib mencapai 5,4 persen. Syarat kedua adalah pertumbuhan yang terjadi di kalangan middle income class yang ada di Indonesia.

Syarat lain yang dapat meningkatkan penjualan otomotif pada tahun ini adalah perusahaan pembiayaan yang masih menjadi jantung utama dalam pembelian kendaraan, sehingga mereka diharapkan dapat memberikan kelonggaran untuk nasabah.

“Kredit otomotif harus tetap longgar dengan suku bunga yang tidak naik tajam dengan inflasi serta kurs yang terkendali,” ujar dia.

Sebagai perbandingan, Gaikindo mencatat performa industri sepanjang tahun 2025 dengan angka wholesales sebesar 803.687 unit. Sementara itu, penjualan ritel (dari dealer ke konsumen) menunjukkan angka yang lebih positif, yakni mencapai 833.692 unit. (*)

Pewarta : Antara
Editor : Deasy Mayasari
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jakarta just now

Welcome to TIMES Jakarta

TIMES Jakarta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.