Berbagi di Bulan Ramadan
Berbagi di bulan Ramadan bukan sekadar memberi. Ia adalah cara manusia membuktikan bahwa dirinya masih punya nurani.
JAKARTA – Ramadan selalu datang membawa dua wajah sekaligus: wajah lapar dan wajah harapan. Di siang hari, perut kita kosong. Tetapi justru pada kekosongan itulah hati sering terasa penuh. Penuh kesadaran, penuh kepekaan, dan penuh dorongan untuk berbagi. Seolah Ramadan ingin mengajari manusia satu pelajaran penting: bahwa hidup bukan hanya soal apa yang kita miliki, tetapi tentang apa yang bisa kita berikan.
Berbagi di bulan Ramadan bukan sekadar kebiasaan sosial, apalagi hanya tradisi tahunan yang dilakukan agar terlihat baik di mata orang lain. Ia adalah bentuk ibadah yang paling konkret. Jika salat menghubungkan manusia dengan Tuhan, maka berbagi menghubungkan manusia dengan manusia. Dan Ramadan, dengan segala atmosfer religiusnya, menjadi panggung terbaik untuk membuktikan bahwa iman tidak berhenti di sajadah, tetapi juga harus berjalan di jalanan.
Puasa sendiri adalah pelajaran yang keras namun elegan. Ia menahan kita dari sesuatu yang halal demi melatih kesadaran batin. Kita dilarang makan dan minum, bukan karena makanan itu haram, melainkan karena kita sedang dilatih menjadi manusia yang mampu mengendalikan diri.
Di titik ini, puasa sebenarnya bukan soal lapar, melainkan soal empati. Ketika kita merasakan haus, kita dipaksa mengingat bahwa di luar sana ada orang yang haus setiap hari, bukan karena ibadah, tetapi karena tidak punya pilihan.
Maka berbagi di bulan Ramadan sejatinya adalah lanjutan logis dari puasa. Ia seperti kelanjutan kalimat yang tidak boleh terputus. Puasa tanpa berbagi hanya akan melahirkan kesalehan yang egois. Ia seperti orang yang rajin menanam bunga di rumahnya, tetapi membiarkan tetangganya hidup dalam bau sampah. Indah, tapi tidak adil. Mulia, tapi belum tuntas.
Dalam Islam, berbagi bukan sekadar sedekah, tetapi juga cara menyucikan diri. Zakat fitrah misalnya, adalah kewajiban yang diletakkan tepat di ujung Ramadan. Pesannya jelas: kemenangan Idulfitri tidak sah jika ada orang yang masih menangis karena tak punya apa-apa. Lebaran bukan hanya soal baju baru dan ketupat, tetapi soal memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal dalam pesta kebahagiaan.
Namun menariknya, berbagi di bulan Ramadan hari ini sering mengalami pergeseran makna. Banyak orang berlomba-lomba membagi takjil, membagikan sembako, membangun kegiatan sosial, tetapi terkadang niatnya bercampur dengan kebutuhan untuk tampil. Di zaman digital, sedekah pun bisa berubah menjadi konten. Kebaikan menjadi materi promosi. Kamera lebih dulu menyala sebelum tangan memberi.
Ini bukan berarti berbagi harus selalu sunyi. Tidak. Kebaikan yang terlihat bisa menginspirasi. Tetapi kita harus jujur pada diri sendiri: apakah kita berbagi untuk mengangkat orang lain, atau untuk mengangkat citra diri? Ramadan sering menjadi cermin. Ia memperlihatkan mana kebaikan yang lahir dari hati, dan mana yang hanya lahir dari strategi.
Berbagi yang paling tinggi bukan sekadar memberi makanan, tetapi memberi martabat. Sebab kemiskinan bukan hanya soal kurangnya uang, tetapi juga tentang seringnya seseorang dipaksa menelan rasa malu. Banyak orang miskin yang tidak butuh dikasihani, mereka hanya butuh diberi kesempatan. Mereka tidak meminta dilihat, mereka hanya ingin dihargai.
Karena itu, berbagi di bulan Ramadan seharusnya naik kelas. Tidak berhenti pada bagi-bagi takjil yang selesai dalam lima menit, tetapi meluas menjadi gerakan sosial yang berdampak panjang.
Jika kita memberi makan hari ini, itu baik. Tetapi jika kita membantu seseorang punya penghasilan esok hari, itu jauh lebih mulia. Ramadan mengajarkan bahwa sedekah bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tetapi juga untuk menguatkan masa depan.
Kita perlu mengakui, masih banyak orang yang hidupnya jauh dari kemewahan Ramadan yang sering dipamerkan. Di kota-kota besar, meja buka puasa penuh makanan, tetapi di sudut lain ada pekerja yang hanya mampu membeli air putih dan nasi bungkus.
Di kampung-kampung, ada ibu-ibu yang menahan lapar bukan karena puasa, melainkan karena dapur tidak lagi punya bahan. Ada anak-anak yang menunggu buka puasa dengan mata berbinar, bukan karena takjil yang manis, tetapi karena berharap hari itu ada tetangga yang mengirim makanan.
Ramadan datang bukan untuk menghibur orang kaya dengan menu buka puasa yang semakin kreatif. Ramadan hadir untuk mengguncang kesadaran manusia: bahwa hidup ini tidak adil jika kita hanya sibuk kenyang sendiri. Puasa adalah alarm moral, sedekah adalah tindakan nyata setelah alarm itu berbunyi.
Berbagi juga bukan melulu soal uang. Kadang orang lupa, berbagi bisa dalam bentuk waktu, tenaga, dan perhatian. Mengantar tetangga yang sakit ke rumah sakit, membantu anak yatim belajar, menghibur orang tua yang kesepian, atau sekadar mendengar keluh kesah orang lain itu semua bentuk sedekah yang sering diremehkan. Bahkan senyum pun disebut sedekah. Islam sangat kaya dalam mendefinisikan kebaikan, karena ia tahu manusia tidak selalu kaya harta, tetapi setiap orang bisa kaya hati.
Di bulan Ramadan, kita seperti diajak berlatih menjadi manusia yang lebih peka. Kita belajar bahwa rezeki tidak selalu berbentuk uang, tetapi juga kesempatan untuk berbuat baik. Sebab tidak semua orang diberi kesempatan untuk memberi. Ada orang yang ingin berbagi, tetapi dirinya sendiri masih berjuang. Maka ketika kita punya kemampuan untuk memberi, itu sebenarnya bukan semata prestasi, tetapi amanah.
Ramadan mengajarkan bahwa tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Tetapi yang sering dilupakan adalah: tangan di atas harus tetap rendah hati. Berbagi bukan panggung untuk merasa hebat. Ia adalah pengingat bahwa hidup ini hanya titipan. Hari ini kita memberi, besok bisa jadi kita yang membutuhkan.
Pada akhirnya, berbagi di bulan Ramadan adalah cara paling indah untuk membumikan nilai agama. Ia menjadikan iman tidak hanya berputar di kepala, tetapi mengalir ke masyarakat. Ia menjadikan Islam bukan hanya identitas, tetapi energi sosial.
Sebab Ramadan yang sejati bukan diukur dari berapa kali kita khatam Al-Qur’an atau seberapa panjang doa yang kita baca, tetapi seberapa besar hati kita berubah. Jika setelah Ramadan kita masih egois, masih cuek pada penderitaan sekitar, maka puasa hanya menjadi ritual kosong. Tetapi jika Ramadan membuat kita lebih ringan tangan, lebih lembut hati, dan lebih peduli pada sesama, maka di situlah kita benar-benar menang.
Karena berbagi di bulan Ramadan bukan sekadar memberi. Ia adalah cara manusia membuktikan bahwa dirinya masih punya nurani. Dan nurani itulah yang membuat sebuah bangsa tetap hidup, tetap hangat, dan tetap punya harapan.
***
*) Oleh : Muhammad Hilman Mufidi, Anggota DPR RI Komisi X Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




