https://jakarta.times.co.id/
Opini

Menjahit Kembali Makna Ramadan

Minggu, 25 Januari 2026 - 14:27
Menjahit Kembali Makna Ramadan Muhammad Hilman Mufidi, Anggota DPR RI Komisi X Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa.

TIMES JAKARTA, JAKARTA – Ramadan selalu datang seperti tamu agung yang tak membawa koper, tetapi mengangkut banyak cermin. Ia tidak mengetuk pintu dengan gaduh, namun kehadirannya cukup membuat manusia menoleh ke dalam diri. 

Di bulan inilah banyak orang dipaksa berhenti sejenak dari lalu lintas ambisi, menepi dari kemacetan nafsu, lalu bertanya diam-diam: sejauh apa hidup telah berjalan, dan seberapa lurus arah yang ditempuh.

Setiap tahun Ramadan disambut dengan baliho, jadwal imsakiah, serta iklan sirup yang lebih meriah dari pesta pernikahan. Namun persiapan terpenting bukan terletak di etalase toko, melainkan di ruang sunyi bernama hati. Puasa bukan sekadar lomba menahan lapar, melainkan latihan panjang mengatur arah hidup. 

Mempersiapkan Ramadan seharusnya seperti membersihkan rumah sebelum tamu datang, bukan hanya menyapu lantai, tetapi juga mengangkat debu yang bersembunyi di bawah karpet. Niat diluruskan, tujuan ditata, dan ruang batin dikosongkan dari dendam yang menumpuk seperti barang usang di gudang kenangan.

Ramadan tahun lalu tentu meninggalkan jejak berbeda bagi setiap orang. Ada yang meraihnya sebagai bulan pertobatan, ada yang sekadar mengingatnya sebagai musim diskon dan agenda buka bersama. Ada yang pulang dengan hati lebih ringan, ada pula yang kembali dengan jiwa tetap berat oleh iri dan amarah. 

Refleksi menjadi penting, sebab Ramadan bukan kalender yang boleh dirobek begitu saja setelah Idulfitri. Ia adalah cermin yang seharusnya dibawa pulang, bukan dipecahkan. 

Jika tahun lalu rajin salat tetapi masih gemar memaki, rajin sedekah tetapi tetap lihai menipu, rajin mengaji tetapi ringan menyakiti, boleh jadi puasa hanya menjelma diet spiritual: tubuh kurus, tetapi hati tetap gemuk oleh dosa.

Ramadan mengajarkan bahwa lapar adalah bahasa paling jujur tentang kemanusiaan. Saat perut kosong, manusia baru mengerti arti cukup. Saat tenggorokan kering, manusia mulai paham makna seteguk empati. Di situlah puasa bekerja, meruntuhkan menara kesombongan dan menyederhanakan manusia menjadi makhluk rapuh yang sama-sama membutuhkan belas kasih. 

Lapar bukan sekadar sensasi fisik, melainkan pelajaran sunyi tentang batas, tentang keinginan yang harus dikendalikan, dan tentang hak orang lain yang sering dilupakan ketika perut kenyang.

Bagi pedagang kecil di pasar, Ramadan adalah musim harapan sekaligus ujian. Dagangan laris, tetapi godaan menipu timbangan ikut naik harga. Bagi buruh, Ramadan adalah bulan menahan letih sambil mengejar pahala. Bagi pejabat, ia seharusnya menjadi rem tangan bagi keserakahan. Bagi anak muda, Ramadan menjadi sekolah sunyi untuk belajar bahwa hidup bukan hanya tentang viral dan popularitas, tetapi juga tentang nilai dan tanggung jawab. 

Bulan ini tidak memilih kelas sosial. Ia datang ke rumah petak maupun istana, ke gang sempit maupun gedung bertingkat, menyapa yang kaya dan miskin dengan nada yang sama: rendahkan hatimu, tinggikan akhlakmu.

Sayangnya, Ramadan sering dipenjarakan di masjid dan sajadah. Banyak orang rajin membaca kitab suci, tetapi malas membaca penderitaan tetangga. Doa diperpanjang, tetapi toleransi dipendekkan. 

Lapar ditahan, tetapi lidah dibiarkan menjadi pisau yang melukai sesama. Padahal Ramadan adalah universitas karakter, tempat manusia belajar disiplin tanpa seragam, jujur tanpa kamera, dan berempati tanpa panggung. Ia melatih manusia menjadi lebih manusiawi, bukan hanya lebih religius secara administratif.

Karena itu, mempersiapkan Ramadan seharusnya tidak berhenti pada stok kurma dan sirup. Yang lebih penting adalah menyiapkan telinga agar lebih sabar mendengar, tangan agar lebih ringan membantu, dan lisan agar lebih hemat menyakiti. 

Kita perlu menyiapkan diri untuk kalah oleh ego, bukan menang atas sesama. Ramadan bukan ajang pamer kesalehan, melainkan latihan mengalahkan diri sendiri yang paling keras kepala.

Jika Ramadan diibaratkan hujan, maka diri kitalah tanahnya. Ada tanah yang langsung subur, ada pula yang hanya basah sebentar lalu kembali retak. Hujannya sama, tetapi kesiapan tanahnya berbeda. 

Ada hati yang benar-benar tumbuh, ada yang sekadar lembap sesaat lalu kembali kering oleh kesombongan lama. Di sinilah kejujuran diuji: apakah puasa benar-benar mengubah, atau hanya menghias.

Ramadan juga seharusnya menjadi bulan rekonsiliasi sunyi di tengah masyarakat yang sering gaduh oleh perbedaan. Ketika polarisasi politik masih menyisakan luka dan media sosial ramai oleh pertengkaran digital, puasa datang sebagai tombol jeda. Ia mengajarkan bahwa diam kadang lebih mulia daripada menang debat, dan menahan diri lebih berharga daripada menambah musuh.

Ramadan bukan tentang seberapa sering seseorang terlihat saleh, tetapi seberapa konsisten ia menjadi baik setelah bulan itu pergi. Ia bukan tentang pakaian baru di hari raya, melainkan tentang hati baru yang lahir dari rahim kesabaran. 

Tahun ini, sudah semestinya Ramadan disambut bukan sekadar sebagai tradisi tahunan, tetapi sebagai kesempatan perbaikan massal, kesempatan memperbaiki hubungan dengan Tuhan, dengan manusia, dan dengan diri sendiri. Sebab Ramadan tidak datang untuk mengubah kalender, melainkan untuk mengubah kita.

 

***

*) Oleh : Muhammad Hilman Mufidi, Anggota DPR RI Komisi X Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jakarta just now

Welcome to TIMES Jakarta

TIMES Jakarta is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.