Distraksi Digital Ramadan
TIMES Jakarta/Muhammad Hilman Mufidi, Anggota DPR RI Komisi X Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa.

Distraksi Digital Ramadan

Jika penyiaran digital Ramadan hanya berhenti pada angka penonton dan tren viral, ia akan menjadi festival musiman. Tetapi jika ia mampu menumbuhkan kesadaran dan perubahan nyata, maka teknologi benar-benar menjadi wasilah kebaikan.

TIMES Jakarta,Minggu 22 Februari 2026, 18:21 WIB
462
H
Hainor Rahman

JakartaRamadan hari ini tidak lagi hanya hadir di masjid dan ruang keluarga. Ia juga hidup di layar di ponsel, televisi pintar, kanal YouTube, podcast, hingga siaran langsung di berbagai platform digital. 

Ceramah bisa diputar ulang kapan saja. Kajian bisa diakses dari mana saja. Azan dan tilawah mengalun dari speaker kecil di genggaman tangan. Penyiaran digital telah mengubah wajah Ramadan menjadi lebih luas, lebih cepat, dan lebih terhubung.

Di satu sisi, ini kabar baik. Dakwah tidak lagi terbatas ruang dan waktu. Ustaz di kota kecil bisa didengar hingga ke luar negeri. Remaja yang jarang datang ke masjid bisa tetap mengikuti kajian lewat streaming. Ibu rumah tangga bisa belajar tafsir sambil menyiapkan sahur. Digitalisasi membuka pintu inklusivitas.

Namun di sisi lain, Ramadan juga berhadapan dengan tantangan baru: derasnya distraksi. Di sela-sela kajian daring, notifikasi masuk tanpa jeda. Setelah menonton ceramah, algoritma menawarkan video hiburan yang tak ada hubungannya dengan refleksi spiritual. Niat awal mencari ilmu bisa bergeser menjadi sekadar scroll tanpa arah.

Penyiaran digital Ramadan berada di persimpangan. Ia bisa menjadi jembatan penguat iman, tetapi juga bisa berubah menjadi panggung sensasi. Kita menyaksikan bagaimana konten keagamaan bersaing dalam logika jumlah penonton, klik, dan tren. Judul dibuat bombastis agar viral. Potongan ceramah dipilih yang paling kontroversial agar ramai dibagikan. Substansi kadang kalah oleh strategi perhatian.

Di era rating dan engagement, dakwah berisiko terjebak dalam industri perhatian. Penceramah bukan hanya dituntut mendalam secara keilmuan, tetapi juga menarik secara visual. Setting studio dibuat megah, grafis dipoles, musik latar ditambahkan. Tidak ada yang salah dengan kemasan yang baik. Tetapi ketika kemasan lebih dominan daripada isi, pesan Ramadan bisa tereduksi menjadi tontonan semata.

Lebih jauh lagi, penyiaran digital juga memunculkan fenomena fragmentasi otoritas. Siapa pun bisa berbicara atas nama agama. Potongan ayat dan hadis beredar tanpa konteks. Pendapat pribadi mudah diklaim sebagai kebenaran mutlak. Publik yang tidak memiliki bekal literasi keagamaan yang cukup bisa bingung membedakan mana rujukan yang kredibel dan mana yang sekadar opini.

Ramadan yang seharusnya menjadi bulan ketenangan justru kadang dipenuhi perdebatan digital. Timeline media sosial ramai dengan perbandingan mazhab, perbedaan metode ibadah, bahkan saling sindir antarpendukung tokoh. Alih-alih menyejukkan, penyiaran digital bisa memanaskan ruang publik jika tidak dikelola dengan bijak.

Namun bukan berarti kita harus mundur dari ruang digital. Justru sebaliknya, ruang itu harus diisi dengan konten yang mencerahkan dan bertanggung jawab. Lembaga penyiaran, kreator konten, dan tokoh agama memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa pesan Ramadan tidak kehilangan kedalaman.

Penyiaran digital Ramadan seharusnya tidak hanya fokus pada seremoni dan euforia. Ia perlu memberi ruang pada refleksi, pada dialog yang sehat, pada edukasi yang membumi. 

Konten yang menjawab persoalan nyata masyarakat tentang etika bermedia, tentang kepedulian sosial, tentang lingkungan, tentang keadilan akan membuat Ramadan terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Di sisi audiens, kita pun dituntut lebih selektif. Tidak semua konten yang berlabel Ramadan otomatis membawa kebaikan. Kita perlu memilah sumber, memeriksa kredibilitas, dan mengatur waktu konsumsi digital. Jangan sampai waktu sahur habis untuk scrolling yang tak perlu. Jangan sampai malam-malam Ramadan lebih banyak diisi tontonan daripada perenungan.

Ada satu hal yang tidak boleh hilang dalam penyiaran digital Ramadan: adab. Baik adab dalam berbicara, dalam menyampaikan kritik, maupun dalam menyikapi perbedaan. Ruang digital sering kali terasa anonim, sehingga orang mudah berkata kasar. Ramadan mestinya menjadi rem moral. Jika puasa melatih lisan di dunia nyata, ia juga harus melatih jari di dunia maya.

Penyiaran digital juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas. Masjid bisa menyiarkan kajian secara langsung agar menjangkau jamaah yang sakit atau jauh. Sekolah dan kampus bisa membuat konten edukatif bertema Ramadan. Komunitas bisa menggalang donasi secara transparan melalui platform digital. Teknologi pada dasarnya netral; manusialah yang menentukan arahnya.

Kita tidak bisa memutar waktu ke era analog. Dunia sudah berubah. Generasi muda tumbuh bersama layar. Jika dakwah tidak hadir di sana, ia akan tertinggal. Tetapi kehadiran itu harus membawa kualitas, bukan sekadar kuantitas.

Ramadan adalah bulan kontemplasi. Penyiaran digital seharusnya menjadi sarana memperluas cahaya, bukan memperbanyak kebisingan. Ia harus membantu orang mendekat, bukan justru membuat lelah oleh banjir konten.

Pertanyaan pentingnya bukan apakah kita menonton banyak konten Ramadan, tetapi apakah konten itu mengubah kita. Apakah setelah sebulan terpapar ceramah dan kajian digital, hati kita lebih lembut? Apakah perilaku kita lebih baik? Apakah empati kita bertambah?

Jika penyiaran digital Ramadan hanya berhenti pada angka penonton dan tren viral, ia akan menjadi festival musiman. Tetapi jika ia mampu menumbuhkan kesadaran dan perubahan nyata, maka teknologi benar-benar menjadi wasilah kebaikan.

Di tengah derasnya arus informasi, kita membutuhkan kompas. Ramadan sudah memberi arah. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan ruang digital dengan bijak menjadikannya jendela ilmu, bukan sekadar layar hiburan.

Karena pada akhirnya, yang terpenting bukan seberapa banyak konten yang kita tonton, tetapi seberapa dalam makna yang kita serap. Dan Ramadan selalu mengajarkan: kualitas lebih utama daripada sekadar ramai.

***

*) Oleh : Muhammad Hilman Mufidi, Anggota DPR RI Komisi X Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Hainor Rahman
|
Editor:Hainorrahman

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jakarta, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.